Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Keraguan


__ADS_3

"Saya sudah menceritakan segalanya pada kedua orang tua saya, mereka bilang mereka sangat senang. Insya Allah pekan depan mereka akan berkunjung dan melamar Yuna secara langsung." Ucap Prof. Zain mengabarkan beritanya. Tidak ada lagi rasa khawatir yang dirasakan Bu Hanum, yang ada hanya perasaan lega luar biasa.


"Yuna, antar nak Zain sampai pintu depan. Mama dan Papa akan Salat isya di kamar, setelah itu kami akan istirahat. Jangan lupa minta Mbok Dami menutup pintunya setelah kau masuk." Pinta Bu Hanum setelah pak Andi dan Sawn tak nampak lagi di netra teduhnya.


"Bin... Kau harus sering-sering main kemari. Jika Yuna menikah kami pasti akan kesepian." Ucap Bu Hanum sambil melepas pelukannya dari tubuh kekar Robin.


"Walaupun Tante tidak memintaku datang, aku pasti akan tetap datang. Si pembuat onar Yuna akan pergi, tentu saja aku akan berkuasa disini. Selama ini dia terlalu bawel." Protes Robin sambil memamerkan senyum meledeknya pada Yuna.


Setelah berpamitan dengan Robin dan Prof. Zain, Bu Hanum meninggalkan ruang tengah dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Bu Hanum tahu Pak Andi pasti sedang menunggunya untuk salat isya berjamaah karena itulah ia mempercepat langkah kakinya.


Sementar itu Yuna yang mendengar ucapan Robin hanya bisa menyebikkan bibir tipisnya. Jika di bandingkan dengan Sawn, Robin jauh lebih nakal, bahkan setiap kali bertemu dengan Robin darahnya terasa mengalir lebih cepat.


Pembuat onar? Hah! Aku sangat marah. Gerutu Yuna dalam hatinya.


"Mas Robin tidak pulang?" Yuna menatap wajah tampan Robin dengan tatapan tajam, seolah tatapan itu mengabarkan kalau pemiliknya sedang jengkel.


Seperti biasa Robin hanya menanggapai kejengkelan Yuna dengan memelototinya, setelah itu ia akan tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Aish! Menyebalkan!" Gerutu Yuna lagiI sambil menatap punggung Robin yang berjalan semakin menjauh darinya.


"Kau sangat akrab dengan Pak Robin! Jujur, aku pernah cemburu padanya. Melihat kedekatan kalian membuatku merasakan sedih luar biasa." Ucap Prof. Zain sambil menatap wajah cantik Yuna, sosok yang berhasil membuat jantungnya berdegup sangat kencang.


Penuturan tulus Prof. Zain berhasil membuat Yuna tersenyum lega, ia sangat bahagia sampai tidak bisa menahan perasaannya.


Prof. Zain memberanikan diri menggenggam jemari lentik Yuna. Yuna yang mendapati Prof. Zain meraih jemarinya langsung terperanjak, sekujur tubuhnya seolah di aliri aliran Listrik bertegangan tinggi. Bibirnya terkunci rapat, untuk sesaat ia terdiam sambil mencerna keadaan yang semakin membuatnya merasakan cinta tanpa batas.


"Ap-apa yang kau lakukan? Jika Papa melihat mu seperti ini dia akan membunuhmu!" Ucap Yuna spontan. Melihat tanggapan Yuna membuat Prof. Zain tertawa lepas. Untuk pertama kalinya ia menemukan gadis semurni Mutiara. Biasanya, jika ia mendekati wanita, tak jarang para wanita itu yang akan duluan memeluk dan mencium bibir seksinya.


"Dengar! Kau bisa berpikir sesukamu. Kau bisa mengatakan kalau aku gadis primitif atau gadis ketinggalan Zaman. Jika kau mau bersamaku maka kau harus tahu batasanmu.


Jika aku tidak mengizinkanmu menggenggam tanganku, maka kau juga harus menahan diri untuk tidak memeluk atau menciumku." Yuna mencoba mengingatkan. Tatapan tajamnya menembus lubuk hati terdalam Prof. Zain De Lucca. Tidak ada bantahan dari Prof. Zain, yang ada hanya anggukan kepala mengiakan setiap ucapan gadis impiannya.


