
Setelah makan malam, semua orang memilih kembali kekamar masing-masing. Tadinya Yuna ngotot ingin berbincang santai dengan Raina, sayangnya tidak berhasil karena bu Hanum memarahinya.
"Yuna, biarkan kakak mu istirahat. Jangan ganggu mereka."
"Tapi, ma..." Balas Yuna dengan wajah masamnya.
"Tidak ada tapi-tapian, apa kau mau ku pukul?" Ucap bu Hanum santai sembari memamerkan wajah tersenyumnya.
"Tidak!" Balas Yuna sambil berjalan dengan kepala tertunduk.
Mengingat percakapan mama dan adiknya sepuluh menit yang lalu membuat Sawn ingin tertawa lepas. Raina yang melihat suaminya tersenyum mulai mengerutkan kening. Aneh saja, menurutnya tidak ada yang lucu tapi suaminya malah tersenyum sendiri.
"Sayang, tamu ku sedang datang!" Ucap Raina sembari mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Tamu? Tamu apa?" Balas Sawn santai sambil menutup laptopnya dan menatap Raina dengan tatapan penasaran.
"Kau masih menggunakan jilbab? Kapan aku bisa melihat rambut istriku?"
"Aku bilang tamuku sedang datang!" Ucap Raina lagi, ia terlihat panik.
"Tamu? Maksutmu... Ta-mu bu-la-nan, kan?" Tanya Sawn gugup.
Raina menjawab pertanyaan Sawn dengan anggukan kepala.
"Allah Akbar... Apa lagi ini..." Ucap Sawn sambil menangkupkan wajah dengan kedua tangannya.
"Tadinya aku ingin memberikanmu kejutan, sayangnya tidak bisa. Masih sanggup puasa, kan?" Tanya Raina sambil tersenyum tipis. Di tangannya ia masih memegang gaun putih transparan selutut.
Melihat gaun yang di pegang Raina dengan kedua tangannya membuat Sawn menghela nafas dalam.
Rasanya Raina ingin tertawa lepas melihat wajah putus asa suaminya namun ia berusaha untuk tidak melakukan itu. Semenit kemudian Raina kembali kekamar mandi, ia bermaksut mengganti gamis yang ia gunakan dengan piyama tidur. Kali ini ia keluar tanpa menggunakan jilbab. Rambut hitam panjangnya ia biarkan tergerai indah.
__ADS_1
Ini untuk pertama kalinya Raina memperlihatkan Rambutnya pada orang lain selain ibu dan adik-adiknya.
"Sawn..." Sapa Raina lagi, kali ini ia berjalan kearah sofa tempat suaminya bekerja. Sawn yang memutuskan untuk memeriksa kembali laporan perusahaan terpaksa menoleh kearah Raina yang memanggilnya.
"Masya Allah... Can-tik nya istri ku." Ucapan Sawn terputus-putus melihat kecantikan alami istri yang berdiri di hadapannya.
Rambut hitam milik Raina nampak berkilau di bawah sinar lampu yang sedikit redup. Wajah ayu tanpa polesan make itu semakin terlihat cantik. Mungkin karena inilah orang selalu berkata, kecantikan sebenarnya bersumber dari hati.
"Kau tidak mengantuk?" Raina bertanya karena jam di dinding sudah menunjukan angka sepuluh tepat. Sawn yang di tanyainya langsung berdehem pelan, seolah pertanyaan Raina mengembalikannya kealam bawah sadarnya.
"Ak-aku masih punya pekerjaan, sebentar lagi selesai. Kau boleh tidur lebih dulu."
"Baiklah." Balas Raina sambil berjalan ketempat tidur. Sedetik kemudian sawn kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia sama sekali tidak menyadari kalau Raina terus saja memperbaiki posisi tidurnya, sejujurnya Raina tidak bisa tidur dengan lampu yang menyala.
Pelan Raina berjalan kearah balkon, ia berdiri disana cukup lama. Sesekali ia menarik nafas dalam kemudian pelan menghembuskan kasar dari bibirnya. Berkali-kali ia melakukan itu sampai ia berpikir ia baik-baik saja dan merasa terberkati dengan Takdir yang Tuhan gariskan untuknya.
Aku memandangimu tanpa perlu menatap, aku mendengarmu tanpa perlu alat, aku menemuimu tanpa perlu hadir, aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena kini kumiliki segalanya. Lirih Raina dalam hatinya sambil membayangkan wajah suaminya, ia bahkan merentangkan kedua lengannya membiarkan angin malam membelai lembut sekujur tubuhnya.
"Ini sangat menyegarkan." Ucap Raina pelan dengan mata tertutup, tanpa ia sadari Sawn mengawasinya dari belakang punggungnya.
