Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 94


__ADS_3

Ariel menunjukkan sisi romantisnya walaupun ia tidak bisa menyempurnakan kebahagiaannya di atas ranjang. Aril segera berjalan ke arah kursi yang diduduki oleh Audrey Vanessa lalu membuka pintu mobilnya dengan mengulurkan tangannya ke arahnya Vanesaa.


Vanesa membalas tersenyum penuh kelembutan sambil menyambut uluran tangannya Aril Permana yang sudah menunggunya di atas mobil.


"Makasih banyak Mas," ujar Vanesaa yang malu diperlakukan seperti begitu.


Vanesa kembali masuk ke dalam mobil stelah puas mengagumi rumah barunya, "Angkasa, Samudera kita sudah sampai di rumah sayang, ayo bangun Nak apa kalian tidak ingin melihat Mami bahagia?" Tanyanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang saat membangunkan kedua anaknya.


Audrey Vanessa menepuk pelan pipi chubby mereka yang masih terlelap dalam tidurnya padahal baru beberapa detik lalu mata keduanya terpejam. Samudera memilih tidur saat selesai main game, Angkasa pun ikut menyusul adiknya tertidur di dalam mobil.


"Mas ke dalam dulu untuk panggil maid untuk mengangkat barang-barang, kamu terus bangunin mereka yah," pinta Aril lalu berjalan ke arah dalam rumahnya yang sudah terbuka dibantu oleh tukang kebunnya dan security rumahnya.


"Sayang putranya Mami Angkasa, Samudera kita sudah sampai di rumah sayang, ayo bangun Nak apa kalian tidak ingin melihat rumah baru kita? Pasti kalian akan sangat bahagia jika melihat rumah kita," Tanyanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang saat membangunkan kedua anaknya.


Tapi berulang kali usaha yang dilakukan oleh Vanesaa tidak membuahkan hasil yang berusaha mencoba untuk membangunkan kedua putranya, tetapi mereka tidak bangun dari tidurnya dan sama sekali mereka tidak terusik dengan keributan dan kesibukan dari beberapa orang yang berlalu lalang mengangkat barang bawaannya.


"Tunggu beberapa saat baru kamu bangunkan lagi, biarin mereka saja dulu untuk beristirahat," pungkasnya Aril yang sambil berjalan meninggalkan mobilnya di mana istri dan anaknya berada.


"Iya juga, enggak tahu tumben anak-anak dibangun kan susah banget, padahal biasanya kalau tidur pas saat mobil berhenti pasti mereka terbangun," jelasnya Vanesaa.


"Mas ke dalam dulu untuk panggil maid untuk mengangkat barang-barang, kamu terus bangunin mereka yah," pinta Aril lalu berjalan ke arah dalam rumahnya yang sudah terbuka dibantu oleh tukang kebunnya dan security rumahnya.


"Maafkan kami Tuan Besar yang tidak tahu kalau kalian akan sampai hari ini dari luar negeri," sesal Pak Ansari selaku penjaga keamanan kediamannya sambil membantu mengangkat beberapa barang bawaannya Arili.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok Pak, ini juga kesalahan kami yang tidak memberikan kabar sebelumnya," tuturnya Aril yang mengerti jika hal tersebut terjadi karena kesalahannya mereka yang memang merahasiakan kepulangan mereka.


"Pak bisa minta tolong digendong Anak saya?" Tanyanya Vanesaa yang meminta bantuannya pada tukang kebun dan security.


"Iya Nyonya kami bisa kok melakukannya," jawab mereka serentak.


Angkasa segera digendong masuk kedalam rumah itu tapi tiba gilirannya Samudera yang mau digendong oleh Pak Ansari, tiba-tiba ada teriakan dari seseorang dengan suara yang cukup melengking tinggi hingga pandangan mereka spontan teralihkan ke sumber suara.


"Berhenti!!! Jangan sentuh cucu kesayangan ku," pekik Nyonya Dwi Handayani yang melihat hal tersebut segera berteriak dengan suara yang lantang.


Nyonya Dwi, Priska dan beberapa pengawalan dari beberapa orang membuat perhatian mereka teralihkan. Mereka melihat Nyonya Dwi.


