Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 124


__ADS_3

Bu Helma menyeka air matanya lalu tersenyum penuh maksud ke arah suaminya itu, "Mas sepertinya aku punya cara yang jitu dan ampuh untuk menyatukan mereka lagi," imbuh Bu Helma.


"Aku pun berfikiran seperti itu, aku ingin melihat mereka kembali bersatu seperti dulu, tapi kita harus segera menyelidiki apa Vaneesa memiliki suami atau tidak karena jika Vanesaa masih berstatus istri orang sungguh harapan kita harus sirna dan pupus Sayang," tampiknya Pak Abi.


Wajah keduanya sendu jika mengingat status pernikahan Vanesaa yang menikah kembali setelah bercerai dengan putra sulungnya itu. Bu Helma kembali bersedih dan sedikit kecewa.


Satu bulan kemudian…


Di dalam sebuah rumah yang terbilang cukup sederhana, seorang anak kecil sedang merajuk.


Vanessa yang awalnya sedang masak makanan khusus untuk mereka makan sebelum memulai beraktivitas pagi itu.


"Apa yang terjadi padanya Nak,kok Angkasa berangkat ke sekolah tidak sarapan pagi?" Tanyanya Bu Laila seraya mendudukkan bokongnya di atas kursi meja makan.


Vanesaa yang sedang mengambil kotak bekal makannya di dalam lemari kemudian menutup rapat pintu lemarinya itu.


"Angkasa hanya salah paham saja Mak, ia ingin aku mengadakan acara ulang tahunnya di salah satu panti asuhan tapi aku bilang sama dia kalau aku tidak bisa kebetulan di kantor banyak sekali kerjaan jadi aku bilang di rumah saja itupun harinya mundur ke hari minggu bukan besok kan besok ultahnya yang kesepuluh," jelasnya Audrey Vanesa.


"Kamu tidak perlu risaukan masalah makanan dan sejenisnya, serahkan semua saja sama Emak, insya Allah emak sama Aida dan Aini yang akan mengurus untuk acaranya besok,kamu fokus untuk bekerja dan jangan sekali-kali risaukan dan khawatirkan dengan segala macam persiapannya karena emak akan memberikan kejutan untuk cucuku itu," ungkapnya Bu Laila yang memberikan usulan kepada anak angkatnya itu.


Vaneesa tersenyum penuh bahagia mendengar perkataan dari emaknya," kalau gitu aku pamit dulu Mak, sudah waktunya aku harus pergi bekerja, assalamualaikum," pamitnya Vanesaa seraya meraih tangannya Bu Laila untuk ia cium punggung tangannya itu.


"Kamu hati-hati dan fokus kerja saja kami yang akan urus ulang tahunnya cucuku," ujarnya Bu Laila sebelum Vanesaa sudah berada di ujung pintu.


Vanesaa segera memakai helmnya dan hari penampilannya semakin teduh,enak dipandang mata, dengan pakaian kerja lengan panjang dan celana panjang pula yang senada dengan warna bajunya itu. Motor matic warna merah itu selalu setia menemaninya di setiap ia harus bepergian termasuk ke tempat kerjanya.


Sedangkan di sekolahnya Angkasa, hari ini anak itu diantar oleh Pak Rusdianto yang kebetulan datang ke rumahnya dengan niat sengaja untuk mengantar jemput Angkasa pulang dari sekolahnya.

__ADS_1


"Makasih banyak kakek, nanti siang kakek mau datang jemput Angkasa atau Mama yang datang Kek?" Tanyanya Angkasa disaat setelah melepaskan tangannya Pak Rusdi yang telah ia cium punggung tangannya.


"Insya Allah Kakek akan datang menjemput kamu cucuku, tapi kamu harus telpon Kakek lebih dulu jangan sampai kakek terlambat atau kelupaan lagi," ucapnya Pak Rusdianto.


"Siap Kakek, aku akan telpon nomornya Kakek nanti kalau sudah selesai pasti saya akan telpon Kakek," timpalnya Angkasa.


Pak Rusdianto mengelus puncak rambutnya Angkasa sebelum pergi. Apa yang keduanya lakukan mendapatkan perhatian dari dua pasang mata seseorang.


"Kakek! Jadi dia adalah cucunya Pak Rusdianto pengacara terkenal itu," gumamnya Syailendra yang tanpa sengaja melihat kedekatan dan mendengar perbincangan Angkasa dan Pak Rusdianto.


Beberapa jam kemudian, waktu jam pulang pun sudah selesai. Hari ini Angkasa dan teman-temannya harus mengikuti dua les sekaligus sehingga ia harus belajar dan tinggal di sekolahnya hingga jam lima sore.


