
Suasana salon sore ini nampak riuh oleh pertikaian dua gadis anggun yang saling membalas dengan kata-kata sumpah serapah.
Vivi dan Arnela terlihat geram melihat sahabatnya di perlakukan semena-mena. Dengan sikap yang tak kalah bar-bar dari Angel, Vivi berjalan mendekati Aktris cantik itu hendak menjambak rambutnya, dengan sigap Yuna menarik lengan Vivi agar tidak terpancing oleh Angel yang mulai terlihat di luar kendali.
"Ooo... Jadi kamu membutuhkan bantuan dari sahabat-sahabat payah mu?" Angel menunjuk Yuna dengan jari telunjuknya.
"Dan kalian berdua? Kalian mau membantunya? Masalah kalian saja bertumpuk-tumpuk seperti koran bekas, tapi kalian ingin bersikap Pahlawan di depannya. Dasar payah!" Bentak Angel sambil menunjuk kearah Vivi dan Arnela yang saat ini masih berdiri mematung menahan amarah yang hampir meledak.
"Dasar rubah licik! Di depan camera kamu bertingkah seperti peri tanpa sayap, tapi kenyataannya kamu hanya wanita dengan ambisi melebihi batas. Katakan saja kamu iri pada Yuna? Kamu menginginkan kakaknya tapi kamu memperlakukan adiknya sangat buruk. Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi nona, karena terlalu sakit ketika kamu terjatuh." Ucap Arnela dengan suara bergetar menahan amarah yang hampir meluluh lantakkan jiwanya. Persahabatannya dengan Yuna sedang di uji, tidak mungkin ia diam saja tanpa membela sahabat yang sangat ia cintai dan sangat dekat dengan hatinya.
"Untuk apa kau bersikap lunak padanya? Wanita sepertinya tidak akan mempan jika kita hanya bicara saja, bahkan mematahkan tulangnya tidak akan cukup untuk kita." Vivi menegur Arnela karena bicara dengan nada lembut pada gadis kasar yang masih berdiri dengan senyum sinisnya.
Melihat dua sahabatnya bertindak tanpa diminta membuat Yuna diam sembari mendengar setiap kata yang di rangkai Vivi dan Arnela.
Ucapan Vivi ada benarnya, untuk apa bersikap lunak pada si rubah Angel. Mematahkan tulangnya akan jauh lebih baik. Sayangnya Yuna tidak sekejam itu.
Ya Allah... Betapa bodohnya diriku, hanya karena sebuah tamparan aku ingin mematahkan tulang orang yang berani mengusik ku. Apa yang ku lakukan disini? Aku hanya mendengar cacian saja, sepertinya ini teguran karena aku murit yang buruk. Teman-teman ku sedang belajar di kampus aku malah melakukan hal tidak berguna. Dasar payah. Gerutu Yuna dalam hatinya.
Netra hitam Yuna menyapu setiap bagian salon, untungnya orang yang melihatnya beradu mulut tidak terlalu ramai.
"Aku tidak pernah melihat wanita murahan selain dirimu! Kau dan kakak iparmu sama saja. Kalian berdua benar-benar munapik!" Suara teriakan Angel terasa bergema di telinga Yuna.
Munapik?
__ADS_1
Murahan?
Dua kata itu bagai bom molotov yang meluluh lantakkan sikap tenang Yuna. Iris hitam yang tadinya terlihat tenang menatap Angel dengan tatapan setajam belati.
Yuna mengepalkan kedua tangannya. Baru kali ini ia merasakan kemarahan yang menyesakkan dada.
"Apa mama mu tahu? Di luar rumah kamu bertingkah seperti gadis murahan yang menawarkan diri pada pria mapan? Ciihh, aku muak melihat mu!" Sambung Angel tanpa memperdulikan tatapan tajam Yuna yang ingin mengulitinya.
"Tutup mulut mu! Sudah cukup dengan omong-kosongnya. Jangan pernah bawa mama ku dalam masalah ini. Jika tidak, kamu pasti akan menyesal." Yuna menunjuk Angel dengan jemari lentiknya, matanya memerah menahan amarah. Tidak ada lagi stock kesabaran dalam diri seorang Yuna untuk menghadapi wanita bermulut pedas seperti Angel Sasmita.
"Apa masalahmu? Aku mencoba untuk tetap diam, tapi mulut kotormu tidak berhenti mengoceh hal yang tidak masuk akal. Munapik? Murahan? Apa kau pikir aku wanita seperti dirimu yang akan mengumbar tubuhku pada sembarang pria? Katakan, pria mana yang kau maksut?" Yuna menarik Arnela dan Vivi kebelakang, sementara ia melangkah mendekati Angel.
"Zain! Jauhi dia! Jangan pernah mengumbar senyum palsumu padanya."
