
Di antara nikmat Allah Swt paling besar terhadap hambanya adalah nikmat akal. Sesungguhnya harga seorang laki-laki di dunia ini tergantung kelebihan dan kekurangan akalnya. Tidaklah seorang unggul , kecuali karena kelebihan akalnya, dan tidaklah dia bodoh, kecuali kekurangan akalnya.
Hhmm! Sawn menghela nafas sembari menelungkupkan tubuhnya dengan selimut tebal. Ia memikirkan setiap kata yang di ucapkan Raina dalam kemarahannya.
"Ternyata... jika singa betina itu marah, dia sangat menakutkan. Itu benar, setiap hal yang ia ucapkan mengandung hikmah kebaikan. Sepertinya hatiku tidak salah dalam memilihnya." Lirih Sawn pelan dalam kesendiriannya.
Perubahan tidak bisa kamu ukur, kamu hanya bisa merasakannya. Dan kali ini Sawn benar-benar merasakan perubahan itu mulai bermain-main dalam kehidupannya.
Sejak Raina memasuki kehidupannya, ia selalu merasakan kesunyian yang mendalam. Kesunyian adalah puisi terbaik, dan sekarang kesunyian itu adalah sahabat terbaiknya.
"Gadis itu melaksanakan semua perintah Tuhan nya, sementara aku? Aku bahkan melupakan setiap ajaran nya. Aku takut dia akan menolak dengan alasan aku bukan pilihan terbaik untuknya.
Aku ingin mengerjakan setiap perintah Tuhan. Tapi, aku mulai lupa darimana aku harus memulainya! Ego, ku! Selama ini aku selalu menjadi budaknya. Marah-marah seolah menjadi nyayian merdu dalam keseharian ku, dan dampaknya aku mulai lupa bagaimana rasanya berbagi terhadap sesama." Sawn menyalahkan dirinya dalam kesunyiannya, ia gelisah namun tidak tahu harus berbagi pada siapa. Yuna? Anak itu tidak akan bisa menyimpan rahasianya.
Robin? Ya... sepertinya Robin adalah pilihan terbaik saat ini. Namun, perasaan takut kembali menghantui Sawn Praja Dinata.
Bagaimana jika Robin menceritakan segalanya pada Raina? Mereka sangat dekat, sampai-sampai membuat Sawn terbakar cemburu jika mereka berdua bersama! Segala kekhawatiran menelusup masuk kedalam sanubarinya. Rasanya, rasa takut lebih besar dari kepercayaan dirinya.
"Baiklah, sudah cukup untuk semua kegelisahan ini. Sekarang waktunya untuk bertindak. Maju atau mudur? Maka pilihanku adalah maju. Apapun pilihanya, aku akan tetap menyakinkannya. Akulah yang terbaik." Ucap Sawn pelan. Ia menyingkap selimut yang melilit tubuh kekarnya, berjalan menuju kamar mandi, mengambil wudhu untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu ia meninggalkannya, Sawn hanya berharap ia tidak melupakan urutan anggota wudhu yang harus di basuhnya, dan tidak melupakan gerakan sholat serta bacaannya.
Sementara itu, di lantai bawah Raina sudah bersiap untuk mengantar adik-adiknya pulang, tadinya ia akan memesan taxi, untungnya suami bi Sumi bersikukuh untuk mengantar mereka.
"Non Raina, bapak sudah siap. Apa kita akan berangkat sekarang?" Tanya mang Ujang, suami bi Sumi.
"Ia, pak. Anak-anak sudah siap. Mari kita berangkat!" Ajak Raina sembari menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.
"Kak, apa Andre boleh pamitan pada kak Sawn?" Andre, bocah itu bertanya dengan wajah merunduk.
"Kakak? Sejak kapan pak Sawn menjadi kakak mu? Kau tidak boleh memanggil sembarang orang dengan sebutan kakak!" Ucap Raina sembari mengangkat kepala Andre yang masih tertunduk takut.
"Baiklah. Kau boleh menemuinya, tapi jangan lama-lama, pak Sawn tidak akan menyukai itu." Ucap Raina lagi.
"Ia, kakak. Aku janji ini tidak akan lama." Ucap Andre sembari tersenyum kemudian berlari menaiki anak tangga dengan wajah bahagianya.
