Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Hujan dan Air Mata


__ADS_3

"Mbak yu, ayo kita mak..." Ucapan bu Romlah tertahan di tenggorokannya, ia terkejut


melihat bu Rahayu duduk di kamar Raina sambil memeluk baju putrinya itu.


"Mbak yu kenapa lagi...?"


Tidak ada jawaban dari bibir bu Rahayu. Ia memandangi wajah bu Romlah dengan tatapan nelangsa. Ada rasa lelah di mata itu. Bu Romlah sendiri tidak tahu apa yang membuat kakaknya terlihat begitu lemah.


"Mbak yu merindukan Raina? Anak itu kan baru pergi pagi ini, dia sudah berjanji akan berkunjung seminggu sekali." Ucap bu Romlah berusaha menenangkan kakaknya yang sedang melow.


"Satu tahun? Itu memang waktu yang cukup lama. Tapi dengan waktu selama itu, Insya Allah Raina kita akan tumbuh menjadi Muslimah yang jauh lebih bijak dari yang kita bayangkan." Ucap bu Romlah lagi, kali ini dengan wajah yang di penuhi dengan senyuman.


"Mbak yu juga percaya pada Raina, Rom. Hanya saja..." Bu Rahayu menghentikan kalimatnya, seolah ada yang mengganjal di hatinya. Melihat itu, bu Romlah ikut-ikutan terlihat khawatir, bu Romlah segera menenangkan perasaannya berharap bu Rahayu tidak menangkap rasa gelisahnya.


"Hanya saja...?" Bu Romlah melanjutkan ucapan bu Rahayu.


"Hanya saja mbak yu merasa akan ada hal besar yang akan terjadi, dan hal itu membuat mbak yu merasa gelisah." Ucap bu Rahayu pelan nyaris tanpa tenaga.


Bu Romlah tersenyum sambil mengapit wajah bu Rahayu dengan kedua tangannya.


"Mbak yu percaya kepada Allah?" Bu Rahayu mengangguk mendengar pertanyaan bu Romlah.


"Kalau begitu, mbak yu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Jauh sebelum manusia di ciptakan, Allah sudah menetapkan takdir baik dan buruk dalam kehidupannya."


Ada banyak peristiwa yang terjadi saat nabi Muhammad SAW Isra' Mi'raj, salah satunya adalah pertemuan Nabi Adam AS dan nabi Musa AS.


Nabi Muhammad SAW menceritakan pertemuan nabi Musa dan Nabi Adam. Hal itu terjadi karna permintaan nabi Musa AS, keduanya berbincang dengan nabi Muhammad SAW.


Nabi Musa menyalahkan Nabi Adam AS karna memakan buah khuldi, hal itulah yang membuat manusia berada di Bumi. Tindakan Nabi Adam AS itu di anggap sebagai dosa yang harus di tanggung anak dan cucunya. Bukti nabi Musa menyalahkan nabi Adam dari ucapan yang dilontarkan nabi yang di utus untuk Bani Israil itu, beliau berkata...


Kamu adalah Adam yang di ciptakan oleh Allah dengan tangannya, Dia meniupkan Ruh kepadamu, Dia memerintahkan Malaikat Sujut kepadamu, dan Dia mengizinkanmu tinggal di Surga. Kemudian gara-gara kesalahan, kamu menjadikan manusia di turunkan kebumi.


Namun nabi Adam AS memberikan pendapat terkait hal itu, terlebih dahulu beliau bertanya tentang jangka waktu Kitab Taurat ditulis sebelum Nabi Adam AS diciptakan. Kitab Taurat Empat Puluh Tahun lebih dulu ditulis sebelum nabi Adam diciptakan. Di dalam kitab Taurat terdapat pernyataan bahwa nabi Adam AS durhaka kepada Allah SWT, hal ini juga sejalan dengan yang tertulis dalam Al-Quran.


Dan durhakalah Adam kepada Allah dan sesatlah dia. (Qs.Thaha:121)


Nabi Musa pun membenarkan hal itu, dari jawaban nabi Musa AS nabi Adam kembali bertanya,


Apakah kamu menyalahkanku hanya karna aku melakukan sesuatu yang telah di tulis oleh Allah SWT empat puluh tahun sebelum dia menciptakanku...?


"Mbak yu percaya kepada Allah?" Tanya bu Romlah lagi kepada bu Rahayu yang terus saja mengeluarkan air mata karna kekhawatirannya pada putri sulungnya.