"Abang! Kamu dijemput sama Mama atau kakek kamu?" Tanyanya Ara yang berlari terbirit-birit agar jalannya bisa barengan dengan Angkasa.


Angkasa menatap ke arah Starla Kejora Aysila Syailendra sebelum berbicara,"rencananya kakek sih yang mau jemput tapi, katanya kakek tidak bisa karena tiba-tiba ada kliennya yang mengajak untuk bertemu dan pertemuan itu katanya sangat penting," jelas Angkasa dengan sendu.


Angkasa terdiam dan tidak bisa menjawab perkataan dari mulutnya Ara,ia tidak ingin membuat papanya Ara kerepotan lagi, sudah cukup sering ia merepotkan keluarganya Ara. Karena sudah sebulan lebih pula ia harus mengantarnya pulang ke rumahnya.


"Abang tidak perlu berfikir terlalu keras begitu, santai saja kalau dengan papanya Ara Abang, kebetulan papa juga sudah datang kok, itu sana!" Ajaknya Ara sembari menunjuk ke arah Syailendra yang berjalan ke arah mereka.


Syailendra sudah berdiri di hadapan kedua anak kecil itu yang sudah duduk di kelas lima sekolah dasar.


"Bagaimana! Apa kalian sudah siap untuk pulang?" Tanyanya Endra.


Ara tersenyum menanggapi perkataan dari papanya," siap! Dong papanya Ara yang super ganteng dan baik hati," guraunya Starla yang bergelantungan di lengan kanan papanya.


"Kalau gitu let's go…!" Teriaknya Ara.

__ADS_1


Sedangkan Angkasa hanya terdiam sambil berjalan mengekor di belakang keduanya itu. Mereka sudah di dalam mobil, Angkasa duduk di jok kursi belakang. Sedari tadi hanya terdiam membisu. Tapi, wajahnya tersirat kesedihan yang mendalam.


"Papi Ariel, besok ulang tahunnya Angkasa, untuk pertama kalinya aku harus merayakan ulang tahun tanpa Papi sama Samudera, ya Allah… aku sangat merindukan kehadiran mereka berdua, andai bisa aku ingin Papi hidup kembali, aku sangat sedih dan cemburu melihat Ara yang memiliki papa yang sangat baik dan pengertian," batinnya Angkasa yang menatap ke arah atas langit-langit mobil agar air matanya yang hanya menunggu waktu akan menetes membasahi pipinya itu.


Syailendra tanpa sengaja melihat kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Angkasa melalui kaca spion mobilnya,"apa yang terjadi padanya, tidak seperti biasanya, padahal biasanya Ia anak yang terbilang ceria, aktif dan periang tapi kali ini sedari tadi aku perhatikan murung mulu," cicitnya Endra.


Ara yang merasakan keanehan pada dirinya Angkasa segera memecahkan keheningan yang terjadi di dalam mobil.


"Abang besok ulang tahunnya Ara, Abang datang yah tapi acaranya bukan di rumah tapi di panti asuhan Nur Arrahman, sore setelah shalat ashar, datang yah Abang, aku tidak akan tiup lilin jika Abang tidak bisa datang," pintanya Ara.


Angkasa melirik sekilas ke arah Ara, "Kamu juga besok ulang tahun yah?" Tanyanya Angkasa.


Raut wajahnya yang awalnya tegang, tidak percaya, shock, kaget sekarang perlahan berubah jadi bahagia dan kegirangan tetapi berakhir dengan sendu. Air matanya menetes membasahi pipinya.


Pak Abimanyu bahagia sekaligus sedih karena merasa terlambat mengetahui jika dia memiliki seorang cucu laki-laki penerus tampuk pimpinan kekuasaan kekayaannya.


Ara menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari Ara," emangnya kenapa Abang? Apa kamu tidak bisa hadir?" Tanyanya Ara balik.


"Besok aku juga ulang tahun sebenarnya Ara," jawab Angkasa.


"Kalau gitu kita rayakan bersamaan saja Abang, kamu kan pernah ngomong kalau mau rayain ultahnya di panti asuhan, iya kan?" Tanyanya Ara lagi.


Angkasa baru mau membuka mulutnya untuk berbicara tapi, Endra segera menghentikan laju mobilnya tepat di depan pagar besi bercat hitam itu.


"Angkasa, kita sudah sampai di hadapan rumah kamu Nak!" Ujarnya Endra.


Syailendra segera membuka seatbelt nya lalu segera berjalan ke pintu belakang untuk membuka pintu untuk Angkasa, tapi tangannya menggantung tidak jadi karena kedua sudut matanya melihat seseorang.

__ADS_1


__ADS_2