
"Ara bantu doa agar Mama nya Starla segera pulang ke rumah nya jadi bisa ngumpul dengan Ara dan keluarga yang lain," timpalnya Irfan Hakim.
Bu Helma dan Pak Abi semakin terisak dalam tangisannya karena tidak kuasa menahan rasa sedihnya melihat cucu tunggalnya itu menangis merindukan mamanya.
"Ya Allah... segeralah pertemukan cucuku dengan Mamanya," batinnya Bu Helma.
Jodoh itu saling melengkapi, jadi dia cerminan diri sekaligus saling melengkapi. Kesuksesan perkawinan ditentukan karena 4 hal, yaitu keturunan,harta, kecantikan/ketampanan dan juga agama serta akhlaknya. Rasulullah berpesan selama akhlaknya baik dan agamanya baik, maka terimalah lamarannya.
Irfan Hakim dan yang lainnya penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Ara.
"Ma-ma pergi Om dan sampai sekarang belum pulang katanya Papa," jawabnya dengan suara yang lirih sangat kecil dengan menundukkan kepalanya.
Semua orang ikut sedih dan menangis,tak ada satupun di dalam sana yang ikut bersedih. Begitu pula halnya dengan Sakti dan Nafeesa yang menonton langsung acara tersebut.
Ariel dengan seksama memperhatikan tayangan yang ada di televisi, "Kasihan sekali anak itu di usianya yang baru delapan tahun lebih dan masih sangat kecil,dia sudah tidak punya mama," tutur Aril yang prihatin dengan Ara.
Vanesaa mencengkeram kuat genggaman tangannya, "Kenapa ada seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya begitu saja, dimana sih mereka simpan hati nuraninya," geramnya Vanesaa yang sangat marah dengan tindakan dan perilaku dari mamanya Ara.
Aril memeluk tubuh istrinya agar tenang dan tidak ikut tersulut emosinya melihat kehidupan anak yang ada di dalam tv tersebut.
"Ya Allah… andai aku saja yang diberikan karunia dan rezeki seorang bayi perempuan pasti semakin lengkap kebahagiaanku dan andai anak perempuan itu hidup bersamaku pasti aku tidak akan menelantarkan anak itu seperti mamanya yang sama sekali tidak punya perasaan," batinnya Audrey Vanessa.
"Maafkan Mas sayang, jika Mas tidak bisa memenuhi permintaan dan keinginan kamu, aku yakin kamu pasti menginginkan seorang anak perempuan tapi, Mas tidak mampu untuk memenuhi permintaanmu itu," lirihnya Ariel yang berusaha menutupi perasaan kecewanya di hadapan Vanesaa.
Ariel memegang kedua genggaman tangannya Vanesa,"sayang, jangan emosional gitu dong sayang, mungkin ada alasan dibalik mamanya yang pergi tidak pulang-pulang, kita tidak boleh menghakimi orang lain tanpa mengetahui kenyataan yang ada, menurut aku adae mungkin yah beberapa penyebab alasannya sehingga seperti itu dan kenyatannya bisa saja berbeda dengan yang diketahui orang lain," sanggah Aril yang tak setuju dengan pendapat dari Vanesa yang menghujat mama anak kecil itu.
"Aku terlalu kasihan dengan anak itu, seharusnya mamanya bangga dan bersyukur memiliki anak seperti itu, apa lagi sudah membanggakan dan memiliki kemampuan untuk membaca ayat suci Al-Qur'an dengan fasih, aku pun sangat berharap agar kedua anak kembarku bisa lancar baca tulis Al-Qur'an seperti anak yang lainnya," terangnya Vanesa yang sedikit mulai menurunkan emosinya.
"Makanya Mas bawa pulang anak-anak kita sayang ke tanah air, saya tidak ingin melihat mereka buta tentang pelajaran agama walaupun di Amerika serikat mereka tetap mendapatkan pendidikan yang sangat bagus tapi, pergaulan dan lingkungan di sana tidak cocok untuk mereka," jelas Aril yang menerawang jauh ke masa depan kedua anak sambungnya itu.
Mereka saling berpegangan tangan, Vanesaa menyandarkan kepalanya ke bahu kirinya Aril dan mereka masih asyik menonton acara TV tersebut yang hadir di salah satu stasiun tv setiap tahunnya.