Hikk..hikk..hikkk...


Bu Rahayu menangis sejadi-jadinya di pelukan adik tersayangnya itu. Ia tidak menyangka kasih sayangnya pada Raina yang bukan darah dangingnya lebih besar dari apa yang ia bayangkan.

__ADS_1


"Apa mbak yu mau saya menghubungi Raina...?" Ucap bu Romlah sambil menyeka hidung bu Rahayu, ternyata benar ketika orang menjadi tua ia akan kembali seperti anak-anak.


"Tidak perlu, mbak yu yakin dia baik-baik saja." Ucap bu Rahayu pasrah.


Langit sore ini nampak mendung, seolah mewakili kekalutan hati bu Rahayu. Apapun yang terjadi semuanya akan kembali kepada Allah.


...***...


Sementara itu di kediaman Dinata, acara pesta baru saja usai. Bahkan Yuna sudah berganti pakaian dengan pakaian casual ala anak rumahan. Ia berbaring di atas ranjangnya sambil memikirkan terik apa yang harus di lakukannya agar kakaknya yang super dingin berubah menjadi sosok hangat seperti dulu.


"Eistt. Semua ini gara-gara Angel, wanita itu." Ucap Yuna sambil mengepalkan tangan kanannya.


Raina berusaha mendekatkan diri dengan Yuna, dengan cara membaringkan tubuh letihnya di samping tubuh gadis manis itu. Raina memandangi langit-langit kamar Yuna, sesekali ia juga memandangi wajah geram Yuna. Entah apa yang membuat gadis manis itu sangat membenci Angel, sosok yang sangat sempurna di matanya.


"Bukankah kau memintaku untuk tidak memanggilmu nona, apa aku boleh bicara dengan nyaman, dengan mu?" Ucap Raina memulai percakapan dengan Yuna.


"Ia. Tentu saja. Kak Raina boleh bicara senyaman yang kakak bisa." Balas Yuna sambil mengumbar senyum termanisnya.


"Angel. Menurut berita yang pernah ku dengar, dia adalah sosok yang sangat sempurna untuk pak Sawn. Apa yang membuat mu sangat membenci wanita cantik itu?"


"Wanita Cantik? Ku akui dia memang cantik, gara-gara dia kak Sawn berubah seratus delapan puluh derajat. Dan aku benci perubahan kak Sawn. Aku tahu wanita itu masih hidup, hanya kak Sawn saja yang buta. Dan itu yang sangat membuatku kesal." Ucap Yuna sambil meremas-remas bantal di tangannya.


Hhhmmm. Raina hanya bisa membuang nafas sedih, ternyata masih banyak orang di dunia ini yang memiliki hubungan yang sangat rumit.


"Masuk."


Mendengar suara ketukan pintu, Raina dan Yuna langsung terbangun dari posisi terlentangnya. Seorang pembantu muda yang kira-kira seusia dengan Raina muncul dari balik daun pintu. Wajahnya terlihat segar, dia cukup cantik untuk sekedar menjadi asisten rumah tangga.


"Non Yuna diminta tuan muda untuk segera turun bersama nona Raina, ini waktunya mereka pulang."


"Baik mbak." Ucap Yuna sopan.


Hhhmmm. Raina kembali menghela nafas, ia menyadari di antara semua anggota keluarga Dinata hanya Sawn saja yang paling mengesalkan. Apa yang akan dipikirkan keluarganya jika orang tuanya tahu bahwa dirinya mengancam seorang wanita demi tinggal bersama dirumahnya. Meskipun begitu Raina tidak bisa membuka aib lelaki yang di kaguminya itu di depan anggota keluargannya.


"Nak Raina, terimakasi atas kunjungannya. Tante sangat bahagia." Ucap bu Hanum sambil menggenggam jemari Raina.


"Saya yang berterimakasih karna sudah di terima dirumah besar ini." Ucap Raina sambil tersenyum.


"O Iya kak, kenapa aku tidak melihat kak Robin dimanapun, apa kau menunjukan kekuasaanmu dengan mengirimnya ketempat yang jauh?" Celetuk Yuna sambil memandang Sawn dengam tatapan tajamnya.


"Anak kecil tidak di perbolehkan mencampuri urusan orang dewasa." Balas Sawn sambil mencubit pipi Yuna. Yuna terlihat kesal.