"Kau tahu? Walaupun kau ada di depanku, aku masih sangat merindukanmu."


"Gombal." Balas Yuna sambil mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Prof. Zain yang sedang berlutut dan mensejajarkan tingginya dengan Yuna yang masih duduk di kursi roda.


"Aku bersungguh-sungguh dengan yang ku katakan! Walau kau dekat denganku seperti ini aku sangat merindukanmu. Dan ini untuk pertama kalinya aku merasakan cinta sebesar ini, cinta yang sanggup melumpuhkan jiwaku jika kau tidak bersamaku.

__ADS_1


Tunggulah sebentar lagi, aku akan segera mengikatmu dengan ikatan yang tak kan bisa kau lepaskan. Seumur hidupmu kau harus melihat kenakalan ku, keisenganku dan cinta tanpa batasku." Ucap Prof. Zain penuh semangat, ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum.


Pembicaraan romantis mereka terhenti oleh deringan ponsel Prof. Zain yang bersumber dari sakunya.


"Berhenti menatapku seperti itu! Ponselmu berdering, jika panggilan itu dari Mamamu maka dia akan berpikir aku telah mencuri putranya." Goda Yuna sambil menunjuk kearah saku Prof. Zain. De Lucca.


Prof. Zain meraih ponselnya, seketika wajah tampannya memamerkan kebahagiaan luar biasa begitu ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Entah siapa yang memanggilnya sampai ia terlihat sangat antusias, meskipun begitu Prof. Zain tetap duduk di dekat Yuna.


"Assalamu'alaikum. Mâe." (Ibu.)


"Chân sà-baai dee, kòp kun!" (Saya baik-baik saja. Terimakasih) Ucap Prof. Zain lagi dengan senyum menawan. Pembicaraan Prof. Zain berlangsung kurang lebih lima menit, selama waktu itu Yuna hanya bisa diam sambil merunduk.


...***...


Seperti biasa Raina terbangun dari tidurnya karena haus, untuk sesaat ia duduk mematung, mengusap kedua matanya kemudian membaca doa bangun tidur.


Semenit kemudian, Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju dapur. Sesekali Raina membuang nafas kasar, perutnya yang semakin membuncit membuatnya cepat lelah kala naik turun tangga. Cahaya temaram yang bersumber dari ruang tengah membuat Raina menghentikan langkah kakinya.


"Yuna, apa yang dia lakukan di tengah kegelapan? Haruskan aku menghampirinya?


Tidak. Tidak.


Lima menit kemudian Raina berniat kembali kekamarnya yang terletak di lantai dua, kamar luas yang bersebelahan dengan kamar Pak Andi dan Bu Hanum. Untuk sesaat Raina kembali menatap Yuna yang terlihat duduk mematung di kursi rodanya.


Mmmmm!


Raina pura-pura berdeham untuk mencairkan suasana yang terasa sedikit mencekam. Ada keraguan dalam hatinya, keraguan untuk tidak mengganggu adik ipar kesayangannya.


"Apa kakak mengganggumu?" Raina bertanya sambil memposisikan dirinya duduk di sofa dekat Yuna.


"Tidak."


"Apa ada masalah? Apa yang mengganggumu sampai kau tidak bisa tidur selarut ini? Katakan saja, jika itu bersipat rahasia kakak janji kakak akan menyimpannya untukmu. Insya Allah." Ucap Raina sambil membelai rambut sebahu Yuna Dinata.


"Kakak. Apa yang harus kulakukan? Aku merasa sedih dengan semua ini." Yuna menghentikan ucapannya, ia bahkan terlihat sangat prustasi. Belum selesai Raina memahami keadaan yang ada Yuna kembali menghela nafas kasar.


"Apa kau merasa ragu? Apa keraguan benar-benar memenuhi rongga dadamu?"

__ADS_1


"Bagaimana kakak bisa tahu kalau hatiku di penuhi keraguan? Bukan hanya keraguan, resah dan gelisah membuat nafasku terasa sesak. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa aku terjebak pada perasaan tidak masuk akal ini!" Yuna menghentikan ucapannya, kali ini ia menatap wajah merunduk Raina.


