
"Beraninya kau membuat sahabatku menangis? Apa kau tidak mengingat anak dan istrimu di rumah? Dasar bandot tua murahan!" Yuna tidak bisa menahan ucapan kasarnya melihat tubuh bergetar Arnela, biasanya ia tidak pernah menghina siapapun dalam kehidupannya. Namun kali ini berbeda, melihat tubuh Arnela setengah terbuka membuat amarahnya meletup-letup. Ingin rasanya ia menghajar pria separuh baya itu dengan botol beralkohol yang ada di depannya. Untungnya ia tidak sekejam itu sampai harus melukai lelaki yang usianya setara dengan papanya.
"Apa kau tidak apa-apa? Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa pun? Apa kau pikir Aku dan Vivi akan membiarkanmu terjerumus dalam dunia malam? Kau benar-benar payah!" Bentak Yuna sambil menepuk pundak Arnela pelan. Ia melepas pelukannya dari Arnela, kemudian bersiap untuk keluar.
Klikkkk!
Sebelum Yuna dan Arnela keluar lelaki separuh baya itu justru mengunci pintu dan melempar kunci itu kebawah sofa yang sudah tidak beraturan.
"Kalian mudah sekali masuk ketempat ini, tapi kalian tidak akan mudah untuk keluar. Aku meminta satu tapi tempat ini memberikan dua, apa lagi yang lebih baik dari ini." Ucap lelaki separuh baya itu sambil tertawa lepas.
Yuna menyeringai sebal, pantas saja Arnela mencakar wajahnya. Kelakuannya lebih buruk dari hewan. Pelan Yuna menepuk-nepuk dadanya, seolah ada yang nyeri di dalam sana. Ia tidak pernah membayangkan di dunia yang ia tinggali ada monster menakutkan, jika pria mesum sepertinya berkeliaran di dunia nyata bagaimana wanita bisa aman berjalan dari tatapannya.
"Anda orang terburuk yang pernah ku temui. Semoga anak-anak anda tidak mengikuti kelakuan bejat bapaknya." Ucap Yuna dengan wajah sinisnya.
"Anda tidak akan bisa menghentikan kami keluar dari sini, karena kami punya kekuatan." Ucap Yuna lagi sambil menunjuk keatas dengan jari telunjuknya.
"Hahahha...." Lagi-lagi pria separuh baya itu tertawa lepas seperti orang kesurupan. Ia menyeringai, wajah datarnya mulai memamerkan amarah tanpa batas. Tatapan matanya seolah ingin menelan Yuna dan Arnela hidup-hidup.
"Kalian gadis muda yang bodoh, kalian tidak tahu bagaimana dunia berjalan. Jika kalian sebodoh ini maka aku dengan senang hati akan menerima kalian dengan tangan terbuka. Cini cayanggg..." Ucap lelaki separuh baya itu sambil membuka kedua lengannya. Ia bertingkah syok manis, melihat itu rasanya Yuna ingin muntah.
"Wahhh... Aku benar-benar kesal." Celoteh Yuna sambil mengipas wajah dengan kedua tangannya. Ia mendekati pria separuh baya itu dengan wajah garangnya.
Plakkkk!
Tanpa aba-aba Yuna langsung menampar lelaki separuh baya itu.
Plakkkk!
Sebelum lelaki separuh baya itu membuka mulut kotornya Yuna kembali melayangkan tamparan keras di wajah yang sama. Rasanya Yuna ingin meringis, tangan kanannya terasa perih bekas tamparan kasar yang ia layangkan.
__ADS_1
"Tadinya aku diam saja karena anda seusia dengan papaku. Aku mencoba menghormati anda sebagaimana anak perempuan menghormati ayahnya. Tapi anda tidak layak untuk rasa hormat itu. Aku merasa tercela menghormari bandot tua mesum seperti anda. Cihhh." Ucap Yuna kasar sambil meludah kesebelah kirinya. Ia bertingkah seperti telah mengalami mimpi buruk.
Sebenarnya Yuna sangat takut, ia sengaja mengulur waktu agar Arnela bisa mencari kunci yang di lempar lelaki separuh baya itu.
"Ketemu." Celetuk Arnela cepat, ia tidak sadar karena suaranya lelaki separuh baya itu semakin marah.
"Tidak tahu diri." Ucap lelaki itu sembari menjambak rambut Yuna dengan keras.
"Nel. Cepat buka pintunya, lari keluar, di luar ada Vivi. Ahhh.... Lepas." Ucap Yuna berontak, ia merasakan perih luar biasa di kepalanya, rasanya rambutnya akan terlepas dari kepalanya.
Setelah membuka gagang pintu, Arnela berjalan cepat kearah Yuna. Kali ini Arnela yang gantian menjambak lelaki separuh baya itu. Sejurus kemudian Arnela melayangkan tendangan keras di kaki lelaki separuh baya yang masih menjambak rambut hitam sebahu Yuna. Yuna masih meringis.
Karena tidak bisa menahan tubuhnya, lelaki itu hampir tersungkur, dengan terpaksa ia melepas rambut Yuna sambil mendorong tubuh Yuna di sofa dengan kasar.
