Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 135


__ADS_3

Vanesaa yang mendengar perkataan dari Endra segera berjalan meninggalkan kamar Angkasa seraya memonyongkan bibirnya karena ketahuan dan kedapatan sedang menguping dan memperhatikan Endra. Dia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari tingkahnya Audrey Vanessa yang menurutnya lucu saja.


"Aku yakin akan mendapatkan segera hatimu, aku berjanji jika kamu bersedia untuk menikah lagi denganku akan aku buktikan padanya jika aku akan memberikan dan menunjukkan padanya kebahagiaan yang selama ini tidak pernah kami rasakan," lirih Endra.


Endra tersenyum melihat tingkahnya Audrey Vanessa yang menurut penglihatannya lucu dan mampu membuatnya tersenyum bahagia.


Endra berjalan ke arah luar ruangan, ia ingin pamitan kepada mantan ibu mertuanya Bu Laila Sari. Tapi, baru saja ingin membuka mulutnya hpnya berdering juga bergetar di dalam saku celananya.


Syailendra segera mengangkat telponnya, Endra berbincang-bincang sebentar dan dari raut wajahnya terlihat jelas jika ada sesuatu hal yang sangat penting terjadi.


"Tunggu! Aku akan segera ke sana, lakukan cara apapun untuk mengambilnya," ujarnya Endra


Perkataan itu yang sempat di dengar oleh Audrey Vanessa yang kebetulan tanpa sengaja menguping pembicaraan mantan istrinya. Tanpa berpamitan, Endra segera meninggalkan rumahnya Vanesa. Mimik wajahnya memperlihatkan jika ia sedang dalam keadaan mengalami kejadian yang sangat penting.


"Tunggu aku, di sana aku tidak secepatnya segera ke sana, Ingat jangan biarkan semuanya gagal," ujarnya Endra lalu segera mengemudikan mobilnya menuju tempat anak buahnya.


Sedang Vanesaa dibuat cukup penasaran dengan apa yang terjadi pada Endra.


"Jika dilihat dari wajahnya Mas Endra sepertinya ada sesuatu hal penting yang telah terjadi, tapi apa? Jadi kepo," batinnya Vaneesa yang sama sekali tidak menyadari dengan apa yang sedang ia lakukan tanpa ia sadari telah bertanya-tanya tentang apa yang kira-kira dilakukan oleh Endra sehingga berpamitan pun tidak ia lakukan.

__ADS_1


Keesokan harinya, seperti biasanya Vaneesa kali ini mengantar anaknya hingga ke dalam kelasnya sesuai dengan perintah dari ibunya untuk menyebarkan undangan ultahnya Angkasa yang akan diadakan nanti sore sekitar jam 5 sore di panti asuhan Arrahmah yang letaknya tidak jauh dari sekolah dasar-nya Angkasa.


Starla yang kebetulan datang tanpa diantar oleh papanya seperti biasa hanya diantar oleh Pak supirnya Mang Udin. Ara melihat mamanya hendak menaiki motor matic injeksi berwarna merah hitam itu segera mempercepat langkah kakinya yang kecil itu.


"Aunty Vanesa!!" Teriaknya Ara dengan suara cemprengnya yang memenuhi area pekarangan halaman sekolahnya.


Vanesa yang mendengar teriakannya Ara segera mematikan mesin motornya. Ia tidak menyangka jika Ara harus berteriak untuk mengejarnya. Vanesa tersenyum menyambut kedatangan Ara ke tempat parkiran.


"Tidak usah berlari sayang entar jatuh loh," tampiknya Vanesa.


Ara yang sudah mendengar perkataan dari mamanya segera semakin mempercepat langkahnya karena tidak sabaran menemui mamanya. Deru nafas Ara sangat kuat, debaran jantungnya pun berdetak kencang, peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya saking kuatnya ia berlari.


Vanessa segera memeluk tubuhnya Ara agar bisa lebih tenang dengan senyuman teduhnya diperlihatkan oleh Vanesa dihadapan Ara.


"Mama, datang yah sebentar sore di ulang tahunnya Ara," ujarnya Ara seraya menyerahkan sebuah undangan ultah berwarna pink ke dalam tangannya Vanesa.


Vanesa cukup terkejut setelah membaca undangan tersebut tanpa berniat untuk menimpali sepatah kata pun isi undangannya.


"Kok ultahnya Angkasa dengan Ara sama yah, hari, bulan, minggu dan juga jam-nya sama," batinnya Audrey Vanessa.

__ADS_1


Starla Kejora Aysila Syailendra sebenarnya ingin menyampaikan kebenaran jika adalah anak kandungnya Vanesaa tapi, Ara sudah berjanji kepada papanya untuk sementara waktu merahasiakan kebenaran dan fakta itu di hadapan mamanya.


Undangan itu khusus dibuat spesial hanya untuk Vanesa seorang. Di dalam kartu undangan itu tertulis jelas, tempat kelahirannya Ara di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Berlin Jerman, waktu nya pun sangat jelas.


"Aku mungkin tidak apa-apa jika bertanya masalah ini, karena entah kenapa aku merasakan ada keanehan yang terjadi di dalam hatiku saat membaca identitasnya Ara, apa benar Ara anaknya Mas Syailendra dengan Lidya?" Vanesa membatin.


"Mama! Ara sangat ingin memelukmu dan memanggilmu dengan sebutan mama dan mengatakan jika aku juga anakmu adik kembarnya Abang Angkasa, tapi demi rencananya papa untuk kembali bersatu seperti dulu lagi, Ara harus lebih tenang data sabar menunggu waktu itu, gumamnya Ara.


Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.


Kebahagiaan tidak selamanya dilihat dari segi banyaknya materi dan harta yang Kamu miliki, tapi bagaimana Kamu bisa membuat dan melihat senyuman yang tercipta dari orang-orang yang Kamu sayangi.


Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan jika terus menuntut kesempurnaan. Syukuri apa yang kamu miliki, maka di sana akan kau temukan kebahagiaan.


Kebahagiaan tidak menghampiri mereka yang memiliki segalanya, namun kebahagiaan akan menghampiri mereka yang berterus bersyukur atas nikmatnya.


Terkadang cobaan menghampiri hidup kita, agar kita menjadi orang yang lebih sabar dan ikhlas untuk menghadapi segalanya.


Audrey Vanessa merasakan kesedihan yang mendalam karena harus kembali bertemu dengan masa lalunya yaitu mantan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2