"Disini sangat dingin, kenapa kau keluar?" Ucap Sawn lagi mengurai tanyanya sambil memeluk tubuh Raina dari belakang, ia mengeratkan pelukannya di temani cahaya rembulan malam.
"Aku tidak bisa tidur dengan lampu menyala. Aku suka bau suamiku!" Goda Raina, ia tersenyum sambil memegang tangan Sawn yang melingkar di tubuh rampingnya.
"Maafkan aku!"
"Untuk apa?"
"Untuk menjadi suami yang tidak tahu apa pun tentang istrinya!"
"Siapa bilang suamiku tidak tahu apa pun tentangku? Yang ku tahu ia sangat mencintaiku! Ia akan berbuat apa pun untuk ku, termasuk membuatku selalu bahagia, dan itu sudah cukup untuk ku." Ucap Raina pelan sambil memandangi netra Sawn untuk sesaat, kemudian ia kembali menatap kedepan.
__ADS_1
"Apa kau merasa nyaman tinggal disini? Jika istri cantikku tidak nyaman, kita bisa pulang kerumah kita sekarang, sekarang juga!"
"Pulang, sekarang? Ini tengah malam, apa itu tidak berlebihan?"
"Tidak ada yang berlibahan jika menyangkut kebahagiaan dan ketenangan istriku!" Balas Sawn.
Sinar Rembulan malam ini menjadi saksi cinta dua anak manusia yang saling mencintai karena Allah, cinta yang begitu lama terbungkus dalam diam kini bisa ia salurkan dengan ikatan halal. Berpegangan tangan ataupun berpelukan bukan lagi menjadi masalah besar, karena ikatan mereka telah mendapat restu Tuhan yang maha kuasa, Tuhan yang memegang jiwa mereka.
"Maafkan aku karena mahar ketiga yang kau minta sedikit sulit untuk ku!" Ucap Sawn lagi penuh penyesalan.
"Sulit? Maksutmu membaca Qur'an?"
"Iya." Sawn menghela nafas kemudian pelan menghembuskannya kasar dari bibirnya sampai Raina bisa merasakan tengkuknya hangat oleh sapuan nafas Sawn.
"Aku tidak kecewa walau kau membacanya dengan terbata-bata. Aku justru bangga pada suamiku karena dia berusaha melaksanakan permintaanku, walaupun itu sulit menurutnya." Ucap Raina sambil memandangi wajah suaminya dan melayangkan kecupan singkat di bibir tipis Sawn Praja Dinata.
"Aku tahu semuanya, Andre menceritakan segalanya tentang kesulitan yang kau alami ketika membaca Al-Qur'an. Andre juga memberitahukan ku kalau ia pernah menuntunmu membaca surah pembuka Al-Quran, maksutku surah Al-fatihah." Sambung Raina, wajah itu terlihat tak berdaya, ia terlihat malu dan kesal pada dirinya sendiri sebagai seorang imam rumah tangga ia tidak lancar membaca Al-Qur'an.
"Aku bahagia karena kau mau belajar, kita akan berusaha mewujutkan rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah, Warohmah. Kita akan belajar sama-sama sampai Tuhan kita Rido pada kita berdua, tak perduli waktu yang akan kita habiskan setahun, dua tahun, tiga tahun, atau mungkin juga seumur hidup kita." Ucap Raina sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah tampan milik Sawn Praja Dinata.
Sawn tersenyum mendengar ucapan singkat Raina, ucapan singkat itu berhasil menembus lubuk terdalamnya. Ia sangat bahagia sampai air matanya menetes mengenai tangan Raina.
"Kau menangis?"
"Aku terharu mendengar ucapan istri saleha ku, mendengar ucapannya semakin membuatku jatuh cinta." Sawn menyunggingkan senyum tipis di wajah tampannya.
"Katakan padaku, kenapa kau mau menikah dengan ku sementara kau tidak pernah mengungkapkan kalau kau mencintaiku?" Sawn mengurai tanyanya sambil memutar tubuh Raina menghadap depan sehingga ia bisa memeluk istrinya dari belakang.
"Hmm, cinta? Siapa bilang aku tidak mencintai Sawn Praja Dinata?"
Sawn tersentak mendengar ucapan Raina, selama ini ia hanya tahu kalau Raina membencinya, karena itulah ia mendapat penolakan yang berhasil membuat hatinya terkoyak. Ia ingin mendengar pengakuan lebih dalam dari istrinya, pengakuan yang akan membuat jantungnya berpacu lebih cepat karena bahagia.
__ADS_1
Aku ingin kau tahu, diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan, aku ingin hari depan ku selalu bersamamu. Ucap Raina pelan sambil berbisik di telinga Sawn Praja Dinata, bisikan hangat yang berhasil membuat jantung Sawn berpacu lebih cepat.
...***...