"Albert!! Angkat ke dalam cucuku dan kamu harus berhati-hati menggendongnya jangan sampai cucuku terjatuh atau lecet sedikit pun karena ulahmu," perintah Nyonya Dwi yang jumawa dengan wajah sangarnya.


"Baik Nyonya, perintah siap saya laksanakan," jawabnya sambil mengangkat dengan sangat pelan dan ekstrak berhati-hati.


Vanessa yang berjalan ke arah depan mobilnya yang melihat kedatangan Neneknya segera menghampiri Nyonya Dwi lalu meraih punggung tangannya Nyonya Dwi untuk dia cium.


Tapi, apa yang disangka oleh Vanesaa ternyata bakal akan jadi kenyataan. Nyonya Dwia memperhatikan Aril berada di mana. Setelah merasa aman Nyonya Dwi segera menepis dengan kasar tangannya Vanesa.


"Minggir!! Tolong pindah dari hadapanku dan kamu jangan halangi jalanku di depan pintu," ucap Nyonya Dwi dengan penuh amarahnya.


Wajahnya Nyonya Dwi memancarkan kilatan kemarahan yang sedari tadi sejak kedatangannya. Dia ingin memarahi Vanesaa tapi, takut jika Aril melihat apa yang dia lakukan. Sedangkan Priska sang asisten pribadinya, hanya melirik sekilas ke arah Nafeesa yang sedikit kecewa dengan perlakuan dari Nyonya Dwi.

__ADS_1


"Kasihan juga, orang yang tidak punya salah apa-apa diperlakukan seperti itu dan seharusnya dia lebih bersyukur dan berterima kasih kepada Vanesaa karena rela dan ikhlas menikahi pria impoten seperti cucunya itu," batin Priska yang memandang Vanesa dengan iba dan kasihan.


"Aku harus bisa bersabar dan menahan semuanya agar Sakti tidak mengetahui apa yang aku rencanakan selama ini, jika tidak semua rencana yang aku susun dan sudah berjalan 50% nantinya berantakan dan kacau," Nyonya Dwi membatin.


Nyonya Dwi meninggalkan Vanesa yang berdiri kebingungan dan tidak menduga jika, dirinya mendapatkan perlakuan kasar dari nenek suaminya.


"Ya Allah… sabarkan aku dan kuatkan aku selalu yah Allah.," Batinnya Vanesaa.


Ada setitik embun yang menetes dari sudut ekor pelupuk matanya itu. Dia secepatnya dia menghalau air matanya dengan cara mengusapnya agar tidak ada yang melihat dan mengetahui jika dia menangis tersedu-sedu. Starla Kejora Aysila Aireen Syailendra yang melihat neneknya yang berjalan ke sana kemari seperti setrikaan saja hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.


Karena walaupun ada yang menegur atau pun melarangnya pasti akan berakhir dengan omelan dan beliau akan marah jika, ada yang merusak moment bahagianya yang dirasakannya saat itu juga.


"Kasihan yah Nyonya muda diperlakukan seperti itu?" Tanyanya Pak Anwar yang kebetulan melihat hal kejadian tersebut dengan kedua matanya.


"Iya Pak kasihan sekali, tapi ibu berharap Tuan Muda Ariel menyayangi setulus hatinya untuk istrinya seorang hanya Vanesaa," tuturnya Bu Erna sang asisten rumah tangga.


Mbak Susi melihat sekitarnya, "Jangan bicara dengan suara yang besar nanti ada yang mendengar dan melaporkan kepada Nyonya Dwi, dengan apa yang kalian lakukan saat ini, apa kalian ingin dipecatnya tanpa gaji dan pesangon," ancamnya Mbak Susi


"Betul sekali apa yang dikatakan olehmu Susi, tapi menurut aku yah Nyonya Vanesaa itu sangat baik iya kan?" Tanyanya yang ikut menimpali pembicaraan mereka di belakang Tuan rumah.


"Hus.. hus sudah hentikan gosipnya lanjutkan untuk mengangkat barang-barang Nyonya dan Tuan nanti kita kena marah dan yang lebih parah dipecat dari sini," sahut Ibu Darma selaku kepala pembantu di rumah itu.


"Sama-sama sayang," balasnya dengan senyuman tulus dipersembahkan oleh Ariel ke depan istrinya.

__ADS_1


 


__ADS_2