"Bu, sejak kapan anak itu akrab dengan pak Sawn? Bukankah mereka baru saja bertemu?" Raina memamerkan wajah heran nya, bi Sumi yang tidak tahu jawaban dari pertanyaannya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Entahlah, non. Mungkin tuan sangat menyukai nak Andre, karena itu mereka mudah akrab." Jawab bi Sumi, asal menerka.
"Tidak mungkin, bu. Saya tahu keperibadian pak Sawn, dia tidak sebaik itu!" Raina mencoba mempertahankan pendapatnya kalau lelaki yang di sanjung oleh Asisten Rumah Tangga itu tidak sebaik perkiraannya.
"Non Raina salah paham pada tuan, tuan Sawn benar-benar orang yang sangat baik." Bela bi Sumi.
Jika hatimu di penuhi kebencian, sekuat apapun orang menunjukan kebenaran, kamu tidak akan mudah menerima kebenaran itu, karena Setan membuatmu memandang indah perlakuan buruk mu. Begitu juga dengan Raina yang tetap kekeuh pada pendapatnya.
__ADS_1
...***...
Pelan Andre berjalan menuju kamar Sawn, lampunya tampak menyala. Ketika bocah itu bersiap mengetuk pintu, tanpa sengaja ia mendengar suara terbata-bata dari pemiliknya. Pintunya tertutup rapat, namun andre masih bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Allah, apa yang ku lakukan?" Lirih Andre pelan, ia menempelkan telinganya di daun pintu yang tertutup rapat.
"Alhamdulilllahirabbil alamiin..." Ayat awal terucap dari bibir Sawn. Ia mencoba membuka kembali memori di kepalanya untuk melanjutkan Alfatihah yang sudah lama tak terucap dari bibirnya.
Lama Sawn berpikir, tidak ada satupun kalimat yang mampu di ingatnya untuk menyambung ayat yang ia baca.
Andre yang mendengar dari balik daun pintu merasa heran, tiga menit berlalu tanpa ada lanjutan ayat dari bibir Sawn Praja Dinata. Hanya ada keraguan menebak ayat selanjutnya.
"Arrahmanirrahiim..." Ucap Andre. Sawn mengulang perkataan Andre.
Menirunya dengan sempurna hingga ayat terakhir. Sawn lalu melanjutkan gerakan shalatnya, hingga rakaat kedua dan ketiga. Sawn masih mengalami hal yang sama, andre yang tahu kesulitan Sawn terus menuntunnya
dari luar kamarnya dengan suara lantang.
Bocah manis itu merasa heran, kenapa di dunia yang teknologinya sangat maju ini masih ada yang tidak bisa mengingat surah pembuka Al-Quran tersebut.
"Ini masalah besar?" Lirih Andre pelan.
Klikk!
Andre masih berdiri di depan pintu ketika pintu itu terbuka dari dalam. Tampak wajah Sawn yang masih basah oleh air matanya, dalam sujut terakhirnya, tubuh Sawn terguncang, jiwanya kalut. Tangisnya pecah, ia merasa sangat menyedihkan. Sawn malu pada dirinya sendiri, hanya untuk surah Alfatihah ia sampai di tuntun anak kecil. Bahkan anak kecil sudah hafal di luar kepala pembuka surah dalam Al-Quran itu, wajah Sawn tertunduk malu pada bocah yang berdiri tegap di depannya.
Pelan Andre menghapus air mata yang masih menetes dari mata Sawn Praja Dinata dengan jemarinya. Sawn memeluk bocah di depannya dengan perasaan haru luar biasa. Di bandingkan rasa sedihnya, ia merasa bangga masih ada yang mau menuntunnya.
"Kenapa kakak menangis?" Tanya Andre.
"Kakak merasa bahagia, kakak sudah menemukan jalan untuk kembali. Karena itu kakak menangis." Ucap Sawn sembari menggenggam jemari Andre.
"Jalan kembali?" Andre memperlihatkan wajah bingungnya.
"Kau masih terlalu kecil, kau tidak akan mengerti." Jawab Sawn cepat sebelum bocah polos itu mengurai pertanyaan lain.
"Apa kalian akan pulang?"
