
Huuamm...!
Sawn menguap lebar, ia bangun dari posisi terlentang. Ia duduk namun matanya masih tertutup rapat, hawa dingin menembus seluruh persendiannya. Pelan sawn meraih selimut tebal yang masih melingkar di sebagian tubuh jenjangnya, merekatkan selimut itu mencoba mengusir hawa dingin.
"Kakak harus ingat, sholat itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan. Ujian kakak di mulai dari besok, jika besok kakak bisa menepis kantuk kemudian melaksanakan sholat subuh, maka kakak lolos dari jeratan setan yang terkutuk." Sawn buru-buru membuka netranya, menepuk-nepuk wajahnya mencoba mengusir rasa kantuk.
Ingatan tentang ucapan Andre berhasil membuat netra Sawn terbuka lebar.
"Ini sangat dingin, apa aku harus menyentuh air sepagi ini? Tidak bisakah Sholat ini di kerjakan di siang hari saja?" Gumam Sawn sembari beranjak dari tempat tidurnya.
Alasan terbaik mengapa kita masih di bangunkan Allah pagi ini adalah karena dosa kita terlalu bayak dan Allah mau kita bertaubat.
Setelah menggelar sajadah di samping tempat tidurnya, Sawn berdiri tegap. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Berkali-kali Sawn mengulangi niat sholatnya namun ia masih juga belum bisa husyuk.
"Dear otak ku sayang! Kalo aku lagi sholat, jangan mikir lain-lain, boleh? Aku malu sama Allah." Ucap Sawn pelan, ia menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskannya kasar dari bibirnya.
Allahu Akbar. Takbir pertama, Sawn bisa sedikit khusyuk, lisannya mulai lancar membaca surah Alfatiha, terakhir kali ia terbata-bata. Sekarang tidak lagi. Setiap ada waktu luang ia selalu mendengar Murattal Quran, terkadang bacaan dari syaik Hani Ar-Rifa'i, Mishari-Alafasy, Khalifa Al-Tunaiji, dan masih banyak syaik lain yang ia dengarkan.
Sayangnya hafalan Quran Sawn tidak terlalu banyak, rakaat pertama dan kedua ia hanya bisa membaca surah pembuka Al-Quran, Alfatihah dan Al-Ikhlas.
Assalamu'alaikum Warahmatullah...
Tak terasa Sawn menyelesaikan sholat subuh pertamanya, air mata mulai menetes dari netranya. Perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Begitu lama ia tersesat kini ia menemukan jalan kembali, melaksanakan perintah Ilahi selagi masih ada kesempatan untuk bersujut padanya.
Sementara itu di tempat yang sama dan ruang yang berbeda, Raina juga baru selesai melaksanakan sholat subuhnya, memulai hari yang baru dengan beribadah pada sang pencipta.
...***...
Suara air yang mengalir memenuhi indra pendengaran Sawn Praja Dinata. Setelah melaksanakan shubuh pertamanya ia sengaja Joging mengelilingi komplek perumahan mewah, menikmati udara pagi yang masih bersih tanpa adanya polusi.
__ADS_1
"Tuan dari mana?" Tanya Ega, penasaran. Bertahun-tahun bekerja di tempat yang sama, untuk pertama kalinya ia melihat tuannya masuk dari luar rumah dengan perkakas olahraga.
"Joging." Balas Sawn sambil menghempaskan tubuh jenjangnya di sofa.
Huahh! Untuk pertama kalinya aku melihat tuan sesemangat itu, aku rasa tadi malam dia salah makan! Lirih Ega dalam hatinya.
Ahh... Tidak mungkin, masa gara-gara salah makan tuan jadi ramah begitu. Ucap Ega lagi dalam hatinya.
"Apa tuan mau koffe?" Ega bertanya lagi.
"Nanti saja."
"Assalamu'alaikum." Raina keluar dari kamarnya sambil memakai kancing pada pasmina birunya. Ia terperanjak ketika melihat orang yang seharusnya tidak ia lihat di pagi harinya.
"Ba...bapakk ada disini...?" Tanya Raina sedikit gugup. Ia menggigit bibir bawahnya karena merasa konyol, seharusnya ia tidak bertanya, sepontan itu yang keluar dari bibir merah mudanya.
Are you kidding Raina? Kenapa kau harus bertanya itu padanya. Ia akan membuka mulutnya dan kamu akan merasa kesal karena jawabannya. Gumam Raina, ia masih berdiri mematung tak jauh dari sofa tempat Sawn duduk sambil membaca surat kabar.
"Yaya... Saya saja yang bodoh, kenapa pula harus bertanya pada bapak." Balas Raina tanpa menghiraukan Sawn lagi. Ia berjalan kearah dapur, menghampiri Ega dan Melati.