Tidak jauh berbeda dengan Vivi dan Arnela, Yuna pun terlihat berpikir sejenak. Sampai akhirnya pikirannya terhenti pada satu Zain yang ia kenal. Pria tampan pemilik iris biru itu hadir dalam benak Yuna dengan senyum terindahnya. Wajah Yuna terlihat sedih, ia benar-benar kecewa, kenapa pria secerdas Prof. Zain terlibat dengan rubah kasar seperti Angel Sasmita.
"Ooo... Jadi pria yang kamu maksut itu Profesor. Zain De Lucca? Tidak heran kenapa aku bisa membencinya, ternyata dia antek-antek yang selalu ada disisimu!" Ucap Yuna sambil tersenyum sinis.
Jauh di lubuk hatinya Yuna benar-benar kesal dan kecewa, semakin buruk nilai yang di berikan Yuna untuk Prof. Zain. Berteman dengan Angel tidak akan membuat lelaki itu jauh berbeda dengan wanita yang berdiri di hadapannya. Kasar dan arogan seolah menjadi perhiasan bagi sosok indah yang berdiri penuh kesombongan itu.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku dekat dengannya atau tidak! Yang perlu kamu khawatirkan, sanggupkan pria itu tidak mendekatiku? Wanita sepertimu hanya memiliki kecantikan, kamu tidak memiliki pesona yang akan membuat priamu menetap disisimu." Yuna mengeluarkan kejahilannya, ia bicara dengan nada cukup tenang, namun ucapannya berhasil mengaduk-aduk perasaan Angel Sasmita.
"Pria seperti Profesor. Zain tidak bisa menarik perhatianku! Aku benci padanya, namun aku jauh lebih benci padamu. Jangan pernah muncul di hadapanku, aku bukan gadis sesabar kakak ipar Raina yang akan membiarkanmu tertawa bahagia setelah mempermalukan ku di depan umum.
__ADS_1
Ini peringatan terakhir, jangan bersikap sok berani di depanku. Sepuluh wanita seperti mu tidak akan membuatku gentar! Jaga priamu baik-baik, karena aku tidak bisa menjamin diriku untuk tidak tertarik padanya...!" Ucap Yuna sambil mundur dan berdiri di tengah Vivi dan Arnela.
Rasanya Yuna ingin tertawa lepas melihat kemarahan Angel yang hampir meledak lagi. Baru kali ini ia mendapatkan lawan debat yang sepadan. Ia keluar dari salon tanpa melakukan perawatan apapun yang kemudian di ikuti Arnela dan Vivi di belakangnya.
Jaga priamu baik-baik, karena aku tidak bisa menjamin diriku untuk tidak tertarik padanya! Ucapan yang Yuna lontarkan untuk membuat Angel kesal kembali terngiang di kepalanya. Senyuman yang tadi mengembang di bibir tipisnya seolah tenggelam dalam perasaan ketakutan, Yuna takut jika dirinya benar-benar tertarik pada Profesor mesum itu.
Omong-kosong, itu tidak akan pernah terjadi! Lagi pula aku bukan gadis bodoh yang akan tertarik pada ketampanannya. Gumam Yuna dalam hatinya.
Aahhhh! Aahhhhh!
Yuna Meninggalkan Angel dengan segala kemarahannya. Teriakan gadis itu bahkan terasa bergema di telinganya.
"Kamu tidak akan selamat dari ku Yuna Dinata! Cintaku pada kakak mu tidak akan menghentikan langkah kaki ku untuk membalasmu. Tunggu saja...!" Ucap Angel dengan amarah yang semakin membuncah.
Sementara itu Azan magrib mulai berkumandang di seluruh seantaro kota, Yuna meminta Vivi menghentikan mobilnya di depan Masjid yang ada di pinggir jalan untuk melaksanakan Shalat Magrib. Tidak perduli dengan mobil yang kadang-kadang mengular di sepanjang jalan, hal itu tidak akan menghentikan Yuna untuk melaksanakan shalatnya.
Yuna selalu menyakini, jika shalat mu baik maka kehidupanmu pun akan baik. Tak perduli seburuk apa pun keadaanmu jangan pernah tinggalkan hal yang menghubungkan mu dengan Tuhan mu. Karena shalatmu jauh lebih berharga dari dunia dan isinya.
Di tempat berbeda, Angel Sasmita membasuh wajahnya dengan air di toilet salon, ia berharap dengan membasuh wajahnya akan mengurangi kekesalannya. Nyatanya itu tidak benar, amarah yang telah membutakan mata hati dari kebenaran jauh lebih membara dari kobaran api sekalipun.
Hidup memang menantang. Hidup kadang melempar, kadang menampar. Tapi hidup terlalu megah untuk di akhiri oleh diri sendiri. Bukankah keindahan hidup sering kali di temukan dalam pilu?
...***...
__ADS_1