Andre hanya menjawab dengan anggukan.
"Kak Raina adalah orang yang baik, tolong jaga dia!" Ucap Andre sembari menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Aku janji, jika kakak berbuat baik pada kakak ku, aku akan membantu kakak memperbaiki bacaan Quran kakak." Ucap Andre lagi.
__ADS_1
"Janji laki-laki!" Sawn menyodorkan tangannya.
"Ia, janji laki-laki." Jawab Andre sembari meraih tangan Sawn, mereka berdua saling tertawa sampai Andre lupa kalau ia di tunggu oleh Raina.
...***...
"Apa kalian lapar?"
"Ia." Ucap tiga bocah itu kompak.
Raina hanya bisa berdecak heran melihat ketiga adik-adiknya.
"Kak Sawn, dimana kita akan makan?" Nanang bertanya sembari menjulurkan kepalanya kedepan.
"Nanang, duduk yang benar, dek. Jangan bersikap seperti itu, pak Sawn tidak akan menyukainya." Ucap Raina, terlihat dari wajahnya kalau ia tidak terlalu menyukai perjalanannya, bukannya suami bi Sumi, justru Sawn yang menjadi sopir peribadinya.
Raina memandang keluar jendela mobil. Hujan rintik-rintik masih membasahi Jakarta dengan langit mendungnya. Raina tersenyum sembari berbisik lirih di dalam hatinya.
"Allah... Please be nice to me! Jadikan rasa cintaku padamu melebihi apa pun yang diingini hati ini."
Sawn berhenti di Restaurant, ia keluar dari mobil sembari di ikuti tiga bocah yang sudah akrab dengannya. Bahkan Andre, Nanang dan Aldy, anak itu terlihat sangat bahagia. Tidak ada rasa canggung ataupun malu, jika orang lain melihatnya mereka pasti dikira saudara.
Lagi-lagi Raina hanya bisa berdecak heran, ia masih bertanya-tanya kenapa adik-adiknya mudah sekali akrab dengan Sawn Praja Dinata, sementara dirinya membutuhkan waktu lama untuk bisa mengenal lelaki yang di anggapnya arogan itu. Raina berjalan di belakang mereka.
"Selamat malam pak Sawn, senang bertemu dengan anda." Seseorang menegur Sawn dari belakang.
"Hallo... Pak Amit. Bapak apa kabar?" Sawn menjabat tangan lelaki yang seusia dengan papanya itu.
Sesekali Raina memberanikan diri menatap Sawn yang masih sibuk bertegur sapa. Sawn tahu Raina sedang memperhatikannya, karena itulah ia tidak pernah melepas senyum dari bibirnya.
"Sejak anda memutuskan memberikan suntikan modal untuk usaha saya, usaha saya sekarang tambah maju. Mungkin akan membutuhkan waktu untuk mengembalikan modal yang saya pinjam, meskipun begitu saya janji akan segera mengembalikan semuanya."
"Pak Amit tidak perlu sungkan, saya juga tidak terlalu memikirkannya." Ucap Sawn cepat sebelum lelaki itu mulai menyanjungnya lagi.
Dunia yang kamu tinggali tidak akan ada lagi kedamaian di dalamnya jika kamu mengabaikan orang-orang di sekitarmu.
"Pelayan, jangan ambil sepeserpun uang dari pak Sawn." Pinta pak Amit pada pelayan wanitanya.
"Baik, pak!" Jawab pelayan itu santun.
Entah kenapa Raina merasa tergoda, sikap Sawn yang menolak makan gratisan membuat degup jantungnya berdetak lebih cepat. Itu hanya tindakan sederhana, namun terkadang hal sederhana bisa membuatmu tergoda kemudian tanpa kamu sadari kamu mulai jatuh cinta.
Cinta tidak pernah memilih kemana ia akan melepaskan panahnya, namun kamu bisa memilih dengan siapa kamu ingin bersama, sebaik-baik pilihan adalah yang paling baik agamanya.
__ADS_1
Raina sadar kalau Sawn memiliki nilai baik dalam dirinya. Meskipun begitu ia tidak ingin menilai terlalu cepat, karena menurutnya lelaki tampa---n itu masih arogan seperti dulu ketika mereka pertama kali bertemu.
...***...