Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Berpaling?


__ADS_3

Setiap orang selalu mendambakan kedamaian dalam setiap ruang kehidupan yang mereka lalui, namun terkadang kedamaian itu seolah menjauh dalam kehidupan singkat yang di penuhi warna warni.


Hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan. Empat kata itu seolah menjadi momok menakutkan, namun begitulah kehidupan, tanpa cobaan kamu tidak akan pernah tahu seberapa besar kekuatan di balik tangisanmu yang kau sembunyikan.


Mata boleh menangis, hati boleh tersakiti namun kesabaran dan keimanan pada yang Maha Kuasa harus di pertebal. Dengan begitu segala hal buruk yang terjadi dalam kehidupan singkat ini akan terlihat kecil jika di bandingkan kebesaran Tuhan yang maha menggenggam kehidupan.


"Apa bapak akan terus memandangi wajah ku? Sampai kapan?" Tanya Yuna sambil berpura-pura tersenyum.


"Ahhh... Maaf." Balas Profesor.Zain sembari melepaskan tangannya dari tubuh Yuna.


"Kamu, masuk kemobil! Kunci dari dalam, jangan keluar jika aku tidak memintamu. Orang-orang payah itu harus mendapat pelajaran." Ucap Profesor.Zain pelan kemudian mendorong tubuh Yuna menjauh dari kerumunan lima pria yang akan beradu kekuatan.


Semenit kemudian Yuna sudah berada di dalam mobil, mengikuti instruksi Profesor.Zain tanpa harus membantah ucapan pria pemilik iris biru itu. Entah apa yang salah dengan Yuna, ia berterimakasih dalam hatinya namun bibirnya tak pernah lepas dari senyuman.


"Kalian kembali lagi? Aku tidak percaya ini!" Prof.Zain membuka suara di antara senyapnya udara. Ia melipat kedua lengannya di depan dada sembari menatap empat pria di depannya secara bergantian.


"Haii... Bung! Lebih baik serahkan gadis itu secara damai, dengan begitu tulang mu akan selamat dari amukan kami."


"Hahaha... Kalian sangat lucu." Ucap Prof.Zain sambil mendekati keempat pria itu.


Ciahhhh...!


Tangan kekar pria berbadan tegap itu tepat mengenai perut Profesor.Zain. Desahan kasar karena rasa nyeri keluar dari bibirnya. Belum sempat ia berkelit, hantaman keras siku preman kedua berhasil mengenai wajah tampannya, kali ini darah segar keluar dari sudut bibir merah muda alami Profesor.Zain. Ia tersungkur sampai membentur pohon yang tersusun rapi di sepanjang trotoar jalanan yang sepi.


"Dasar tidak berguna! Kau ingin melindungi wanita itu? Kau sendiri tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Hahahhha." Gelak tawa dari keempat preman yang berdiri di depan Prof.Zain seolah mengabarkan kalau Prof.Zain hanya pria lemah tak berguna, namun tidak seperti itu.


Pelan Prof.Zain menggerakkan badannya, terasa nyeri di setiap bagiannya. Ia bahkan sampai berpikir salah satu giginya copot, darah yang keluar dari sudut bibirnya tak berhenti menetes sampai mengenai kemeja putih yang ia gunakan.


"Maju." Ucap Prof.Zain sambil memainkan jari tengahnya, memberikan isyarat kalau ia masih belum menyerah.


Keempat preman itu berlari kearah Prof.Zain seperti Singa kelaparan yang akan menerkam mangsanya. Namun kali ini berbeda, setiap pukulan yang di arahkan pada wajah dan tubuhnya berhasil di tangkis oleh Prof.Zain dengan sangat lihai. Bahkan kali ini ia bisa memberikan serangan balasan, satu persatu preman itu tersungkur. Tidak sekedar memukul, Prof.Zain benar-benar memberikan perlawanan sengit sampai lawannya akan berpikir dua kali untuk menampakkan batang hidungnya lagi.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kalian menyukai hadiah balasan dariku? Aku menikmati pertarungan ini. Sekedar impormasi, aku sudah menelpon polisi.


Jika kalian rindu makanan penjara kalian bisa berduel denganku sampai titik darah penghabisan. Tapi, jika kalian masih rindu dengan suasana Clab malam, saranku kalian harus segera lari dari sini. Karena jika tidak, aku sendiri yang akan mematahkan tulang-tulang kalian." Ucap Profesor.Zain De Lucca penuh emosi.


Tanpa berpikir panjang, keempat preman itu langsung pergi sambil menyeret kaki mereka yang beberapa kali terkena terjangan Profesor.Zain.


Profesor.Zain yakin, keempat preman itu tidak akan bisa berjalan lurus selama beberapa hari kedepan. Pertarungan sore ini cukup sengit sampai membuat sekujur tubuh indah Prof.Zain sendiri terasa mati rasa.


Hate is a strong word, but love is stronger.


Tidak tahu kapan kebencian berubah menjadi cinta. Namun satu yang pasti, cinta itu jauh lebih kuat dari kebencian.


Keyakinan yang tertanam itu berhasil membuat Prof.Zain berada di garda terdepan ketika gadis yang coba ia lecehkan selalu ada dalam pikirannya. Entah itu cinta atau perasaan kasihan, yang jelas ketika Yuna berada dalam masalah Prof.Zain selalu ada untuknya.


