Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Penolakan


__ADS_3

Seorang wanita pastinya menginginkan suatu yang berbeda dan sesuatu yang bisa terus mereka kenang. Pria yang sadar akan hal itu, maka butuh memutar otak untuk mencari ide yang menarik agar bisa memberikan kesan menarik kepada pasangannya.


Begitu juga dengan Sawn, sore ini ia sengaja membawa Raina jauh dari rumah hanya untuk menunjukan betapa besar rasa sayangnya pada gadis yatim piatu itu. Setelah Sawn dan Raina turun dari mobil, mereka masuk melalui lift VVIV.


Sejak pagi Sawn meminta Staff hotel mendekorasi Ballroom hotel seperti yang di inginkannya, Ruang megah dengan sentuhan ribuan mawar di dalamnya. Raina gadis sederhana dan Sawn tahu itu, karena itulah Sawn memilih dekorasi yang sederhana saja. Di tengah-tengah ruang megah itu terdapat meja bundar dan dua kursi yang saling berhadapan.


Di dekat meja terdapat lilin yang sudah di nyalakan, aroma terapi yang sangat menyegarkan.


Sementara itu, di atas meja sudah di sediakan makanan Prancis, Sawn masih ingat dengan jelas. Pertama kali ia mengajak Raina makan, makanan pilihannya menu makanan prancis, Sawn ingin mengulang moment itu, moment di mana ia merasa dekat dengan gadis impiannya.


Hahh! Raina melongo sembari menelan salivanya. Bagaimana ia bisa bereaksi biasa-biasa saja jika pemandangan di depannya pemandangan yang luar biasa.


"Apa kita akan menghadiri pesta? Dimana semua orang?" Raina bertanya, polos.


"Duduklah!" Ucap Sawn singkat.


"Apa aku boleh duduk?"


"Tentu saja. Semua yang ada disini milik mu." Ucap Sawn lagi.


Raina menuruti perintah Sawn untuk duduk di bangku yang di tunjuk lelaki tampan itu, tandinya Sawn akan menarik bangku agar terlihat Romantis seperti yang ada dalam Drama.


"Anda tidak perlu menarik bangku untuk ku, aku akan melakukannya sendiri."


"Baiklah jika itu yang kau inginkan." Balas Sawn pelan, ia kecewa namun ia berusaha untuk tersenyum.


"Apa tidak ada yang akan datang?"


"Tidak ada." Balas Sawn sambil mengiris daging dengan pisau.


"Kita akan bicara setelah selesai makan." Ucap Sawn lagi sembari memberikan daging yang sudah di irisnya untuk Raina.

__ADS_1


...***...


"Rom. Romlah..." Bu Rahayu memanggil dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia terlalu lemah, bahkan dadanya masih terasa sakit.


"Bude Romlah belum pulang dari Swalayan. Apa ibu membutuhkan sesuatu?" Andre bertanya sambil meletakkan air mineral di atas nakas.


"Kakak mu dimana?"


"Kakak belum pulang dari Bandara. Kak Ruan titip salam buat ibu." Ucap Andre lagi.


"Ruan?" Bu Rahayu bertanya karena nama yang di dengarnya tidak asing di telinganya.


Sementara itu, di tempat berbeda Raina dan Sawn telah menyelesaikan makannya. Mereka duduk saling berhadapan, dan tentu saja ini kesempatan langka Sawn untuk menguliti setiap inci wajah yang selalu muncul dalam mimpinya.


"Ada yang ingin ku katakan padamu, kau cukup mendengar apa yang akan ku katakan." Ucap Sawn memecah keheningan.


"Katakan apa pun yang bapak ingin katakan. Insya Allah, saya akan mendengar karena saya pendengar yang baik." Balas Raina meyakinkan.


Glekkk!


Raina menelan salivanya, ucapan yang di dengarnya bagaikan tetesan hujan yang meyegarkan. Raina tidak bisa berkata-kata, matanya membulat tidak percaya.


Apa ada yang salah dengan telingaku? Lirih Raina dalam hatinya, ia masih memandang wajah tampan di hadapannya itu.


Raina dan Sawn, mereka cukup lama saling pandang sampai akhirnya Raina kembali ke akal sehatnya. Gadis ayu itu langsung merunduk, menenangkan hati dan pikirannya.


"Bapak tidak perlu meledekku seperti itu! Aku baik-baik saja, jadi pak Sawn tidak perlu menghiburku dengan kata-kata berlebihan. Jika orang lain mendengar ucapan bapak, nanti dikiranya bapak selingkuh." Balas Raina dengan senyum mengembang di wajah ayunya, sebisanya ia tidak menunjukan perasaannya.


