Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Meeting Friend (Part 1)


__ADS_3

Raina mengendarai motor matic nya dengan kecepatan sedang, mencoba menikmati angin magrib yang menyejukkan. Hari ini hari yang cukup berat baginya, di terpa gosip konyol, kemudian berita duka tentang kakek Alfa. Meskipun begitu rasa syukur selalu terucap dari bibir merah mudanya.


Dengan bersyukur luka dan kesedihan tidak akan bertahan lama, karena Raina tahu semuanya datang dari Allah dan akan kembali pula padanya.


"Neng Raina sudah pulang?" Sapa mang Cecep penjaga rumah yang selalu bersikap ramah setiap kali bertemu dengan Raina.


"Ia, mang." Balas Raina singkat, wajahnya menyunggingkan seyum tipis.


"Apa non Raina butuh bantuan? Saya akan bawakan barang itu." Tunjuk mang Cecep pada kotak yang ada di tangan Raina.


"Terimakasi, mang." Raina menyodorkan kotak pemberian kakek Alfa pada mang Cecep. Setelah mang Cecep menghilang di balik dinding rumah megah itu, Raina memutuskan duduk di bangku taman.


Ketenangan yang ia rindukan mulai menelusuf masuk kedalam hatinya, bersamaan dengan angin sepoi-sepoi yang mulai membelai wajah ayu nya. Raina menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskan kasar dari bibirnya. Tanpa ia sadari, sepasang mata mengamati setiap tingkahnya.


"Apa kamu sedang protes karena itu kamu tidak masuk rumah?"


"Ti... Tidaak, pak." Ucap Raina gugup. Di kejutkan suara Sawn yang entah datang dari mana.


"Bagaimana perasaan mu? Apa kamu masih memikirkan kejadian tadi pagi?"


Raina menatap Sawn dengan tatapan tajam, seolah tak percaya lelaki di depannya perduli pada perasaannya.


*Ada apa dengan laki-laki ini, apa dia salah makan? Biasanya dia tidak peka. Aku rasa ini peringatan sebelum perang. Sebelum kemarahan*nya meledak, lebih baik aku pergi. Gumam Raina sembari bersiap bangun dari tempat duduknya.


"Maafkan aku." Sawn memilih duduk di banggu depan Raina, mereka duduk saling berhadapan.


Bleekkk!


Tubuh Raina bagai tersengat listrik, laki-laki yang biasanya berteriak kasar padanya malam ini meminta maaf. Dan tentu saja itu membuatnya merasa aneh, takut sekaligus gugup bercampur menjadi satu.


"Maaf karena aku berteriak padamu. Dan maaf karena memaksamu tinggal bersamaku." Ucap Sawn lagi, kali ini ia tulus mengatakan itu.


Apa aku tidak salah dengar? Raina mencubit tangannya tak percaya. Aahhh! Ia meringis kesakitan.


"Ada apa?" Sawn melirik Raina yang masih meringis kesakitan.


"Ti..tidak apa-apa pak." Balasnya cepat.

__ADS_1


"Apa kamu masih takut padaku?"


Apa laki-laki ini serius bertanya padaku? Jika aku menjawab ia, dia pasti akan kecewa. Jika aku menjawab tidak, itu tidak benar. Gumam Raina sembari mengatur deru nafasnya agar tidak ketahuan sedang gugup.


"Apa aku harus jujur?"


"Tentu saja." Jawab Sawn pelan.


"Sebenarnya, kemarahan bapak pada pertemuan pertama kita masih membekas di benak ku. Raut wajah bapak ketika berteriak, aku masih mengingat segalanya. Ingatan tentang hal buruk tidak mudah untuk melupakannya, dan hal itu membuatku kesal."


Sawn hanya bisa menghela nafas kasar, jawaban Raina bukanlah jawaban yang ingin di dengarnya.


"Oohh... Ternyata selama ini aku membuatmu kesal. Aku yakin setiap kali melihat wajahku kamu pasti mengutuk ku."


"Bapak tidak perlu khawatir, aku bukan orang seperti itu. Aku tidak akan mengutuk anda walau dalam mimpi sekalipun." Balas Raina dengan nada suara meyakinkan.


Tidak ada lagi percakapan di antara Sawn dan Raina, keduanya diam seribu bahasa di antara senyapnya udara. Sesekali Sawn menatap wajah gadis di depannya, semuanya tetap sama. Wajah itu merunduk atau terkadang melempar pandangannya kearah lain.


