
Aril gerakannya terhenti sesaat lalu menatap bingung ke arah Mamanya,"kenapa nenek bisa mengetahui kalau anakku adalah laki-laki, apa yang terjadi sebenarnya di sini sedangkan aku saja tidak mengetahui jenis kelamin mereka karena jika diusg dokter Brenetta selalu mengatakan jenis kelaminnya tersembunyi, " batinnya Aril yang menatap penuh keheranan ke arah Nyonya Besar Dwi Handayani.
Bu Dwi menatap jengah ke arah Aril yang tiba-tiba langkahnya terhenti lalu berdiri mematung dan tak bergeming ditempatnya.
"Aril!! apa lagi yang kamu tunggu dan pikirkan, apa kamu ingin mendengar anak-anakmu terus-menerus menangis!" ketusnya Bu Dwi.
Aril segera mengakhiri lamunannya tanpa pikir panjang ia sedikit berlari ke arah dalam kamar ruang operasi.
Bu Dwi menatap dongkol kearah putra sambungnya itu, "Kamu tidak perlu melihat Mama seperti itu, yang paling penting kamu harus melihat mereka bertiga ibu sama bayinya," dengusnya Nyonya Dwi Handayani sambil mendorong pelan tubuh Aril hingga ke depan pintu ruangan tersebut.
Aril terharu melihat kondisi kedua bayinya, ia tak segan meneteskan air matanya melihat dua jagoan kecilnya yang terlahir dengan sehat, montok dan tidak kekurangan sedikit apa pun itu.
Oek.. oek..
Suara tangisan keduanya yang seolah-olah saling bersahutan satu sama lainnya. Tubuhnya yang masih kemerahan dengan rambut yang cukup hitam dan berombak, alis mata yang tebal, sudut kelopak matanya yang sedikit sipit seperti ibunya. Hidungnya mancung, bentuk wajahnya perpaduan antara kedua orang tua kandungnya yaitu Syailedra dan Vanesaa.
"Akhirnya kalian telah lahir ke dunia ini, Papi sangat bahagia menyambut kedatangan kalian ke dunia ini sayang," cicitnya Aril disela isak tangisnya yang sesekali menyeka air matanya itu.
Sedangkan Audrey Vanessa yang masih dalam pengaruh obat anestesi operasi caesar, tidak sadarkan diri. Hingga dia dan kedua bayi kembarnya dipindahkan ke dalam ruangan VVIP room, mereka bertiga masih tertidur pulas.
"Semoga saja Priska tidak ketahuan dan disadari oleh siapapun dengan apa yang dilakukannya, aku sudah tidak sabar melihat wajah penderitaan dari mereka berdua," geramnya Bu Dwi Handayani yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Aril segera mengumandangkan adzan di telinga anak-anaknya secara bergantian. Ia mengadzani anaknya dengan linangan air mata kebahagiaan.
"Ya Allah… aku memang bukan pria normal yang sempurna tapi kesempurnaan hidupku dikala kedua jagoan ku ini lahir ke dunia, aku bukanlah Papi biologis mereka tapi bagiku mereka adalah buah cinta dan darah dagingku sendiri," lirihnya Aril yang menggendong satu persatu anaknya secara bergantian.
Nyonya Dwi menunggu kabar dari Priska," ini orang kemana sih, kenapa lama banget? Hanya menaruhnya di tempat sembarang saja sulitnya minta ampun hingga belum balik juga," cicitnya Nyonya Dwi yang mondar-mandir di dalam kamar perawatan Vanesaa.
Nyonya Dwi sesekali melirik jam tangannya bergantian dengan hpnya. Tapi, hingga malam hari Priska belum memperlihatkan batang hidungnya juga.
Kedua bola matanya memerah menahan kekesalan dan amarahnya yang sudah memuncak dan menggebu-gebu, "Awas kamu yah kalau pulang nanti aku akan cecar berbagai pertanyaan, baru kali ini bertugas sangat lambat dan lama, apa ada yang melihatnya atau jangan-jangan?" Batinnya Nyonya Dwi.
