
Satu jam lamanya Sawn menunggu di depan gerbang Panti, ia sengaja tidak mau masuk walau Raina sudah memaksanya, alasannya kekanak-kanakan karna ia belum sanggup bertemu Calon Mertua.
Calon Mertua? Dua kata yang sangat sederhana namun sanggup membuat Sawn tersenyum bahagia. Bisa menghabiskan waktu berdua dengan Raina rasanya sangat mustahil, namun malam ini ia bisa merasakannya, untunglah mang Ujang tidak membantah ketika ia meminta untuk mengantar Raina. Raina yang malang, ia begitu bersemangat untuk mengantar adik-adiknya pulang tanpa menyadari dari awal kalau Sawn yang duduk di kursi kemudi. Senyumnya mulai memudar ketika netranya dan netra Sawn bertemu satu sama lain.
"Ketika dia terkejut, dia mirip seperti kelinci yang lucu." Lirih Sawn pelan, ia kembali tersenyum bahagia.
Laksana oase di padang sahara.
Senyummu menyejukkan hatiku.
Aku jatuh cinta.
Setiap kali melihat matamu, Aku terpaku.
Aku terpesona, tertawan di dalamnya.
Memandangmu terasa seperti melihat cahaya bulan, bersinar dan menyejukkan.
"Harus kunamakan apa hubungan ini? Kau dekat, sangat dekat tapi aku tidak bisa merengkuhmu." Sawn larut dalam pemikiran panjangnya, sampai ia tidak sadar ia mulai terlelap.
Sementara itu, dari jarak yang tidak terlalu jauh Raina sedang asyik bercada dengan adik-adiknya. Ia sampai melupakan kalau Sawn sedang menantikan kedatangannya.
Sepekan tidak bertemu dengan ibunya membuat Raina meluapkan semua rasa terpendamnya, memakan makanan buatan bu Rahayu sembari menerima suapan demi suapan dari tangan wanita separuh baya yang sangat ia sayangi itu.
"Ummi, sekarang aku bahagia. Ummi tidak perlu mengkhawatirkan ku lagi." Lirih Raina dalam hatinya, ingatan tentang ibu kandungnya seolah menari-nari di benaknya.
"Nak, kamu menangis?" Bu Rahayu terkejut, tetesan air mata Raina tepat mendarat di punggung tangannya.
"Aku sangat bahagia. Aku yakin ada debu yang memasuki mataku, karna itu air mata ini keluar tanpa izin dariku." Ucap Raina mengelak. Dan tentu saja bu Rahayu tidak percaya dengan mudah. Putrinya yang selalu menyembunyikan dukanya tiba-tiba meneteskan air mata dihadapannya. Itu membuat bu Rahayu khawatir, namun ia tidak menunjukannya di depan Raina.
"Oohh tidak... Aku lupa! Jika dia marah, tamatlah riwayatku." Ucap Raina sembari berdiri dan meraih makanan yang sengaja bu Rahayu bungkuskan untuk di bawa pulang olehnya.
"Ibu... Ini sudah satu setengah jam. Kenapa aku bisa sebodoh ini." Raina mencium wajah bu Rahayu kemudian ia berlari keluar, dilihatnya mobil Sawn masih terparkir di bawah lampu jalan yang tidak terlalu jauh dari gerbang, bahkan beberapa kendaraan masih sibuk berlalu-lalang.
Pelan Raina membuka pintu mobil di kursi penumpang, ia tahu Sawn akan memarahinya, atau bisa saja kata-kata kasar akan keluar dari lelaki itu. Sebelum Sawn membuka mulutnya Raina terlebih dahulu meminta maaf.
__ADS_1
"Pak, maaf. Aku tahu aku salah, tidak seharusnya aku membuat anda menunggu selama ini." Ucap Raina memecah keheningan di antara mereka.
"Tunggu dulu! Aku tidak salah, untuk apa aku meminta maaf. Bukankah aku sudah meminta anda untuk tidak menunggu ku. Jika ada yang harus di salahkan, maka itu bapak sendiri." Ucap Raina lagi.
Merasa tidak ada respon dari lawan bicaranya Raina memberanikan diri menjulurkan kepalanya.
"Hah... Dia tertidur? Ini bahkan belum jam sembilan malam. Ketika dia tertidur, dia terlihat baik-baik saja." Lirih Raina pelan, takut membangunkan Sawn.
Tiba-tiba saja Sawn memperbaiki posisi duduknya, karena terkejut Raina sampai tersungkur kebelakang. Sebisanya ia tidak mengeluarkan suara, semuanya akan berakhir jika sampai lelaki di hadapannya itu tahu kalau Raina memandangi wajah tampannya yang sedang terlelap.
Dalam hatinya Raina tidak berhenti beristigfar, ia tertawan oleh pesona menakjubkan pemuda tampan di depannya, siapa pun bisa melakukan kesalahan, karna Raina hanya manusia biasa yang tidak akan luput dari dosa.
"Pak, bangun. Kita harus pulang." Raina kembali membuka suara.
"Mmm... Jam berapa sekarang?" Sawn membuka suara dengan suara serak khas bangun tidur.
"Oohh... Tidak. Dia sungguh selelap itu?" Lirih Raina dalam hatinya.
"Jam sembilan." Jawabnya cepat.
"Bukankah aku sudah meminta anda untuk pergi, jika anda tertidur disini, itu sama sekali bukan kesalahan ku." Raina berusaha membela diri.
