
Waktu baru saja menunjukan pukul 10:30 namun kediaman Dinata tak pernah sepi dari segala aktivitas yang menyangkut tentang resepsi pernikahan Yuna.
Pernikahan bukan hanya menyangkut pakaian mewah, gedung megah, atau pun tamu yang datang dari kalangan raja-raja.
Pernikahan itu tentang aku dan kamu! Aku dan kamu yang akan menjadi 'Kita' kemudian menjalani rumah tangga yang bahagia, atau justru sebaliknya penuh derita.
Pernikahan itu bukan juga tentang mengadu pada keluarga karena kita memiliki masalah dalam rumah tangga. Pernikahan itu tentang aku dan kamu yang akan berjuang dan berdiri di atas kaki kita sendiri dan berusaha agar tetap bahagia.
"Raina, sayang. Apa kau yakin tidak akan pergi bersama Mama dan Papa kehotel? Mama berharap kau akan menemui adikmu kemudian kita akan berfoto bersama!" Ucap bu Hanum sambil memegang pundak Raina.
"Hasan, sayang... Katakan pada Ummimu untuk ikut bersama Oma dan Opa! Malam ini malam yang istimewa untuk Tante cantik mu, akan lebih menyenangkan jika kau juga ikut bersama Oma dan Opa!" Bu Hanum mencoba merayu Raina dengan cara bicara pada Cucu menggemaskannya.
Melihat tingkah bu Hanum yang bicara seperti anak kecil membuat Raina menahan tawanya. Ia tidak pernah menyangka ibu mertua yang sangat ia hormati itu bisa bersikap kekanak-kanakan di depan cucu menggemaskannya, Hasan Dinata.
Dua hari ini Sawn dan Raina memutuskan menginap di rumah besar kediaman Dinata, karena itu memang permintaan khusus Bu Hanum agar ia bisa melihat Hasan, cucu kesayangannya kapanpun yang di inginkan hatinya. Mendengar suara tangis bayi di tengah malam membuat Bu Hanum selalu bersemangat.
"Iya, Oma. Hasan janji Hasan akan icut cama Oma. Tapi... Dengan catu carat, kayo Hasan besa nanti Hasan mau jadi Hafizd Qur'an boyeh apa boyeh...?" Balas Raina sambil menirukan gaya bicara bu Hanum.
Mendengar ucapan Raina Bu Hanum hanya bisa membalas dengan senyum menawannya. Saking bahagianya bu Hanum memeluk Raina sambil berderai air mata.
Penghafal Qur'an? Orang bodoh mana yang akan menolak keinginan mulia menantunya. Tidak ada bacaan yang bisa menandingi keindahan Al-Qur'an, dan tidak ada hal lain yang bisa menyamai kemulian Al-Qur'an. Dunia dan isinya boleh saja berubah dan maju seperti yang kau bayangkan, tapi jangan sampai gemerlapnya dunia membutakan mata. Jika mata hati buta tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kita dari hal yang disebut dengan murka, murka yang kuasa.
"Wahhhh.... Itu luar biasa! Oma janji Oma akan dukung cucu kesayangan Oma ini dua ratus persen!" Ucap Bu Hanum penuh semangat, sedetik kemudian ia mengambil Baby Hasan dari dekapan Raina karena kebetulan Raina sudah selesai memberikan Asi-nya.
...***...
Sementara itu di tempat berbeda, nuansa penuh dengan bahagia tak terkira memenuhi Ballroom Hotel tempat resepsi pernikahan Prof. Zain De Lucca dan Yuna Dinata.
__ADS_1
Paginya acara akad di selenggarakan dengan penuh khidmat. Di depan wali dan para tamu undangan yang hadir Prof. Zain mengukuhkan janjinya untuk menjaga Yuna. Emas seberat seratus gram, seperangkat alat Sholat dan di lengkapi dengan hafalan Qur'an surah Yusuf ayat satu sampai dengan ayat ketujuh yang ia hafal secara sempurna menjadi pilihan Prof. Zain sebagai maharnya.
Surah Yusuf sendiri terdiri dari seratus sebelas ayat, di dalamnya dikisahkan kehidupan Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya. Bagaimana nabi Yusuf menjaga kehormatannya dengan tidak melakukan Zina dengan wanita yang tidak halal baginya. Siapapun yang membaca kisahnya akan merasa jatuh cinta pada sosok Nabi Yusuf yang ketampanannya sanggup memalingkan hati setiap wanita.
Sebenarnya Yuna tidak meminta apapun sebagai maharnya. Sebelum akad terjadi Yuna hanya meminta agar Prof. Zain selalu setia, menghormatinya, dan mencintainya. Namun Prof. Zain menunjukkan besarnya tekat yang ia miliki untuk menjadikan Yuna sebagai pendamping hidupnya, ia bahkan sampai menghafal Al-Qur'an untuk menunjukan seberapa besar keseriusannya, dan seberapa besar tekadnya.
"Menghafal Al-Qur'an? Itu tidak buruk!" Yuna berucap sambil menatap wajah suami tampannya.