...***...


Azan Magrib mulai berkumandang di seluruh seantaro kota, terdengar sangat menakjubkan sampai membuat siapa pun yang mendengar panggilan itu akan meneteskan air mata karena merindukan Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Sementara itu di dapur, bu Romlah dan bu Rahayu masih sibuk menyiapkan makan malam untuk semua orang. Nampaknya Raina sangat menikmati waktu berkunjungnya di panti, hal yang paling dirindukannya adalah ibunya, wangi tubuh bu Rahayu membuat Raina tidak ingin melepaskan pelukan hangat ibunya itu.


"Lepaskan! Jika budemu ngambek karena tidak ada yang membantunya, maka kita semua akan kelaparan. Kau seperti anak kecil saja." Ucap bu Rahayu sembari menepuk pundak Raina pelan, bukannya melepaskan tubuh separuh baya ibunya, Raina malah semakin mengeratkan pelukannya. Di sudut yang masih bisa terlihat, bu Romlah hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah ibu dan anak itu.


"Sudahlah mbak yu, aku tahu mbak yu sangat merindukan Raina. Sikap manja Raina yang seperti itu kan yang mbak yu rindukan?" Bu Romlah pura-pura terlihat kesal, padahal sebenarnya ia pun sangat bahagia.


"Dimana menantuku? Apa kau tidak mengurusnya dengan baik? Panggil dia untuk segera makan malam!" Pinta bu Rahayu, mencoba mengalihkan Bu Romlah dari jawaban pertanyaannya.


Setiap orang tua pasti merasakan bahagia yang sama, mereka bahagia jika anak mereka bahagia. Dan akan menderita jika anak-anaknya menderita. Begitu juga dengan bu Rahayu, ia tidak pernah mengatakan betapa ia bahagia dan terberkati memiliki putri seperti Raina, penduduk langit pun tahu betapa besar cinta bu Rahayu untuk putri angkat belahan jiwanya itu.


Tanpa terasa bu Rahayu mulai meneteskan air mata, air mata bahagia yang bu Rahayu sendiri tidak bisa mengukurnya dengan sekedar kata-kata.


Raina tiba di kamarnya sambil membawa air mineral yang ia letakkan di atas nakas, entah apa yang dikerjakan Sawn sampai ia tidak menyadari kehadiran Raina yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


Hhmmm! Raina berdehem sembari berjalan dan duduk di samping Sawn yang saat ini masih sibuk dengan Laptopnya.


"Apa aku mengganggumu?"


"Kemarilah." Sawn membentangkan tangannya kemudian meraih jemari Raina.


"Kau bintang kehidupanku! Apa pun yang ku lakukan, kau akan selalu menjadi prioritas pertamaku. Jangan pernah bertanya apa kau menggangguku atau tidak, karena jawabannya akan selalu sama, kau tidak pernah menggangguku dan aku sangat bahagia bersama dengan mu." Ucap Sawn pelan kemudian mencium punggung tangan kanan Raina.


"Ibu memintamu keluar untuk makan malam."


"Katakan pada ibu, aku akan keluar sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku, lalu menemui kalian di meja makan." Ucap Sawn sambil tersenyum lebar.


"Baiklah." Balas Raina pelan sambil beranjak meninggalkan Sawn yang masih sibuk dengan segudang pekerjaannya.


Sementara itu di tempat berbeda, bu Hanum sedang mengobati luka yang ada di wajah Profesor.Zain. Sebenarnya bu Hanum merasa tidak enak karena wajah tampan itu terlihat menyedihkan. Memar dan lebam ada di beberapa bagian wajah dan tubuhnya, sesekali Profesor.Zain meringis menahan perih.


Bukannya bermaksut tidak sopan, hanya saja wajah di depannya terlalu tampan sampai membuat bu Hanum tidak tega dan mengakhiri pengobantan yang coba ia lakukan di wajah Prof.Zain.


"Sudah selesai. Tante ucapkan terima kasih karena sudah membantu anak tante. Ini benar-benar sebuah pertolongan besar. Tante tidak akan melupakannya." Ucap bu Hanum sembari menggenggam jemari Prof.Zain erat.


"Yuna, sayang. Tolong antarkan nak Zain ke kamar kakak mu. Berikan baju kakak mu padanya." Ucap bu Hanum pada Yuna yang berdiri di samping mamanya.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipis milik Yuna Dinata, hanya anggukan kecil kemudian beranjak kelantai dua yang di ikuti Profesor.Zain De Lucca di belakangnya.


Adakalanya marah itu bukan marah, benci itu bukan benci. Hanya cinta yang di ucapkan dengan cara berbeda. Menyadari itu Profesor.Zain hanya bisa tersenyum tipis di belakang Yuna yang terus berjalan maju menuju kamar yang dimaksut bu Hanum.


Apakah ini cinta yang tertunda? Apa pun itu aku sangat menikmatinya! Bersama mu terasa waktu berjalan begitu lambat.


Ooo... Hatiku, apa kabarmu? Jangan bilang kau sudah berpaling? Dia bukan wanitamu, wanitamu ada di tempat berbeda. Gumam Prof.Zain pelan sambil mengusap sudut bibirnya yang terasa semakin perih.


...***...

__ADS_1


__ADS_2