
"Makasih Mami cantik," timpal Angkasa.
"Sama-sama sayang putra kebanggaan dan sholehnya Mami," timpalnya Vanesaa.
Motor matic injeksi kesayangannya itu yang berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang dan sudah ikut bergabung dengan pengendara lainnya yang memadati jalan raya itu.
Beberapa menit kemudian, Angkasa sudah duduk di kursi belakang di atas motor Maminya. Vanessa tidak lupa membantu putranya untuk memasang helm khusus untuk putra pertamanya itu.
"Makasih Mami cantik," timpal Angkasa.
Audrey Vanessa hanya tersenyum menanggapi perkataan dari putra sulungnya itu. Hati kecilnya kembali menjerit, menangis saat kembali teringat wajah putra keduanya Samudera adik kembarnya Angkasa.
"Ya Allah… jaga dan lindungilah putraku dimana pun dia berada, aku sangat tidak ingin berpisah dengannya tapi, demi keselamatan mereka berdua aku terpaksa memenuhi permintaan dan berjanji kepada Nyonya Dwi Handayani untuk mengikhlaskan salah satu dari mereka pergi jauh dari kehidupanku," batinnya Audrey Vanessa yang segera menghapus air matanya yang sempat menetes membasahi pipinya.
Vanesa buru-buru mengelap tetesan air matanya, ia tidak ingin anaknya Angkasa melihat kesedihannya itu. Baginya cukup dia saja yang tahu jika Samudera pergi dari sisi hidup mereka karena ditukar dengan keselamatan Angkasa sendiri.
Berselang beberapa menit kemudian, motor matic injeksi kesayangannya yang berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang dan sudah ikut bergabung dengan pengendara lainnya yang memadati jalan raya.
Vanesaa berusaha, berdoa dan berharap agar sekolah anaknya berjalan lancar, dan usaha yang dia lakukan juga sukses sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Hanya butuh waktu 20 menit perjalanan yang ditempuh oleh Vaneesa untuk sampai di sekolah barunya Angkasa.
"Sayang,ingat jangan nakal yah dan dengarkan baik-baik arahannya Ibu guru," Vanesa mengelus puncak rambut putranya dengan penuh kasih sayang.
Vanessa juga memberikan nasehat kepada anaknya saat mengantarkan Angkasa hingga di depan pintu kelasnya. Karena ia tahu kadang anaknya suka iseng dan jahil sama temannya yang lain.
"Oke Mami," balasnya Angkasa dengan menarik tangannya Vanesa untuk segera dia cium punggung tangan Maminya.
"Assalamualaikum," salamnya Angkasa lalu berlari ke arah dalam ruangan kelasnya setelah berpamitan dengan Maminya.
Vanesa tersenyum melihat tingkah laku putranya yang sangat gembira dihari pertama sekolahnya. Dia berjalan ke arah luar pintu gerbang sekolah, bersamaan ketika mobil dengan merk A dengan warna hitam itu meninggalkan lokasi sekolah Pertiwi.
Vanesaa baru ingin memutar kunci kontak motonya tapi, kegiatannya terhenti beberapa saat setelah menyadari ada anak kecil yang seumuran dengan putranya sedari tadi berdiri di depan motor kesayangannya itu.
Gadis itu berkepang dua, dengan menggendong tas di punggungnya dengan motif gambar Sofia tokoh kartun kesukaannya.
__ADS_1
Anak kecil itu menatap nanar ke arahnya Nafeesa dengan deraian air matanya. Vanesaa tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh gadis kecil tersebut. Tapi, entah apa yang terjadi padanya hanya melihat wajahnya saja yang sendu mampu membuat Vanesaa ikut sedih dan terharu.
"Ya Allah… kenapa dengan anak kecil ini, aku hanya memperhatikan dan melihat wajahnya itu, hatiku seolah-olah ikut hanyut dalam kesedihan yang dia rasakan," batinnya Vanesaa.
Ia ikut meneteskan air matanya saking sedih hatinya yang dia rasakan. Dia pun kebingungan dengan apa yang terjadi padanya. Vanesa turun dari motornya, dan memeluk tubuh anak kecil itu tanpa segan.
Ara semakin mengeraskan tangisannya yang awalnya hanya tersedu-sedu. Ara memeluk erat tubuhnya Vanesaa dengan kedua tangan mungilnya.
"Mama!!" lirihnya Ara dengan deraian air matanya yang sudah membanjiri pipinya yang chubby itu.
Vanessa mengelus punggung anak itu, dan terheran heran serta bertanya-tanya kenapa anak itu memanggilnya dengan sebutan Mama.
"Sudah Sayang, jangan nangis lagi nanti Ibu gurunya datang kamu terlambat lagi," bujuknya Vanesa yang berusaha memberikan pengertian kepada Ara.
Ara secepatnya menghentikan tangisannya setelah mendengar perkataan dari Vanesa. Dia buru-buru menyeka air matanya yang mengalir membasahi wajahnya itu.
"Anak pintar," pujian Vanesa sembari menghapus air matanya Ara yang masih sesekali menetes.
Ara tanpa terduga langsung mencium pipi kanannya Vanesa tanpa aba-aba.
Vanesa kembali dibuat terkejut sekaligus tercengang mendengar penuturan dari mulutnya Ara.
"Mama," beo Vanesa dengan raut wajahnya yang kaget sekaligus penasaran dalam waktu yang bersamaan.
"Maafkan Ara yang menganggap Aunty adalah Mamanya Ara," pungkasnya Ara dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa kok sayang, kamu panggil Aunty dengan panggilan Mama, Aunty sama sekali tidak marah," ujar Vanesa sembari tersenyum di hadapan Starla Kejora Syailendra.
"Apa Aunty bisa antarin Ara masuk ke dalam kelas?" Harap Ara karena sedikit ketakutan jika harus terlambat masuk ke dalam ruangan kelasnya yang sudah terlambat beberapa menit.
Matanya yang berbinar-binar dengan penuh harap agar supaya Vanesaa memenuhi permintaannya itu.
"Ya Allah… semoga Aunty mau mengabulkan keinginanku," gumam Ara.
....
__ADS_1
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kau Hanya Milikku
Kekuatan Cinta
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Hikayat Cinta Syailendra dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya.
Makasih banyak all readers…
I love you all..
__ADS_1