Apa ini sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak melihat lawan bicaranya, atau hanya padaku saja. Lirih Sawn dalam diamnya.


"Apa aku boleh bertanya?" Ucap Sawn sembari melipat tangan di depan dada.


Raina menyadari ia hidup di zaman moderen, zaman dimana lelaki dan wanita bisa saling peluk dan cium tanpa ada ikatan, namun pantang bagi seorang Raina Salsadila melewati garis itu, biarkan semua orang mencaci dan memakinya karena di anggap ketinggalan zaman. Karena baginya tidak perlu menjadi moderen jika itu menentang keyakinan yang di percayainya.


"Kenapa kau berlari sambil menangis pagi ini, apa kata-kataku menyinggungmu?"


"Sejujurnya ia, aku sangat sedih. Tapi, setelahnya aku baik-baik saja. Aku menangis karena seseorang yang ku kenal dan sangat ku sayangi meninggalkan dunia ini." Balas Raina pelan, hampir saja air matanya menetes namun untungnya itu tidak terjadi.


"Apa kau sangat mencintainya?"Tanya Sawn lagi, kali ini netra mereka bertemu. Sawn bisa melihat kesedihan mendalam di mata milik gadis impiannya.


"Sangat. Aku sangat menyayanginya. Aku berhutang budi padanya."


Apa dia sungguh sehebat itu? Hhmmm! Aku benar-benar bodoh, berani sekali aku jatuh cinta pada wanita shalihah ini sementara aku tidak pernah melakukan apa pun untuknya selain membuatnya menangis. Lagi-lagi Sawn bergumam sendiri.


"Apa dia tampan?"


Dasar payah, kenapa aku harus menanyakan itu. Masa bodoh dengan tanggapannya, dari pada aku penasaran lebih baik aku bertanya. Sawn mencoba membenarkan dirinya.

__ADS_1


"Mungkin!" Jawab Raina santai.


"Mungkin? Jawaban macam apa itu?" Sawn menatap dengan tatapan heran, wajah tampannya terlihat tidak puas dengan jawaban singkat Raina.


Raina menyunggingkan senyum tipis di wajah ayu nya, melihat itu Sawn pun tersenyum.


"Aku tidak tahu kakek Alfa tampan atau tidak ketika beliau muda, tapi aku yakin beliau tampan." Balas Raina masih dengan wajah tersipu.


Aku tidak tahu kalau kau terlihat menawan saat kau tersipu seperti itu, aku beruntung bisa melihat senyum mu malam ini. Lirih Sawn sembari terus memandangi wajah tersenyum Raina.


Kakek! Maafkan aku. Dan terimakasih untuk segalanya.


...***...


Kantor Sawn 10:19


Ooh ya ampun, laki-laki aneh ini masih berdiri di pojok tanpa senyuman, apa wajahnya tidak sakit. Robin masih memandangi peria dengan setelan hitam itu sembari menerima berkas yang di sodorkan tamu asingnya.


"Rita, segera bawakan minuman dingin untuk tamu kita. Secangkir koffe pahit untuk ku." Ucap Sawn tegas kemudian menutup sambungan telponnya.


Sawn baru saja duduk di samping Robin ketika pintu di ketuk seseorang


"Masuk." Ucap Robin mempersilahkan.


Sawn menyunggingkan senyum tipis begitu melihat yang masuk Raina bukannya Rita. Mengingat percakapan mereka semalam membuat Sawn bahagia, mungkin Raina tidak tahu kalau Sawn sangat bersyukur karena kehadirannya.


"Mas Robin, minuman yang kalian minta." Ucap Raina kemudian meletakkan nampan berisi minuman di samping Robin.


"Terimakasi." Ucap Robin pelan. Raina membalas dengan anggukan.


"Mr.Ruan, allow me to introduce you to Miss..."


"Raina." Ruan tersenyum lebar sembari memandang Raina dengan tatapan takjub.


Sementara itu Sawn dan Robin saling melempar pandangan, mereka tidak menyangka tamu asing mereka mengenal Raina. Itu terdengar konyol, tapi itulah yang terjadi.


Raina, ia masih memandang heran pada peria di hadapannya. Sedetik kemudian bibir yang tadinya tertutup rapat kini mengumbar senyuman. Dan hal itu berhasil mebuat Sawn berdiri mematung sembari menelan salivanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2