Nyonya Dwi sudah nampak risau, mimik wajahnya sudah jelas menyiratkan seperti seseorang yang menahan kemarahannya yang hanya menunggu waktu yang tepat saja,maka akan meledak juga hingga akan berdampak bagi orang yang berada di sekitarnya itu.
Berselang beberapa jam kemudian, Vanesaa mengerjapkan matanya berulang-ulang kali untuk menyesuaikan cahaya lampu yang silau terkena paparan cahaya lampu.
"Ada apa sayang, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya yang sudah menggenggam tangan Istrinya itu.
"Anakku di mana Mas?" Tanyanya yang melihat ke sekelilingnya di dalam ruangan tersebut.
"Anak kita tidur sayang, dia baru saja selesai asi dibantu susu formula bayi karena kamu masih istirahat, kasihan mereka kalau harus nunggu Maminya pasti mereka akan kelaparan," terang Aril dengan sedikit candaan.
"Ingat kamu jangan banyak goyang atau gerak,nanti jahitan yang ada di perutmu itu terbuka," cegah Nyonya Dwi saat melihat Vanesa yang ingin bangkit dari baringnya tersebut.
__ADS_1
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Mama sayang, kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan mereka,kan ada Mas yang jaga, kamu hanya perlu fokus pada penyembuhanmu jadi bedrest saja yang perlu kamu lakukan dan santai karena mereka sehat dan anak-anak kita terlahir dengan normal," jelas Aril panjang lebar.
Vanessa menyerah dan kemudian menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh keduanya. Vaneesa untuk sementara hanya bisa melihat dan memandangi kedua anak kembarnya.
Vanesa tiba-tiba terdiam dan memikirkan tentang mantan suaminya sekaligus Papa dari kedua anak kembarnya itu, "Apa Mas Syailendra akan sebahagia ini, jika dia yang ada di posisinya Mas Ariel? Setelah tahu jika mereka memiliki anak kembar," batin Vaneesa yang tak disadarinya air matanya menetes membasahi pipinya.
Vanesa hingga detik itu ia masih menyatangi dan mencintai mantan suaminya itu. Vaneesa buru-buru menghapus air matanya tersebut agar tidak ada yang melihatnya.
Hingga pintu bercat abu-abu itu terbuka, masuklah Priska dengan wajahnya yang sumringah lalu menatap tajam ke arah Nyonya Dwi yang hanya mampu cengengesan.
Sedangkan di tempat lain di dalam sebuah rumah yang cukup terbilang besar,mewah dengan arsitektur gaya Eropa, Ibu Helma dan Pak Abimanyu serta Natalie dan Yudis dibuat kelimpungan mencari keberadaannya Sysilendra yang sudah jam 9 malam belum pulang juga. Mereka menyangka jika Endra menghilang.
"Ya Allah… di mana putraku berada, perginya dari tadi sekarang sudah malam tapi, dia belum pulang juga," ujarnya Bu Helma yang duduk di sofa di samping kirinya suaminya berada.
Pak Abi memeluk tubuh istrinya itu, "Tenanglah, insya Allah putra kita akanbaik-baik saja, dan jangan berpikiran yang tidak baik," ucap Pak Abi yang mencegah Bu Helma untuk berfikiran negatif seraya mengelus lembut punggung istrinya yang tertutup hijab hari-harinya.
"Ibu harus tenang, ingat juga kondisi kesehatan Ibu, saya yakin Abang akan baik-baik saja kok," ungkap Natalie yang berusaha menenangkan mama mertuanya itu sembari mengelus punggung tangan ibunya berusaha untuk menenangkan diri ibunya.
Baru dalam hitungan detik, pintu rumahnya Yudistira anak keduanya Pak Abimanyu yang berdaun dua pintu itu terbuka lebar. Orang-orang yang berada di dalam ruangan tamu tersebut menatap tajam ke arah Endra.
Mereka nampak kebingungan serta terkejut dengan kedatangannya anggota keluarga mereka, Sedangkan Endra hanya tersenyum cengengesan yang sangat mengerti dengan raut wajah cemas mereka semua.
__ADS_1
Bu Helma segera berhamburan memeluk tubuhnya Syailendra karena sudah sedih dan kebingungan mencari keberadaan anaknya tersebut.