Apa anak ini sangat dekat dengan Robin? Ini tidak bisa di biarkan, Robin si playboy cap jempol itu pasti akan merasa menang. Lirih Sawn dalam hati sambil memandangi wajah cemberut Yuna.


"Ma. Pa. Sawn harus pulang sekarang." Ucap Sawn pada Mama dan Papanya yang berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Mama pikir kamu akan menginap." Bu Hanum terlihat kecewa.


"Sawn pasti akan menginap, tapi tidak sekarang." Ucap Sawn sambil tersenyum kemudian memeluk tubuh mamanya yang merupakan sumber ketenangannya.


Bu Hanum hanya bisa memandangi tubuh putranya yang terus berjalan menjauh darinya. Setelah Tubuh Sawn menghilang di balik daun pintu, bu Hanum langsung mengalihkan pandangannya. Terlihat Air mata mulai keluar dari sudut matanya, segera ia hapus agar suami dan putrinya tidak menyadari kesedihannya.


...***...


"Sudah larut malam, tuan muda dan non Raina belum juga pulang. Apa mereka menginap di rumah nyonya Hanum?" Tanya bi Sumi pada suaminya.


"Tidak mungkin. Tuan muda tidak akan menginap di rumah orang tuanya." Balas suami Bi Sumi.


"Bapak benar juga. Tapi ini sudah jam 22.30 aku yakin tuan mengin..." Belum selesai ucapan bi Sumi, suara bel berbunyi benar-benar mengagetkannya.


"Selamat malam tuan." Sapa bi Sumi sambil membuka daun pintu lebar. Yang di sapa hanya berjalan tanpa menoleh kearahnya.


"Dasar Arogan." Celetuk Raina kesal.


Sawn langsung membalikkan tubuhnya, melihat tatapan Sawn, Raina langsung menutup bibirnya, merunduk pelan. Bi Sumi ingin tertawa melihat ekspresi wajah Raina. Sayangnya ia tidak bisa melakukan itu karna melihat wajah garang tuan mudanya.


Pasangan ini sangat menggemaskan. Tuan muda yang terlihat kasar dan pengertian bertemu gadis sebaik non Raina. Semoga Allah memudahkan jalan mereka. Aamiin. Pinta bi Sumi dalam hatinya.


Sawn memilih memasuki kamarnya dan beristirahat. Sementara Raina, ia memilih mengambil wudhu dan membaca Al-Quran. Surah Al-Mulk tidak pernah di tinggalkannya, kecuali dalam keadaan berhalangan.


...***...


Waktu menunjukan pukul 1.30 ketika Sawn keluar dari kamarnya, ia merasa haus.


"Suara apa ini?" Sawn berjalan menuju meja makan. Dilihatnya hempon berdering sejak tadi.


"Hempon siapa ini...?" Celetuk Sawn sambil melihat nama yang tertera di layar ponsel itu. 'BuDe❤'


"Apa ini Hand-phone Raina? Kenapa dia meletakkannya disini. Dasar ceroboh." Pelan Sawn menggeser tombol hijau.


Hallo sayang. Kenapa kamu lama sekali mengangkat panggilan ibu? Apa kamu tahu seberapa takutnya ibu disini? Baiklah, lupakan itu. Apa kamu baik-baik saja? Cecaran pertanyaan memenuhi indra pendengaran Sawn. Sayangnya, ia tidak bisa mengatakan apapun.


Sekarang Hujan, apa kamu baik-baik saja? Terdengar kekhawatiran dari sebrang sana. Tanpa berucap sepatah kata, Sawn langsung berlari kearah kamar Raina. Dibukanya pintu itu pelan, betapa terkejutnya Sawn Praja Dinata, di pandanginya wajah Raina dalam kegelapan. Tidak ada suara apapun selain suara tangis Raina. Semakin lama tangis itu terdengar semakin pilu di telinganya.


Sawn menggenggam jemari Raina, dan tangan yang satunya mengelus puncak kepala Raina yang terbalut kerudung.


Apa yang membuatmu menangis histeris di kala alam sedang bernyanyi bersama hujan, banyak hal yang tidak ku ketahui tentang dirimu? Betapa sombongnya aku karna berani mengurai rasaku untukmu dikala aku buta dengan segala dukamu.


Hujan dan air mata ini akan tergantikan dengan kebahagiaan, tunggu aku sayang. Lirih Sawn masih dalam keadaan menggenggam jemari Raina dan mengelus puncak kepada gadis manis di hadapannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2