"Ahhhh, kakiku!" Ucap Yuna sambil meringis kesakitan, kaki mulusnya tersandung di meja kaca yang ada di sebelahnya.
Dengan cepat dan tanpa menghiraukan kakinya yang terasa nyeri Yuna meraih lengan Arnela kemudian berlari sambil mengunci pintu dari luar. Tanpa sengaja Yuna menabrak pria mesum yang bermesraan di depannya dua puluh menit yang lalu.
.
"Sudahlah, biarkan saja dia. Kita tidak ada urusan dengannya." Yuna menarik lengan Arnela lagi sambil bersiap keluar, tanpa ia sadari tiga orang lelaki sedang mengejarnya.
"Lari." Ucap Yuna tanpa melepaskan tangan Arnela. Melihat dua gadis muda itu ketakutan membuat lelaki yang tadi ingin di sapa Arnela beranjak mengikuti langkah gadis itu.
Di luar clab, dua lelaki yang berjaga pun sudah bersiap untuk menangkap Yuna dan Arnela.
"Aku bukan gadis lemah seperti yang kalian bayangkan." Ucap Yuna keras sambil melayangkan tinjunya pada wajah pegawal berwajah horor itu. Ia masih terlihat tidak nyaman dengan pakaiannya. Meskipun begitu gerakannya nampak lihai ketika menangkis tangan rekan adu jotosnya. Rok pendek yang Yuna gunakan membuat langkah kakinya lebih cepat. Ia melayangkan tendangan maut tepat mengenai ulu hati pengawal itu, pengawal itu tersunggur di depan clab sambil meringis kesakitan.
Aku tidak bisa bersama mu setiap saat, setidaknya gadis manja sepertimu harus bisa menjaga diri dari pria hidung belang. Mengingat ucapan singkat kakaknya membuat Yuna tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Terima kasih kakak. Gumam Yuna pelan sambil bersiap memberikan pukulan balasan. Setidaknya ia bisa membela dirinya, dan itu sudah cukup bagi seorang Yuna Dinata.
Yang membuat Yuna menghela nafas, ia khawatir tidak akan bisa kabur dari situasi genting yang dihadapinya saat ini. Maklum saja, satu lawan lima. Benar-benar lawan tidak berimbang.
"Manisss! Kamu terlalu cantik mendapatkan pukulan dari ku. Kenapa kau tidak masuk saja kemudian kita bisa bersenang-senang." Ucap lelaki mesum di depan Yuna.
Untungnya Arnela sudah lari kemobil sehingga ia tidak bisa melihat ganasnya Yuna memukul lawannya.
"Aku tidak takut pada kelelawar seperti kalian. Tampang kalian seperti manusia, tapi sesungguhnya kalian lebih buruk dari hewan sekalipun." Ucap Yuna kasar. Seumur-umur ia tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan orang jahat, ia sangat di berkarti memiliki kakak lelaki seperti Sawn, kakak yang selalu membela dan mencintainya tanpa batas.
"Ibu kalian benar-benar wanita yang tidak beruntung, mereka melahirkan setan berbentuk manusia. Aku benar-benar kasihan padanya." Ucap Yuna lagi dengan emosi yang membuncah.
"Dasar gadis sombong, ucapanmu lebih pedas dari cabe, rasakan ini."
Gdebukkkkk!
Sebuah tendangan keras mendarat di kaki Yuna, membuat gadis cantik itu tersungkur di lantai jalanan yang dingin. Yuna tidak menyerah, ia mencoba bangun namun sayangnya kakinya terlalu lemah untuk bisa berpijak di tanah.
"Kau terlalu sombong, wanita sepertimu tidak ada apa-apanya di banding mainan kami di dalam sana. Kali ini kesombongan mu akan menghancurkan egomu." Ucap pengawal itu kasar.
"Bawa dia masuk. Bos menunggunya di dalam." ucap pengawal itu lagi.
Mmmmm!
Seorang pria berdehem sambil melipat kedua lengannya di depan dada, sejak tadi ia terus saja memperhatikan adegan tidak berimbang yang sedang terjadi di depannya. Sayangnya, ia lebih memilih menjadi penonton setia ketimbang ikut terlibat dalam pertarungan adu jotos.
"Apa kalian tidak malu? Lima pria berbadan bak gajah bengkak melawan gadis sekecil semut! Aku yang melihat kalian saja rasanya ingin muntah. Dan kamu...?" Pria itu menunjuk pada lelaki yang berhasil melumpuhkan Yuna dengan kecurangannya.
"Apa kamu perempuan? Atau kamu seorang banci? Kenapa bermain belakang, jika kamu berani melawan kucing liar itu seharusnya kamu datang dari depan bukan menyerang dari belakang. Dasar payah." Umpat pria itu lagi. Melihat pria yang membelanya nampak santai, Yuna tersenyum sambil merunduk. Ia merasa bersyukur karena ada yang mebelanya dalam urusan genting yang sedang di hadapinya.
__ADS_1
Kucing liar! Dia memanggil ku kucing liar? Lihat saja nanti aku pasti akan membalas mu, dasar profesor mesum. Batin Yuna sambil berusaha bangun, namun tidak bisa karena salah satu pengawal itu memelintir lengannya.
...***...