Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Menepis Rasa


__ADS_3

Sejauh apa pun engkau menghindar, jika takdir telah memilihmu untuk bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidupmu, maka pasti akan terjadi. Tidak perduli sekeras apapun usaha untuk menjauh, Allah pasti akan mendekatkanmu.


Begitu juga dengan pertemuan Raina dan Sawn pagi ini, mereka tahu, kejadian malam itu telah berakhir dengan rasa sedih yang mendalam. Tidak ada lagi tegur sapa, yang ada hanya pertemuan-pertemuan kecil yang berakhir dengan sikap menghindar dari Raina.


"Kakak, aku merindukanmu!" Rita menghambur ke arah Raina, memeluknya dengan pelukan kasih sayang.


"Apa kau sungguh-sungguh dengan kata-katamu? Apa ini hanya rayuan saja." Raina menggoda gadis manis yang masih memeluknya itu, perbedaan usia Rita empat tahun lebih muda dari Raina, mungkin itu sebabnya gadis pendiam itu sedikit manja.


Sawn yang berdiri di belakang Raina dan Rita hanya bisa berdecak heran.


"Syukurlah, dia sudah kembali." Lirih Sawn pelan sambil berlalu di hadapan kedua gadis itu. Rita yang menyadari kehadiran Sawn langsung melepas pelukannya dari Raina.


"Kenapa?" Raina bertanya karena melihat tingkah aneh Rita.


"Selamat pagi pak..."


Degggg!


Raina terkejut mendengar ucapan Rita, pelan ia membalik kan tubuhnya menghadap lelaki bertubuh 180 cm itu.


"Pagi." Jawab Sawn singkat sembari memandang wajah merunduk Raina.


Apa dia masih marah? Dasar bodoh, tentu saja dia masih marah, aku bahkan belum meminta maaf padanya! Lirih Sawn pelan sembari melangkahkan kaki menyusuri koridor menuju kantornya.


"Untung pak Sawn tidak mengatakan apapun, aku takut tanpa alasan." Ucap Rita pelan yang hanya bisa di dengar Raina.


"Raina..."


"Ia." Raina mengangkat kepalanya, netranya saling bertemu antara dirinya dan Sawn Praja Dinata.


Apa aku tidak salah dengar? Lelaki pemarah ini memanggil namaku. Ooh tidak, bagaimana dia bisa berubah dalam waktu semalam. Apa dia salah makan? Atau ini hanya peringatan sebelum perang? Aku bukan musuhnya, tapi kenapa aku sangat takut padanya. Lirih Raina pelan sembari membuang nafas, khawatir.


"Aku akan menunggumu di kantor ku." Ucap Sawn sebelum ia menghilang dari pandangan Raina.


"Kakak, pak Sawn memintamu ke kantornya. Mungkin dia akan meminta maaf atas kejadian malam itu."


Mendengar ucapan lirih Rita membuat Raina kembali mengingat kejadian malam itu, ia bahkan sudah tidak ingin mengingat hal itu lagi.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita lihat apa yang akan di lakukan peria menyebalkan ini." Lirih Raina dalam hatinya, ia meninggalkan Rita dan berjalan menuju kantor Sawn, rasanya seperti ada kembang api yang meledak di atas kepalanya, perasaan senang dan sedih menyatu menjadi satu.


...***...


"Mbak yu, bagaimana menurut mbak yu jika aku menikah lagi?" Bu Romlah memulai pembicaraan sambil merunduk, entah apa yang akan di pikirkan bu Rahayu tentangnya setelah mengatakan isi di kepalanya.


Wanita separuh baya itu hanya bisa menganga, sembari menatap wajah adik semata wayangnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Aku sudah menduganya, mbak yu pasti tidak akan menyetujui ucapanku. Sama seperti aku tidak menyetujui ucapan konyol Raina. Entah dari mana anak nakal itu mendapatkan ide aneh itu, aku bahkan tidak pernah memikirkannya." Urai bu Romlah panjang lebar.


Bu Rahayu yang sejak tadi berdiri tepat di hadapan pintu masuk, tersenyum cerah. Ia hampir tersungkur karna terkejut mendengar penuturan singkat adik semata wayangnya.


"Apa kau serius? Jika itu benar maka tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini!" Todong bu Rahayu.


"Aku tidak yakin mbak yu, itu hanya pemikiran Raina saja. Apa mbak yu tahu dengan siapa anak itu menjodohkan ku? Dengan mas Agil." Balas Bu Romlah singkat.


"Itu ide yang bagus, tapi masalah nya.... Agil mau atau tidak dengan adik mbak yang pemarah ini? Hahhaaahaa" Bu Rahayu menggoda adiknya sambil tertawa lepas.


Sebenarnya sejak dulu bu Rahayu ingin agar bu Romlah segera menikah, sayangnya ia tidak berani mengatakan apapun pada adiknya itu.


"Sudahlah, mbak yu. Aku tahu mbak yu setuju dengan Raina, jadi jangan coba-coba perpura-pura marah di depanku, justru itu yang membuatku jadi marah." Balas bu Romlah. Ia melepaskan Ani dari dekapannya sembari membersihkan mulut bocah itu yang belepotan karna memuntahkan susu formulanya.


"Lihatlah, wajah polos Ani! Bocah malang ini bahkan harus dititipkan disini agar ayahnya bisa leluasa untuk bekerja. Mbak kasihan padanya, di usia semuda ini ia bahkan harus tumbuh dengan pengasuh. Masi untung pengasuhnya sebaik kamu dek, coba bayangkan jika pengasuhnya sekejam berita yang kau tonton tadi pagi. Bisa-bisa ayahnya mati berdiri." Bu Rahayu mencoba membangkitkan naluri keibuan adiknya, kasih sayang yang tulus dari bu Romlah untuk Ani membuat bu Rahayu lebih mudah mempropokasinya.