"Semakin aku pandang wajah anak itu kenapa semakin aku rasa aku mengenalnya, seakan-akan dia adalah orang terdekat aku," gumamnya Vanesa yang tidak pernah mengalihkan pandangannya dari televisi.
__ADS_1
Setelah acara televisi tersebut selesai, Vanesaa dan Aril mematikan tv tersebut lalu mengistirahatkan tubuhnya mereka masing-masing.
Hingga detik ini, Ariel masih menyesali dan terkadang tidak menerima kekurangannya itu dan dia juga khawatir jika suatu saat nanti penyakitnya semakin parah hingga dia harus meninggalkan anak-anak dan istrinya yang sangat dia sayangi dan kasihi dalam waktu dekat.
"Ya Allah… berilah aku waktu yang banyak dan panjang aku ingin membahagiakan anak dan Istriku, berilah aku kesempatan untuk melihat mereka besar," cicitnya yang mengamati kedua anak kembarnya yang terlelap dalam tidurnya.
Ariel duduk di tepi ranjang anak sambungnya. Walaupun mereka berdua, hanya anak sambung saja tetapi, kasih sayang, perhatian dan segalanya ikhlas dan tulus dia berikan untuk Angkasa dan Samudera.
"Kehadiran kalian dalam hidupnya Papi seolah dikirim oleh Allah SWT untuk sebagai pengobat, penguat pelipur lara Papi," batin Ariel yang sangat sedih jika mengingat penyakitnya sesekali menyeka air matanya.
Ia kemudian mengecup kening mereka satu persatu. Angkasa seperti biasa selalu meminta kepada Papinya untuk dibacakan beberapa cerita dongeng sebelum dia tidur.
"Apa pun akan Papi lakukan demi kebahagiaan kalian dan jika, memang Allah memanggil papi sebelum kalian dewasa Papi sudah menyiapkan harta yang cukup banyak untuk masa depan kalian berdua dan juga Mami, istriku tercinta," ungkapnya.
Ariel duduk terpaku dengan lelehan air matanya yang setitik demi sedikit sudah mengalir. Setiap saat seakan-akan dia sangat ketakutan, apabila penyakitnya semakin parah dan dia harus meninggal dunia untuk selamanya.
"Astagfirullah, aku tidak boleh seperti ini, semuanya salah dan tidak boleh terjadi, aku salah besar kalau seperti ini terus meratapi dan kufur nikmat Allah yang selalu memberikan yang terbaik untukku,," batinnya Ariel.
Aril kemudian meninggalkan kamar twins, dengan perasaan haru bercampur sedih, bahagia dalam hatinya. Ariel berulang kali beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT karena telah berdosa.
"Rendra! Tolong cari bukti secepatnya jika anak kecil ini benar-benar adalah cucuku ahli waris ku dengan cara apapun, karena aku yakin Vanesa tak akan mau bicara jujur padaku, apa lagi dia pernah menikah lagi bisa saja ia berkilah untuk menutupi kenyataan yang ada," imbuhnya Pak Abi.
Tapi,ia selalu menanamkan pada dirinya sendiri agar tidak kufur nikmat. Dia berpikir jika dibandingkan dengan nasib dan rezeki yang diberikan oleh orang lain untuknya pasti, kehidupannya lebih baik dan beruntung dibandingkan dengan orang lain di luar sana.
Rezeki merupakan anugerah artinya segala sesuatu yang kita miliki baik itu rezeki sehat, rejeki harta, rezeki kebahagiaan, rejeki kecerdasan, itu semua merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita.
Sebagai umat yang taat kepada Tuhannya, kita harus pandai-pandai bersyukur terkait dengan semua rejeki yang kita dapat.
Hidup ini tak akan indah
Tanpa kau ada di hati
Ceria ini tak kan ada
__ADS_1
Tanpa kau ada di sisi
Kekasihku, kau bunga mimpiku
Tiada yang lain hanya dirimu
Yang kusayang dan selalu kukenang
'Kan selalu bersama dalam suka dan duka
Dirimu satu yang kumau
takkan lagi ada selain dirimu
Cinta suci hanyalah untukmu
Dengarlah kasih, kaulah dambaanku
Walau kan datang badai menghadang
Kita kan selalu bersama
Tetap satu dalam cinta
Tiada yang mampu merubah
Wajah manis yang lembut dan ayu
Bagaikan untaian mutiara
Takkan kulepas hingga akhir masa
Kan selalu bersama dalam suka dan duka.
__ADS_1