"Aku bersungguh-sungguh ketika mengatakan itu! Aku tidak sedang menghiburmu dengan kata-kata manis, aku hanya berusaha mengungkapkan semua rasa yang ku punya. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Tapi, itulah yang terjadi. Sawn Praja Dinata mencintai Bodyguard salehanya." Ucap Sawn menegaskan, netranya masih memandang wajah tertunduk Raina.


Sawn tidak perduli jika nantinya ia di tolak, ia hanya ingin mengurangi beban di hatinya.

__ADS_1


"Sejujurnya aku masih tidak percaya dengan apa yang ku dengar! Apa yang bapak katakan benar-benar membuatku sangat-sangat terkejut. Apa aku harus bahagia? Atau aku harus sedih? Seandainya aku memiliki perasaan yang sama seperti yang bapak rasakan, tidak akan mudah bagiku untuk mengatakan ia." Ucap Raina sambil bangun dari posisi duduknya.


"Apa yang membuatmu sulit untuk menerimaku? Tidak ada yang kurang dari diriku! Dan aku yakin bisa membuatmu bahagia, apa kau butuh bukti lain?" Sawn memandang wajah terkejut Raina.


Sawn pun tidak kalah terkejutnya dari Raina, ia tidak pernah berpikir wanita yang sangat di rindukannya itu akan menolaknya dengan kata-kata halus yang tidak ingin di dengarnya.


"Terkadang cinta hadir tanpa kita sadari, perlahan perasaan aneh itu akan menghilang seiring berjalannya waktu. Aku tahu bapak sedang bingung, lagi pula bapak tidak mungkin tertarik padaku! Aku akan menganggap apa yang bapak ucapkan tadi hanya karena iseng saja." Kali ini Raina berusaha tersenyum untuk menutupi perasaannya.


"Apa aku terlihat bercanda? Apa aku terlihat seperti laki-laki murahan yang akan mengungkapkan cinta pada sembarang gadis?" Sawn mencecar Raina dengan pertanyaan menuntutnya.


Habis sudah kata-kata yang ingin di ucapkan Raina. Raina kembali duduk sambil menyusun ucapan apa yang akan di katakannya selanjutnya.


"Jujur, aku masih tidak percaya dengan apa yang bapak ucapkan barusan. Hatiku senang mendengarnya, hanya saja..." Raina menghentikan ucapannya.


"Hanya saja apa?" Sambung Sawn penasaran.


"Hanya saja tidak mudah untuk mengatakan ia."


"Apa sesulit itu bagi hatimu untuk menerimaku? Katakan padaku, apa yang kurang dari diriku sampai kau menolak ku?" Mata Sawn berkaca-kaca. Rasanya ia tidak bisa mendengar penolakan dari gadis yang selalu hadir dalam mimpinya.


Ingin rasanya Raina mengungkapkan perasaannya, namun egonya tidak membiarkannya melakukan itu.


"Tidak ada yang kurang dari bapak. Hanya saja aku yang memiliki banyak kekurangan. Jika bapak mengetahui segala tentang ku, sudah pasti bapak akan menolak ku. Untuk orang sepertiku, aku hanya memiliki harga diri saja. Karena itulah sebelum bapak menolakku lebih baik aku yang menolak bapak." Ingin rasanya Raina meneteskan air mata, namun ia berusaha untuk menahannya agar tidak terlihat seperti gadis bodoh yang mengincar atasan tampannya.


"Aku yang akan putuskan, apa kau pantas bagi ku atau tidak? Sekarang katakan, apa yang membuat langkah kaki mu tertahan untuk tidak berlari kearah ku?"


pelan Sawn menarik nafas dalam kemudian kasar menghembuskannya dari bibir. Entah kenapa ia merasa bersalah pada Raina, gadis ayu di depannya menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Ada bahagia juga kesedihan yang terpancar dari netra hitam itu.


Sawn hanya bisa menunggu jawaban dari Raina, akankah jawaban yang keluar dari bibir merah muda itu akan menyejukkan hatinya seperti hujan yang membasahi bumi yang gersang? Atau justru jawaban yang akan ia dengar akan meyedihkan seperti padang pasir yang gersang. Entahlah, Sawn hanya bisa berharap pada Tuhan agar pilihan hatinya adalah pilihan Tuhan juga.


...***...

__ADS_1


__ADS_2