Bu Rahayu tahu tidak akan mudah membuat adiknya setuju, karna itu ia akan berusaha lebih keras dalam melancarkan misinya.


Misi menjodohkan Romlah dan Agil di mulai...!


"Sebenarnya... Mbak tidak terlalu menyukai Agil." Mata bu Romlah terbelalak, kata-kata 'TIDAK MENYUKAI'jelas-jelas membuatnya terganggu, namun ia tetap diam sembari berpura-pura menyibukkan diri menyuapi Ani bubur yang ia buat sendiri.


"Tapi.... Mbak, sangat, sangat, sangatttt menyukai Ani." Kalimat penutup bu Rahayu berhasil membuat bu Romlah tersipu malu.


"Gusti... Apa sebenarnya yang ku pikirkan? Apa aku sangat menyukai anak ini sampai aku sendiri tidak marah ketika mbak yu menjodohkan ku dengan lelaki berwajah datar itu? Lirih bu Romlah dalam hatinya.


Lelaki berwajah datar....?


Hampir saja bu Romlah keceplosan tertawa lepas di depan bu Rahayu, namun dengan segera ia menutup mulut dengan tangannya.

__ADS_1


Apa yang akan di pikirkan mbak yu jika dia sampai melihat ku sesenang ini? Aku bahkan bukan anak ABG yang mengalami cinta monyet. Romlah... Romlah... Sampaiyan dalam masalah besar! Lirih bu Romlah lagi sambil bersikap normal, kata orang bijak ada dua hal yang tidak bisa di sembunyikan, 'PERTAMA BATUK' dan yang 'KEDUA CINTA'.


Mungkin saja itu benar atau mungkin saja salah! Terserah bagi siapapun yang ingin meyakininya.


...***...


"Assalamu'alaikum, selamat pagi pak! Apa anda butuh sesuatu?" Ucap Raina setelah wajahnya muncul dari balik daun pintu.


"Wa'a..." Sawn menghentikan ucapannya, biasanya ia selalu mengucapkan 'HAyy' 'Hallo' 'Apa Kabar' Atau sejenisnya. Setelah di pikir-pikir ia jarang sekali mengucapkan kalimat Arab itu, atau lebih tepatnya Ucapan Salam yang mengandung banyak Do'a bagi umat ISLAM seperti dirinya.


Sepertinya, ungkapan islam KTP itu sangat cocok untuk ku! Sholat ku? Hanya tiga kali dalam setahun, Idul Fitri, Idul Adha, dan Shalat Jumat. Itupun jika papa memaksaku untuk Shalat Jumat, jika tidak aku pasti tidak akan melakukannya. Aku sendiri lupa kapan terakhir kali aku melaksanakan Shalat jumat.


Minggu lalu? Ahhh, tidak. Aku tidak mengerjakannya. Aahhh ia, Empat bulan lalu! Aku mengerjakannya empat bulan lalu ketika aku pulang kerumah besar. Ucap Sawn panjang lebar dalam hatinya.


"Wa'alaikumsalam. Ia, aku memanggilmu." Jawab Sawn melengkapi ucapannya. Tidak ada senyum di wajah mereka berdua. Yang ada hanya deru Nafas dan degup Jantung mereka yang semakin kencang.


Mereka berdua memang jarang berkomunikasi, karna bagi Raina menjaga diri untuk tidak terlibat dengan lawan jenis adalah Hukum yang harus di jaga dalam kehidupannya.


"Katakan, apa yang bapak butuhkan, jika saya mampu saya akan melakukannya." Kali ini Raina kembali membuka percakapan.


"Hayy nona sendirian, kau ada disini?" Robin menyapa Raina sembari memamerkan senyum terbaiknya, Sawn yang melihat itu merasa kesal dibuatnya. Belum sempat ia membuka suara Robin malah mendahuluinya.


Dasar Robin konyol. Meyebalkan, Membosankan. Rutuk Sawn dalam hatinya.


"Tadi aku mencarimu, tidak tahunya kau malah berada disini. Hati-hati dengannya, dia suka membentak." Ucap Robin lagi sembari meletakkan dokunen penting di meja kerja Sawn.


Mendengar ucapan Robin yang terkesan memperburuk kesan dirinya di depan Raina membuat Sawn kesal, ia mengepalkan tangan kearah Robin, mengancam sahabatnya itu agar ia lebih baik diam. Melihat pemandangan di depannya membuat Raina menelan Salivanya. Ingin rasanya Raina keluar bersama Robin dari ruangan yang berhasil membuatnya kepanasan, padahal AC nya berhasil membuat bibir Robin bergetar kedinganan.


"Jangan lupa tutup pintunya, dan tutup mulutmu." Ucap Sawn kesal.


Bukannya marah, Robih malah terkekeh.


Gusti Allah, aku terjebak dimana ini? Selama ini aku berusaha menghindar dari makhluk tampan ini. Eeeeh sekarang malah aku berada diposisi dimana aku tidak bisa maju atau mundur. Selama ini aku selalu berusaha menepis rasa aneh yang berhasil membuatku gelisah, dan sekarang? Oohhh tidak, aku hampir pingsan. Allah bantu aku... Lirih Raina panjang kali lebar dalam hatinya.


Menepis Rasa adalah hal yang sulit, namun tidak sesulit ketika kamu berusaha menguatkan diri dan menyandarkan diri pada yang Maha Kuasa. Memohon pertolongan padanya agar semuanya baik-baik saja.


...***...

__ADS_1


__ADS_2