"Prof. Zain menerima panggilan dari keluarganya, dan aku hanya bisa duduk di dekatnya.


Aku merasa, seolah aku berasal dari dunia lain. Kami berdua benar-benar berbeda. Sanggupkah aku berdiri di sisinya dengan perbedaan besar yang menjadi dinding di antara kami berdua?"


Akhirnya Raina bisa menangkap arah pembicaraan yang coba Yuna jelaskan dengan ucapan berbelitnya. Untuk sesaat Raina tersenyum sambil menangkup wajah cantik adik ipar kesayangannya.


"Kau masih ingat beberapa waktu yang lalu?" Raina menghentikan ucapannya sambil menatap Yuna dengan tatapan kasih sayang.


"Prof. Zain rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan mu. Dia sangat mencintaimu, hanya orang yang saling mencintai saja yang akan merasakan kepedihan, kepedihan kala kekasih hatinya tertimpa masalah besar." Ucap Raina lagi, ia mencoba meyakinkan Yuna.


"Kakak pernah mengalami hal yang sama seperti yang kau alami saat ini. Kakak pernah bertunangan dengan pria asing sebelum kakak bertemu dengan kakakmu!


Kakak meragukan pria itu, sama seperti kau meragukan Prof. Zain. Bahkan kakak butuh delapan tahun untuk meyakinkan diri kalau dia pria yang baik.


Kakak bisa melihat kalau kau sangat mencintai prof. Zain De Lucca. Jika kau merasa ragu pada Prof. Zain lantaran kau mengganggap dirimu berbeda darinya, maka hilangkan semua perasaan itu. Akan selalu ada perbedaan diantara semua orang.


Contohnya Aku dan kakakmu! Aku bahkan meragukannya, aku berpikir kakak mu pria yang aneh, pemarah, dingin, menyebalkan, kejam dan sombong. Nyatanya itu tidak benar, semakin aku mengenal kakakmu semakin aku mencintainya. Perbedaan itu menjadi hal yang paling ku syukuri." Sambung Raina sambil menghadirkan pesona luar biasa suami tercintanya dalam hati dan pikirannya.


"Kau mendengar Prof. Zain bicara menggunakan bahasa yang jarang kau dengar, kemudian kau mulai merasa berbeda darinya!


Itu tidak benar!


Allah menciptakan kita dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kita adalah orang yang paling bertakwa.


Prof. Zain mengulurkan tangannya padamu dan memutuskan untuk memilihmu di antara miliyaran gadis yang ada. Itu artinya, dia sangat mencintaimu dan yakin kau adalah pasangan terbaik yang akan menjaga hatinya untuk tetap bertakwa." Raina menjelaskan panjang kali lebar di depan Yuna yang terlihat mulai tenang, wajah cantik itu mulai mengukir senyuman. Seolah kekhawatirannya semenit yang lalu telah menguap keangkasa bersama tarikan dan hembusan nafas leganya.


"Ternyata Kak Sawn benar! Bicara dengan kakak terasa sangat menenangkan, batu besar yang mengganjal di hatiku telah kakak singkirkan dengan mudah." Balas Yuna sambil tersenyum, ia meraih jemari Raina, menggenggamnya sangat erat sambil meneteskan air mata.


"Terimakasih. Terimakasih." Sambung Yuna lagi dengan kepala tertunduk.


"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, aku bahagia karena kau adalah adikku. Tetaplah merasa bahagia seperti yang kau rasakan sekarang.


Istirahatlah! Ini sudah tengah malam, kau harus cepat tidur agar kau tidak terlambat bangun Salat Subuh!" Raina tersenyum, ia menepuk pelan pundak Yuna kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ketika hatimu di penuhi oleh keraguan, hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk menyingkirkan keraguan itu dengan cara menceritakan masalahmu pada orang yang kau percaya bisa memberikan solusinya, merasa baik itu bagus namun menganggap diri lebih baik dari orang lain itu hal yang buruk.

__ADS_1


Amatilah, sedikit yang di perlukan untuk membuat suatu kehidupan yang membahagiakan, semuanya ada di dalam diri anda sendiri yaitu di dalam cara anda bepikir dan bersikap.


...***...


__ADS_2