Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Lamaran Yang Gagal


__ADS_3

Sawn memandangi pantulan wajahnya di cermin, ia tersenyum sambil merapikan jasnya.


"Sempurna." Lirihnya pelan sambil menyisir rambutnya. Sebelumnya ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Rasanya seperti ada kupu-kupu di hatinya, ia merasa geli.


"Mulai saat ini aku akan mengikatmu menjadi milikku, selamanya." Ucapnya lagi sambil tersenyum.


Sekali lagi Sawn melihat pantulan wajahnya di cermin. Ia menarik nafas dalam kemudian pelan membuangnya dari mulutnya, mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas nakas dan berjalan menuju garasi mobil.


Setengah jam yang lalu ia meninggalkan bingkisan berisi gaun yang sengaja ia pesan sendiri, memberikan perintahnya agar Raina memakai pemberian pertamanya di hari yang sangat ia tunggu-tunggu.


"Apa aku terlalu memaksa? Bagaimana jika Raina tidak mau memakai gaun itu."


Hhhhh! Sawn mendesah membaca setiap kemungkinan yang ada.


Perintah bapak sudah kami laksanakan. Semuanya sudah siap.


Sawn tersenyum bahagia sambil membaca pesan yang di kirim manager hotelnya. Sawn kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu menunjukan pukul 18.30 WIB. Jakarta sore ini sedikit macet, tapi tidak apa-apa selama rencananya berjalan lancar itu sudah cukup baginya.


"Bagaimana jika dia tidak datang?" Lagi-lagi Sawn merasa khawatir, karna ia tahu Raina tidak suka keluar malam.


"Aku meminta suami bi Sumi mengantarnya kehotel, apa dia tidak akan melaksanakan perintahku?"


"Lamaran bukan perintah! Cinta juga bukan perintah! Jika dia menolakku tanpa berpikir, hancurlah harga diriku." Lirih Sawn pelan sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Dia hanya wanita biasa, seharusnya dia bangga pangeran tampan sepertiku menyematkan berlian di jari polosnya." Sawn berusaha menghibur dirinya karna ia terlalu takut untuk kecewa.


Tidak semua wanita silau oleh harta Dunia, ada satu perhiasan yang lebih indah dari dunia dan segala isinya, dialah wanita saliha. Ucapan bu Hanum kembali terngiang di benak Sawn. Seolah ucapan itu bagai bom molotov yang akan meluluh lantakkan harapannya.


"Jika dia tidak silau oleh apa yang akan kutawarkan padanya, lalu dengan apa aku akan meyakinkannya?"


Sawn berperang sendiri dengan pikiran-pikiran melelahkannya. Untuk saat ini ia hanya ingin segera sampai di hotel tempat dimana ia akan melamar Raina.


...***...


Sementara itu di kediaman Sawn Praja Dinata, Raina baru saja pulang setelah mengunjungi adik-adiknya di panti.

__ADS_1


Ia merasa bingung dengan bingkisan yang ia terima dari bi Sumi. Matanya terbelalak melihat keindahan Gaun yang ia letakkan diatas tempat tidurnya.


"Untuk apa pak Sawn memberikan pakaian mahal ini?" Gaun biru yang khusus Sawn pesan dari Desainer langganannya.


"Apa nona Angel sudah kembali, dan pak Sawn memintaku sebagai saksi ketika dirinya menyematkan cincin Berlian di tangan nona Angel." Ucap Raina sambil memandangi gaun yang ia letakkan disampingnya.


"Perasaan ini? Aku merasakan hal yang sama ketika chen meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan pak Sawn, tapi kenapa rasanya sesakit ini." Raina menarik nafas dalam kemudian pelan menghembuskannya. Ia melipat kembali gaun itu dan merapikannya seperti semula.


"Sangat tidak pantas bagiku hadir di tengah-tengah mereka. Aku sangat beruntung pak Sawn tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Jika tidak..."


"Jika tidak pak Sawn akan sangat marah." Sambar bi Sumi, masuk kekamar Raina tanpa mengetuk pintu.


Raina terkejut melihat bi Sumi melangkah kearahnya, yang lebih menakutkan dari itu, ia tidak ingin siapapun mengetahui perasaannya. Biarlah ini menjadi rahasia antara dirinya dan Tuhannya.


"Kenapa non Raina belum ganti baju? Jika tuan tahu, tuan pasti akan marah besar." Ucap bi Sumi Sambil mengeluarkan gaun yang tadinya di lipat Raina.


"Aku tidak ingin pergi kemanapun, bu. Lagi pula tempatku bukan disana."


"Kenapa non Raina berkata seperti itu? Non Raina adalah orang yang paling cocok berada di sam..."


"Ibu. Ibu dimana...?" Ucapan bi Sumi tertahan di tenggorokannya mendengar panggilan putrinya.