"Baiklah, aku terima itu. Aku ingin bertanya padamu, apa menurutmu aku seperti sopir? Untuk apa kamu duduk di belakang sementara aku di depan. Aku tidak perduli dengan pendapatmu atau pendapat orang lain, untuk sekarang aku ingin kamu duduk di depan." Sawn memberikan perintah tegas.
Sawn tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Raina, meskipun tidak ada percakapan yang Inten di antara mereka, berada di ruang yang sama dengan Raina termasuk menjadi momen-momen paling bahagia dalam hidupnya.
Rupanya Sawn tidak lagi sekedar terjebak dengan keteduhan mata gadis yang ada di hadapannya, atau merindukan rasa bahagia dari pancaran paras wajahnya. Ia pun senang dengan sikap pemalunya, Raina selalu mencoba mengalihkan pandangannya setiap kali mata mereka bertemu. Bagi Sawn Praja Dinata, Raina mungkin masih banyak kekurangan. Namun ia tidak memperdulikan itu, karena Sawn tahu tidak ada manusia yang sempurna.
"Anda tidak perlu memandang ku seperti itu." Ucap Raina pelan setelah ia duduk si kursi depan seperti perintah Sawn.
"Maafkan aku, aku hanya terkesima." Guyon Sawn sembari tersenyum tipis.
"Ooo... Ternyata anda bisa bercanda." Balas Raina.
Sepersekian detik kemudian, tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Raina dan Sawn sama-sama memilih untuk diam.
__ADS_1
...***...
"Bukankah itu Agil, untuk apa dia datang sepagi ini?" Bu Rahayu memandang heran pada bu Romlah. Ada banyak pertanyaan di kepalanya, namun ia memilih untuk menundanya karna melihat Ani mulai rewel.
"Sepertinya Ani lapar, biarkan dia bersama ku. Kau masuklah, buatkan dia susu." Bu Rahayu meraih Ani dari dekapan bu Romlah. Sayangnya anak itu menolak ketika bu Rahayu akan menggendongnya.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Bawa dia bersamamu."
Bu Rahayu merebahkan tubuhnya di sofa, sembari menunggu anak-anak pulang dari sekolah.
"Apa yang harus ku lakukan?" Bu Rahayu hanyut dalam pemikirannya sendiri. Ia masih membayangkan wajah Raina, terasa menyakitkan melihat putrinya itu meneteskan air mata. Ia tahu putrinya itu sedang merindukan ibu kandungnya.
"Ternyata aku bukan ibu yang di harapkan Putri ku. Aku terlalu menyayanginya sampai aku sendiri lupa dengan hal yang lainnya." Bu Rahayu menghapus air mata dengan punggung tangannya.
"Mbak yu... mbak yu kenapa?" Bu Romlah terkejut mengetahui bu Rahayu meneteskan air mata. Baru kali ini ia melihat kakaknya serapuh itu.
"Entahlah, Rom. Mbak merasa ada yang hilang, tapi mbak endak tahu apa yang hilang dari mbak. Hal ini membuat mbak sedih." Bu Rahayu kembali meneteskan air matanya.
Pelan bu Romlah menghampiri kakaknya dan melepaskan Ani dari dekapannya.
"Apa ini karena Raina? Tunggu dulu, jangan bilang mbak yu sedih karena Raina merindukan ibu kandungnya. Mbak gak akan bisa mengelak, karena sebelum mbak mengelak saya sudah tahu jawabannya." Bu Romlah mendesak bu Rahayu untuk tidak menyembunyikan perasaannya.
"Mbak yu tidak perlu sedih. Wajar anak itu merindukan ibu kandungnya, sejak berusia delapan tahun dia kehilangan segalanya. Bahkan Gusti Allah mengujinya dengan ujian yang sangat berat, masih untung dia bisa hidup, aku bahkan berpikir Raina tidak akan selamat setelah mendapat perlakuan buruk dari orang tua adopsinya." Bu Romlah hanyut dalam lamunan masa lalunya, pertama kali ia bertemu dengan Raina tepat ketika ia baru satu hari tinggal di panti bersama bu Rahayu setelah kematian suaminya.
"Mbak ngerti, Rom. Semua penjelasanmu bisa mbak pahami, hanya saja mbak merasa sedih karena mbak belum bisa mengisi kekosongan hatinya."
"Sampai kapan pun mbak yu akan tetap menjadi ibunya Raina Salsadila. Kekosongan hatinya? Itu semua hanya persangkaan mbak yu saja. Bukankah mbak yu sudah melihat bagaimana Raina berusaha menjadi putri dan kakak yang baik untuk adik-adiknya!"'
Bu Rahayu hanya bisa diam mendengar nasihat dari bu Romlah. Hari ini bu Rahayu memahami, ternyata menjadi dewasa tidak di tentukan oleh jumlah angka dalam usia seseorang, buktinya sekarang bu Romlah menceramahinya dengan nasihat panjang kali lebar, dan nasihat itu pun berhasil membuat bu Rahayu sadar, ikatan darah tidak selamanya membuatmu menjadi keluarga, ada nilai yang lebih besar dari itu yakni nilai kemanusian.
Penuhi hatimu dengan mencintai saudaramu, niscaya Allah akan menutup kekuranganmu dan mengangkat derajatmu.
Itulah sederat alasan bu Rahayu membesarkan anak-anak yang tidak keluar dari rahimnya dengan cinta luar biasa.
...***...
__ADS_1