"Aku tidak menyangka, pria yang ku kenal sangat payah bisa membuatku tak bisa berkata apa-apa!" Sambung Yuna lagi sambil memamerkan senyum bahagianya.
"Setelah ini adinda akan semakin jatuh cinta padaku." Goda Prof. Zain pada Yuna, di depan para tamu undangan sempat-sempatnya pasangan Raja dan Ratu sehari ini bercanda.
Adinda?
Sekuat tenaga Yuna berusaha menahan tawanya. Bagaimana tidak, setelah proses akad selesai, untuk beberapa saat Yuna dan Prof. Zain berada di kamar yang sama, pria sekelas Prof. Zain yang terkenal sangar di depan para mahasiswanya justru berubah seratus delapan puluh derajat, tak ada lagi kata sangar, yang ada hanya pecicilan.
"Kakak!" Yuna memeluk Sawn sambil tersenyum, wajah bahagianya menjelaskan segalanya.
"Selamat menempuh hidup baru. Mungkin setelah ini kau akan menemukan atau menginjak krikil-krikil yang bisa saja membuatmu terjatuh.
Walau berat jangan menyerah. Pernikahan bukan sekedar menemukan seseorang yang bisa kau genggam tangannya, tapi kau juga harus bisa membuatnya bahagia.
Jika ada hal baik yang pernah kau lihat dari Mama dan Papa, atau dari Kakak dan Kakak Iparmu, jadikan semuanya sebagai ibrah yang bisa membuatmu semangat dalam menjalani rumah tangga.
Kau mungkin tidak tahu, dan ini pertama kalinya kakak mengatakannya, kakak sangat beruntung memiliki adik perempuan sepertimu." Ucap Sawn sambil memegang pundak Yuna. Ucapan Sawn berhasil membuat Yuna meneteskan air mata.
"Dimana kakak ipar?" Yuna bertanya sambil matanya menerawang kesegala arah, mencoba mencari sosok kakak ipar kesayangannya.
__ADS_1
"Kau tidak akan menemukannya, dia ada di rumah!" Balas Sawn dengan wajah kecewa.
"Kakak tidak perlu berbohong padaku hanya untuk membuatku sedih! Jika kakak ipar ada dirumah, lalu siapa dia? Hantu? Tentu saja itu sangat konyol." Balas Yuna sambil menepuk bahu Sawn Praja Dinata.
Melihat tingkah pasangan adik dan kakak yang sedang bicara dengan nada santai di dekatnya membuat Prof. Zain hanya bisa mengukir senyuman lega.
Sawn langsung mengarahkan pandangannya kearah tatapan Yuna. Sungguh, itu kejutan luar biasa untuk Sawn Praja Dinata. Bagaimana tidak, sejak pagi Sawn membujuk Raina agar ikut bersamanya namun tak ada jawaban lain yang ia dengar selain penolakan saja.
"Ummi disini?"
"Tentu saja! Jika tidak disini, lalu dimana lagi?" Raina berbisik di telinga Sawn, setelah itu ia memeluk Yuna dengan perasaan bahagia yang menuhi rongga dadanya.
"Semoga yang Kuasa selalu memberikan Rahmatnya sehingga tidak ada derita yang akan mendekatimu seumur hidupmu." Ucap Raina pada Yuna dengan perasaan tulus.
"Terima kasih, kak. Kakak juga, semoga kakak selalu bahagia." Balas Yuna sambil memeluk tubuh Raina.
"Prof. Zain, kami titip Yuna! Jaga dia agar tetap bahagia." Sambung Raina lagi. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Sungguh itu benar-benar permintaan tulusnya.
"Kakak tidak perlu khawatir, aku akan selalu berusaha membuat Yuna bahagia semampu yang ku bisa. Tetap doakan kami sehingga mata jahat tidak akan menatap kami dengan perasaan dengki." Ujar Prof. Zain sambil balas menangkupkan tangan di depan dada.
Ribuan tamu undangan terlihat bahagia dan menikmati waktu mereka, ada yang sedang menikmati hidangan yang ada, dan ada juga yang sedang duduk di kursi sambil berbincang dengan rekan di sebelahnya. Beberapa tamu undangan ada juga yang menghampiri Prof. Zain dan Yuna hanya untuk memberikan ucapan selamatnya.
Sementara itu, alunan merdu musik malam ini terdengar sangat indah, siapa pun akan tahu bahwa malam ini adalah malam yang penuh dengan kebahagiaan, dan hal itu terpancar dari raut wajah dua anak manusia yang saat ini duduk di atas singgasananya, Prof. Zain De Lucca dan Yuna Dinata.
Sesungguhnya wanita adalah belahan tak terpisahkan dari kaum pria. (Hr. Ahmad, Abu Dawud, Ad-Darimi, Ibn Majah)
Di alam semesta ini, ada hal menarik yang dapat kita lihat kemampuannya. Adanya pasangan-pasangan yang membentuk keseimbangan, sehingga apa saja yang tidak berpasangan akan menjalani masalah dalam menghadapi kehidupan ini.
__ADS_1
...***...