Raina menghempaskan tubuhnya di Ranjang, melepas segala penat dihatinya. Ia tidak menyangka hari yang ia takuti akan datang secepat ini. Hari dimana Angel dan Sawn bertemu kembali dan saling melepas rindu yang sudah lama tidak tersalurkan.


"Aku tidak ingin menangis." Ucap Raina menguatkan dirinya sambil beranjak kekamar mandi mengganti baju dengan gaun yang khusus Sawn pilihkan untuknya.


...***...


Puluhan kilo meter jaraknya dari Raina, Sawn menunggu dengan sabar sambil memperhatikan sekelilingnya. Buket bunga tertata dengan rapi di samping ranjang tempat tidur. Kamar yang Sawn pilih adalah kamar pribadinya jika berkunjung kehotel miliknya.


Lantai kamarnya di penuhi balon-balon dengan warna yang berbeda. Bentuknya pun sengaja Sawn pilih berbentuk hati, karna hari ini ia akan menyerahkan hatinya pada Raina. Ia hanya bisa berharap semoga gadis itu tidak mematahkan hatinya atau ia akan menangis seperti pria lemah yang sering ia lihat dalam drama.


Sawn melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukuk 20.09 waktu terus berjalan namun yang ia nantikan tidak juga kunjung datang.


Non Raina sudah berangkat. Nikmati waktu tuan dengan bahagia. Sawn tersenyum membaca pesan singkat dari bi Sumi, sekarang ia benar-benar merasa lega.

__ADS_1


"Aku khawatir tanpa alasan. Cepat datang Raina, Aku menantikanmu sayang." Ucap Sawn sambil memandangi wajah tersenyumnya dari pantulan kaca yang ada di depannya.


Clinnnnggg...!


Sawn meraih ponsel disaku bajunya. Ia melongo sambil mendengar pesan suara itu. Kebahagiaan sesaat yang Sawn rasakan terasa menguap keangkasa. Rasa terkejutnya mengalahkan perasaan bahagianya.


Entah setan apa yang merasuki tubuhnya, ia berlari seperti orang kesurupan. Jika ada yang membuatnya berlari tanpa berpikir panjang, lalu bagaimana dengan Raina?


Di saat Sawn gila akan perasaannya, Raina tiba di Lobby Hotel sambil mengangkat sedikit gaunnya yang kepanjangan. Ia tiba di kamar yang Sawn beritahukan melalui pesan singkat.


Raina menganga melihat keindahan dekorasi kamar yang ia datangi, selain rumah Sawn praja Dinata dan rumah besar orang tuanya, ia tidak pernah kemanapun.


"Ternyata benar pak Sawn akan melamar nona Angel. Lalu untuk apa aku disini?" Raina berbaring di ranjang sambil sesekali mengecek ponselnya.


"Tidak ada panggilan atau pesan, apa aku pulang saja."


Waktu terus berlalu namun Sawn tidak juga muncul. Berkali-kali Raina menguap sampai akhirnya ia tidak sadar kapan ia mulai terlelap.


...***...


Waktu menunjukan pukul 4.00 ketika Raina terbangun dari tidur lelapnya.


Huammm! Raina menguap sambil menutup mulutnya.


"Aku tertidur disini? Aku benar-benar bodoh!" Maki Raina pada dirinya. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Membersikan diri sebelum ia menyerahkan diri pada Tuhan yang maha memberikannya kehidupan.


Sementara itu di kediaman Restha Pramuja, Sawn duduk di ranjang sambil menggenggam erat jemari wanita yang sangat dirindukannya. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari hadirnya kembali belahan jiwanya.


Bisa duduk sambil menggenggam erat jemari wanita yang sangat di cintainya itu seperti mimpi indah yang bisa ia wujutkan dalam dunia nyata.


Sawn memejamkan mata sambil membayangkan wajah Raina, apa yang akan dipikirkan gadis itu tentangnya. Laki-laki bodoh yang berani meninggalkan masa depannya demi masa lalunya.


Sawn datanglah kerumah ku, sekarang juga!Aku tidak tahu harus mulai dari mana, aku hanya ingin memberitahumu bahwa Angel masih hidup dan sekarang dia ada dirumahku. Keadaannya sangat menghawatirkan. Pesan Audio Restha berhasil membuat tubuh Sawn bergetar hebat.


Ia tidak tahu harus tertawa atau kah menangis. Harus bahagia? Atau kah harus sedih? Sawn benar-benar berada dalam dilema. Pada siapa ia akan membagi kegelisahannya? Hatinya tidak tenang, kegelisahannya telah mengalahkan setitik kebahagiaan yang hampir ia teguk.

__ADS_1


Maafkan aku Raina. Maafkan aku. Lirih Sawn sambil meneteskan air mata.


...***...


__ADS_2