
"Ara! minum obatnya yah sayang! kalau tidak minum obat gimana caranya mau sembuh," bujuk neneknya Bu Elma.
Ara terus menggelengkan kepalanya dengan menutup mulutnya yang menolak obat yang berbentuk sirup yang disodorkan oleh Neneknya. Syailendra yang melihat hal tersebut yang sebenarnya baru pulang dari kantornya melihat hal tersebut langsung turun tangan untuk membujuk putri semata wayangnya itu.
Syailendra duduk di tepi ranjangnya Ara sembari berkata kepada anaknya," Sayang! Starla yang cantik dengerin papa yah kali ini, Ara harus minum obat agar cepat sembuh dan pulih, apa Ara gak mau bermain sama temannya atau enggak mau ke sekolah lagi?" Tanyanya dengan memangku putri semata wayangnya itu.
Syailendra mengelus rambut panjang anaknya dengan penuh kasih sayang. Pak Abimana dan Ibu Elma jika, Ara sakit belakangan ini pasti ingin bertemu dengan ibunya.
"Ara putrinya papa, princess nya Papa kok gak mau minum obat, apa gak mau ke sekolah?" Tanya Syailendra yang sesekali mengecup ujung rambut putrinya itu.
Ara menatap ke arah Papanya berada sebelum menjawab semua pertanyaan dari orang dewasa yang ada di dalam kamarnya yang bernuansa pink soft itu.
"Coba katakan sama Papa apa alasannya Ara jadi tidak ingin minum obat?"
Syailendra memandangi wajah putrinya yang selalu mengingatkan dia dengan mantan istrinya Nafeesa.
"Ara gak mau minum obat, percuma ara sembuh karena Ara tidak mau ke sekolah," jawab Ara dengan tetesan air matanya yang sudah membasahi pipinya itu.
"Kenapa Ara gak mau ke sekolah emangnya ada apa di sekolahannya Ara?" Bu Elma ikut menimpali percakapan mereka berdua Papa dan anak itu.
Ara melihat satu persatu dari mereka kemudian menundukkan kepalanya dengan air matanya yang terus mengalir sedari tadi. Ara sesegukan dan tidak bisa berbicara apa pun.
Hanya suara tangisannya saja yang terdengar. Syailendra pun menatap ke arah ibunya yang seolah-olah meminta jawaban dari apa yang terjadi sebenarnya pada Ara.
Bu Elma yang ditatap seperti itu pun hanya mampu untuk menaikkan kedua bahunya tanda tidak mengerti. Tatapan mata sendu dan teduhnya Bu Elma mampu menjawab pertanyaan, kegelisahan dan kegundahan hati yang dirasakan oleh Syailendra melihat keadaan anak tunggalnya itu.
__ADS_1
"Ara!! Papa mohon bicaralah sayang kalau Ara tidak bicara bagaimana caranya Papa bisa bantuin Ara," tuturnya Syailendra.
Starla Kejora Syailendra namanya tapi, nama panggilannya Ara, kemudian mengangkat wajahnya lalu melihat ke arah wajahnya Syailendra. Ia terisak dalam tangisnya yang suaranya sudah serak.
"Teman-teman bilang kalau Ara itu anak yang tidak dinginkan oleh Mama Veneesa, mereka juga ada yang ngomong kalau Ara anak yang dibuang lalu dipungut sama Papa," ungkapnya Ara yang langsung memeluk tubuh Papanya dengan meraung dan menangis histeris dalam pelukan Papanya.
Tidak ada manusia yang sempurna. Pasti manusia pernah melakukan kesalahan. Seperti itulah yang dialami oleh Andra. Masa lalunya yang penuh dengan kesalahan yang membuatnya defresi berat dan disaat dia sembuh.
Syailendra berharap dan berjuang untuk berusaha untuk menjadi seorang manusia yang lebih baik dari hari sebelumnya dengan menutupi kesalahannya dengan kebaikan.
Tapi dunia ini di penuhi orang-orang baik, jika kita tak bisa menemukannya maka jadilah salah satunya.
Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan hanya sebagai pendamping hidup, melainkan kita harus belajar banyak hal darinya
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
__ADS_1
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kau Hanya Milikku
Kekuatan Cinta
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Hikayat Cinta Syailendra dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya.
Makasih banyak all readers…
I love you all..
.
__ADS_1