Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, acara besar Pak Andi dan Bu Hanum akan di helat malam ini pada pukul tujuh Malam. Para tamu undangan pun sudah tiba di kediaman Dinata dengan penampilan sempurna dari tiap-tiap orang.


Di luar gerbang sudah ada Bu Rahayu, Bu Romlah dan semua anak panti lainnya, kecuali si bungsu Amel yang tidak ikut, ia di tinggal di panti bersama wanita separuh baya yang biasa membantu Bu Romlah bekerja di dapur.


Sementara itu di dalam rumah, ada Sawn yang sedang menunggu istri tercintanya dengan perasaan putus asa. Berkali-kali ia mengarahkan pandangannya kearah pintu masuk, bukannya melihat Raina, ia malah melihat ibu mertuanya dan rombongan penghuni panti lainnya.


"Assalamu'alaikum, bu." Sawn mendekat dan menyapa Bu Rahayu. Ia bahkan tidak segan lagi sekarang. Ia meraih tangan bu Rahayu dan Bu Romlah, mencium tangan kedua wanita yang sangat di hormati istrinya itu dengan penuh takzim.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab Bu Rahayu dan Bu Romlah bersamaan.


"Ibu perhatikan, dari tadi kau terus saja menatap kearah pintu depan, apa kau sedang menunggu seorang yang spesial?" Tanya Bu Rahayu pada Sawn dengan raut wajah seriusnya.


Tidak ada bantahan dari Sawn, mendengar pertanyaan ibu mertuanya membuat ia hanya bisa tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa kau mencari Raina?" Bu Rahayu kembali mengurai tanyanya, kali ini ia menepuk bahu kekar menantunya.


"Aku rasa dia sangat cocok menjadi putri, ibu. Ibu sangat pandai menebak isi hatiku. Sementara putri ibu itu sangat pandai membuat ku putus asa, aku putus asa karena sangat merindukannya." Balas Sawn tanpa di buat-buat, ia memang sangat merindukan istri salihanya. Untuk menutupi kegelisahannya Sawn bahkan tidak melepas senyuman dari bibir tipisnya.


"Ibu juga sangat merindukan istri mu. Ibu ingin bicara padanya, ibu ingin minta maaf padanya." Ucap Bu Rahayu dengan kepala tertunduk. Penyesalan kini memenuhi rongga dadanya.


"Ibu ingin minta maaf pada Raina? Putri saliha ibu tidak pernah mengatakan apa pun padaku!" Sawn menatap Bu Rahayu dengan tatapan penasaran, sedetik kemudian wanita yang berdiri di depan Sawn itu hanya bisa meneteskan air mata, ia menangis penuh penyesalan.


Kini Bu Rahayu mulai mengurai kisahnya, dimulai dari bagaimana Raina menyatukan Andre dan Bu Alya, kemarahannya yang membuncah, dan berakhir sampai wanita separuh baya itu menampar Raina.

__ADS_1


Sekujur tubuh Sawn merinding mendengar penuturan singkat Bu Rahayu. Sama seperti Ibu mertuanya, Sawn pun meneteskan air mata dalam diamnya. Ia tidak pernah menyangka istri tercintanya akan mengalami masalah yang pelik gara-gara masalah tantenya.


"Ibu tidak perlu khawatir, Raina gadis yang kuat dan bijaksana. Sebentar lagi dia pasti akan datang, begitu dia datang dia pasti akan berhambur dalam pelukan ibu." Ucap Sawn berusaha menenangkan Ibu mertuanya yang terlihat sangat sedih.


Tidak ada lagi ucapan sedih yang keluar dari bibir Sawn dan Bu Rahayu, mereka sama-sama menghapus air mata kemudian saling tersenyum untuk mengawali hari yang baru dalam kehidupan mereka yang di penuhi warna.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda, Prof. Zain hanya bisa tersenyum untuk mengekspresikan bahagianya. Rasanya kurang lengkap bahagia yang ia rasakan tanpa tarian dan nyanyian, meskipun demikian Prof. Zain hanya bisa mengikuti keinginan gadis anggun yang ada di depannya untuk tidak terlalu berlebihan dalam mengekpresikan bahagianya.


"Apa aku boleh bertanya?" Yuna membuka suara di antara senyapnya udara, untuk sesaat ia menatap pemilik iris biru itu tanpa melepas senyuman dari bibirnya.


"Tanyakan apa pun yang kau inginkan? Insya Allah akan ku jawab dengan jujur tanpa ada kebohongan." Balas Prof. Zain serius.


Mendengar pertanyaan Yuna, Prof. Zain terlihat berpikir. Ia sendiri lupa sejak kapan benih-benih cinta itu mulai muncul di hatinya.


"Aku tidak ingat sejak kapan perasaan cinta itu muncul untuk pertama kalinya. Yang ku ingat, setiap kali melihat wajahmu dan berada disisimu, dadaku terus saja berdebar.