"Haii... kamu, buatkan aku Koffe!" Perintah Sawn dengan nada suara juteknya.
"Baik tuan." Jawab Ega dan Melati bersamaan.
"Bukan kalian."
"Maksut tuan kak Raina?" Ega bertanya lagi, sayangnya Sawn tidak menjawab pertayaan nya.
Sawn tersenyum bahagia di balik surat kabar yang sedang pura-pura ia baca, Sawn tidak menyadari kalau Raina sudah berdiri di sampingnya, Raina bisa melihat dengan jelas kalau pemuda tampan di depannya sedang tersenyum bahagia, yang membuat Raina heran bagaimana mungkin berita keriminal bisa membuat pemuda di depannya ini tersenyum seperti playboy yang sedang menemukan mangsanya.
__ADS_1
"Apa bapak baik-baik saja?" Tanya Raina kebingungan.
"Tentu saja." Balas Sawn singkat.
"Sepertinya bapak tidak bisa membedakan antara berita Kriminal dan Lelucon?"
"Maksutmu?" Tanya Sawn sepontan.
"Berita yang bapak baca itu tentang Kriminal dan Kekerasan, yang membuat saya bingung kenapa bapak tersenyum seperti Playboy yang menemukan mangsa untuk di terkam!" Kali ini Raina berterus terang seperti apa yang benar-benar ia pikirkan.
"Aapaa... Playboy? Wahh... Aku benar-benar kesal. Berani sekali kamu berpikir seperti itu tentangku. Arrrgggg!" Sawn mencengram jemarinya seolah ingin meremukkan mangsanya. Melihat tingkah Sawn membuat Raina merasa bersalah.
Dasar gadis payah! Aku tersenyum karena aku senang kau akan membuatkan ku koffe seperti pasangan lain. Playboy? Itu benar-benar penghinaan bagiku. Lirih Sawn pelan, ia menatap Raina dengan tatapan tajam kemudian beranjak pergi tanpa meminum Koffenya.
"Kenapa kakak bicara seperti itu? Saat ini tuan pasti kesal, sekarang apa yang akan kakak lakukan?"
Raina hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar pertanyaan Ega. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa, merayu laki-laki itu untuk menghilangkan kekesalannya tidak mungkin di lakukan sosok Raina, karena mereka tidak sedekat itu.
Seharusnya aku tidak perlu berkata seperti itu! Apa lah daya ku, ucapan yang ku lepaskan sama seperti anak panah yang tidak akan pernah bisa di tarik kembali. Aku berharap ia tidak marah, jika kemarahannya kembali menguasai dirinya, habislah aku. Gumam Raina sembari berdiri mematung.
Sementara itu di kamarnya Sawn membuka pintu kasar kemudian menghempaskan tubuhnya di tempat tidur empuknya.
"Aku tidak percaya ini. Aku sangat kesal, bisa-bisanya Singa Betina itu mengatakan aku seperti Playboy yang akan menerkam mangsanya. Jika aku peria murahan seperti itu, aku pasti akan menyumpal mulutnya dengan ciuman." Gerutu Sawn di kamar sunyinya.
"Saat ini aku butuh koffe untuk menenangkan pikiran ku, sayangnya aku tidak bisa turun kebawah secepat ini. Aku masih terlalu kesal." Gumam Sawn lagi, ia melempar batal yang menyangga kepalanya sembarangan.
Prangg! Bantal itu tepat mengenai meja rias yang di atasnya ada beberapa produk yang biasa Sawn gunakan untuk melembabkan kulit wajahnya. Sementara itu di luar kamarnya Raina berdiri mematung. Tadinya ia akan mengetuk pintu, namun ia urungkan niat itu karena mendengar ada barang yang pecah.
Raina masih berpikir, haruskah ia mengetuk pintu atau tidak mengetahui kekesalan Sawn yang di tujukan padanya. Ketika akan mengetuk pintu, tiba-tiba Sawn membukannya dari dalam, netra mereka kembali bertemu untuk sepersekian detik, dan detik selanjutnya Sawn menemukan wajah itu tertunduk lesu di hadapannya.
__ADS_1
Ku awali pagi ku dengan ibadah pada sang maha pencipta, dan kali ini Tuhan pun mengirim mu berdiri di depan pintuku. Bagaimana caraku berterimakasih pada penciptaku atas kebaikannya ini? Lirih Sawn dalam diamnya sembari memandangi wajah Ayu yang masih merunduk di hadapannya, di tangan wanita yang selalu mencuri setiap malamnya itu terdapat secangkir koffe yang uapnya masih mengepul membelai indra penciuman Sawn Praja Dinata.
...***...