
"Alhamdulillah kalau begitu dokter, kami sangat senang dan bahagia dengernya, semoga saja mereka semua sehat hingga lahiran," harap Nyonya Dwi dibarengi dengan senyuman penuh kelicikan.
"Nyonya Dwi pasti sangat senang saat mengetahui informasi jika Nafeesa hamil anak kembar, sehingga dia kembali membuat dan menyusun kembali rencananya, tapi miris juga dengan nasibnya Vanesaa buntuk kedepannya nanti dan aku hanya berharap Vanesaa bisa kuat dan tahan mental dengan berbagai cobaan yang bersumber kesakitan dan masalah dalam hidupnya yang bersumber dari Nyonya Dwi," bathin nya Priska yang sedikit kasihan dan simpati pada nasibnya Vanesaa yang hanya diperalat oleh Nyonya Vanesa saja.
"Syukur Alhamdulillah… istri dan calon anak kembar ku baik-baik saja, semoga mereka untuk kedepannya sehat selalu dan tidak akan hal negatif yang terjadi padanya," gumamnya Ariel yang sesekali menyeka air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
Aril baru bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter yang telah menyelesaikan pemeriksaannya. Dia menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar, seolah-olah beban beratnya sudah hancur lebur.
"Tolong dijaga baik-baik Ibu dan calon bayinya Tuan Muda, agar kesehatan mereka terjaga hingga proses lahirannya, dan masalah pingsannya tidak perlu terlalu berlebihan mengkhawatirkan keadaannya, tunggu beberapa menit dia akan siuman," tutur Dokter Bennet Sambil tersenyum penuh arti ke arah Nyonya Dwi Handayani.
"Makasih banyak dokter, Priska tolong antar Bu dokter," perintah Ibu Dwi yang sangat tegas saat berbicara.
"Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah… istri dan calon anak kembar kami dalam keadaan yang baik-baik saja," cicitnya Aril lalu menghujani kecupan di keningnya Vanessa yang masih tidak sadarkan diri.
"Ingat mulai detik ini Mami! tidak mau dan tidak menginginkan mendengar kabar lagi jika kesehatan istrimu terganggu yang berakibat membahayakan kesehatan dan keselamatan calon penerus keluarga Prayoga!!" Ucap tegas Bu Dwi yang matanya memancarkan kilatan cahaya kebahagiaan karena rencananya tinggal kurang lebih tiga bulan akan berhasil.
Ariel sedari tadi menggenggam tangannya Vanessa. Dia sudah melupakan jika hari ini ada meeting yang sangat penting akan dia ikuti. Terpaksa di pending karena kondisi Vanesaa yang pingsan dan masih membuat sedikit rasa khawatir di dadanya Aril.
"Ini yang terakhir kalinya Mami mendengar kabar bahwa istrimu sakit!!" Ancam Nyonya Dwi lalu berjalan keluar menuju pintu dengan seringai licik tersungging di wajahnya.
Ariel terdiam sesaat lalu hanya melihat sekilas ke arah Maminya," tanpa Mami ngomong pun seperti itu aku pasti akan menjaga istriku sebaik orang lain mengira," lirihnya Aril lalu memeriksa beberapa jenis obat yang sudah dipersiapkan oleh dokter untuk calon bayinya.
Beberapa bulan kemudian, jauh dari tempat mereka berada di Berlin Jerman, yaitu tepatnya di dalam tanah air Indonesia yaitu di Jakarta, seorang pria beberapa hari ini berdiam diri di dalam rumahnya.
Dia belum bisa beraktifitas seperti biasanya dikarenakan kondisi kesehatannya yang masih belum stabil dan normal seperti biasanya. Kedua orang tuanya Papa dan Mama memutuskan untuk menetap dan tinggal bersama putranya di Ibu kota Jakarta untuk meninggalkan kota Surabaya.
"Syailendra, apa kamu ingin makan sesuatu Nak? Kalau mau Ibu akan buatkan kue atau apa pun yang kamu inginkan," rayu Mamanya Bu Helma yang tidak tega melihat anak sulungnya sudah nampak seperti mayat hidup saja.
__ADS_1
Wajahnya tirus, dagunya lancip, ada lingkaran hitam dibawah ke dua matanya, cambang, jenggot dan kumis tumbuh subur di dagu dan cambangnya. Seakan-akan Endra sudah bosan untuk hidup dan memilih menjadi mayat hidup saja.
Hidup segan mati pun enggan, seperti itu lah yang dialami oleh Endra sejak sadar dari komanya beberapa hari yang lalu. Pandangan dan tatapan matanya Endra kosong, menerawang hingga jauh tak terhingga. Tidak ada yang tahu apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
Pak Abimanyu selaku Papanya memeluk istrinya yang tidak kuasa menahan Isak tangisnya. Dia tidak menyangka jika nasib dan hidup putra semata wayangnya akan berakhir seperti ini jadinya.
"Ya Allah… ampunilah segala dosa-dosa putraku, dan berilah dia kesempatan dan waktu untuk memperbaiki semuanya," gumam Ibu Helma yang sangat menyayangkan rumah tangga putranya hancur disebabkan oleh kesalahan besarnya sendiri.
"Doakan terus Endra Bu, insya Allah putra kita akan segera sembuh, amin," ujarnya Pak Abi yang ikut bersedih melihat kondisi dari Endra yang tidak pernah sama sekali terbayang ataupun terlintas dalam benak dan pikirannya.
Bu Helma melirik ke arah suaminya berada, "Papa! Mama rasa ada teman ayah yang bekerja sebagai dokter jiwa yang sangat terkenal dan hebat, kalau tidak salah dia teman kuliah Papa waktu di London, Inggris?" Tanyanya Ibu Helma dengan selidik.
Pak Abi berpikir sejenak mengingat siapa teman yang dimaksud oleh istrinya itu. Hingga wajahnya berbinar seketika itu saat Sudah bisa mengingat siapa orang yang dimaksudkan oleh istrinya itu.
Pak Abi menerawang siapa nama temannya yang dimaksudkan oleh istrinya itu, "Ada ingat namanya Dokter Frans Lie," jawabnya yang sumringah karena menemukan solusi untuk menangani masalah kesehatan jiwa anaknya.
Maaf novel ini alurnya maju mundur cantik.. sekarang masih berputar kisah sebelum Audrey Vanessa dan Syailendra berpisah atau cerai.
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Merebut Hati Mantan Istri loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
__ADS_1
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kau Hanya Milikku
Kekuatan Cinta
Cinta pertama
Duren I Love You
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Merebut Hati Mantan Istri dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Makasih banyak all readers…
__ADS_1
I love you all..