Dag.Dig.Dug. Suaranya seolah mengalahkan bunyi apa pun yang ada di dunia ini. Memiliki mu adalah karunia terbesar dalam hidupku, dan memiliki ku mungkin saja adalah bencana terbesar untukmu. Meski demikian, tetaplah mencintaiku, karena hanya denganmu aku akan belajar menjadi baik. Dan karenamu juga aku akan berusaha menjadi yang terbaik sehingga aku layak berdiri disisimu sebagai pendamping yang tidak membuatmu malu karena perangaiku." Jawab Prof. Zain dengan kepala tertunduk.


Mendengar pengakuan Prof. Zain, Yuna hanya bisa mengangguk pelan.


"Aku memang bukan pria sempurna, namun hadirmu akan menyempurnakan hidupku. Kau ada di mata, hati, dan juga pikiranku. Apa kau punya pertanyaan lain? Tanyakan saja supaya keraguanmu tentang diriku akan menghilang bersama dengan helaan nafas kasarmu!" Sambung Prof. Zain lagi, kali ini ia menatap wajah cantik di depannya dengan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


"Pertanyaan kedua, ini sangat sensitif, meskipun begitu aku akan tetap menanyakannya agar ganjalan dihatiku menghilang bersama dengan kejujuran yang coba kau jelaskan." Kali ini Yuna yang merunduk, ia terlihat malu pada pertanyaan yang akan ia lontarkan.


"Ap-apa kau per-nah me-lakukan hubungan yang biasanya di-la-ku-kan pasangan su-a-mi is-t-ri dengan perempuan la-in?" Yuna bertanya dengan kegugupan luar biasa, suaranya nyaris tak terdengar. Ia sangat malu pada pertanyaannya sampai ia sendiri menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Tidak ada jawaban apapun dari Prof. Zain selain helaan nafas kasar, satu menit berlalu, sampai menit kelima pun ikut berlalu namun tetap saja tidak ada jawaban. Yuna sangat penasaran dengan tingkah pria tampan yang duduk di depannya, ia memberanikan diri menatap pria rupawan itu dengan perasaan campur aduk yang memenuhi rongga dadanya. Bukannya kesal, ia malah melihat senyuman seindah purnama milik Prof. Zain De Lucca. Senyuman yang hanya di tujukan untuknya.


"Aku sedang menunggumu menunjukan wajah cantikmu. Aku ingin kau mendengar jawaban yang akan ku berikan dengan mata terbuka, jika kau sanggup menunggu jawaban dariku dengan perasaan takut, takut karena kecewa dengan apa yang akan kau dengar. Maka aku pun sama, entah itu mengejutkan atau membahagiakan aku hanya ingin melihat wajah wanita yang kucintai ketika dia mendengar pengakuan dariku. Entah aku akan mendapatkan tatapan cinta, amarah, atau kebencian setelah itu, aku hanya ingin menatap wajahmu." Ucap Prof. Zain tanpa melepas senyuman dari bibirnya.


Aku tidak pernah keberatan menunggumu, berapa lama pun selama aku mencintaimu. Aku tak ragu untuk mengatakan bersama denganmu walau sebatas embusan angin kunamai itu anugrah. Gumam Yuna dalam hatinya sembari memperbaiki posisi duduknya, kini ia siap mendengar jawaban Prof. Zain dari pertanyaan seriusnya, walaupun nantinya ia akan merasakan kecewa setidaknya ia tidak menyesal untuk itu.


"Aku memang playboy yang suka mempermaikan perasaan wanita. Tapi itu dulu, sebelum aku mengenalmu.


Dalam hidupku, aku memiliki prinsip untuk tidak merusak wanita manapun. Aku hanya ingin melakukan hubungan melebihi batas ciuman dengan wanita yang menjadi pendamping hidupku, dan itu bukan dengan kekasihku. Apa kau sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu? Atau masih ada pertanyaan lain yang mengganjal di hati dan pikiranmu? Tanyakan semuanya. Dengan Rahmat yang Kuasa aku pasti akan menjawabmu dengan jujur tanpa ada kebohongan yang terselip di dalamnya." Urai Prof. Zain tanpa melepas pandangannya dari wajah tersipu malu milik Yuna Dinata.


Waktu hampir menunjukan pukul delapan malam, namun tidak ada tanda-tanda Yuna akan meninggalkan taman kediaman Sawn Praja Dinata, percakapan seriusnya dengan Prof. Zain telah membuatnya melupakan acara besar yang ada di rumahnya, ia bahkan melupakan janjinya untuk segera pulang.


Untuk sesaat, tidak ada percakapan apa pun di antara dua makhluk indah itu, yang ada hanya tatapan penuh cinta dan saling membalas senyuman.


Mmmmm....


Suara deheman panjang berhasil mengejutkan Prof. Zain dan Yuna. Kini mereka berdua menatap dengan tatapan tajam kearah sosok yang berdiri di hadapannya, sosok yang berhasil membuatnya merinding.


Tamu tak di undang ini datang dari mana? Ini benar-benar mengesalkan. Gerutu Prof. Zain sembari bangun dari posisi duduknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2