
Dan juga tidak pernah ada yang menyinggung kita, hanya saja kita memilih untuk tersinggung. andai saja kita bisa melapangkan hati kita maka semua akan terasa manis.
Kita yang memilih rasa dalam hati kita, maka jika sekiranya kita masih bisa memilih berlapang dada maka pilihlah kelapangan. Karena kita akan merasa tenang dan selalu bahagia. semua tentang rasa yang kita sendiri yang memilikinya dan kita juga yang memilihnya.
Berbuatlah hal-hal kebaikan agar yang kita dapatkan juga kebaikan. Karena sejatinya apa yang kita perbuat hari ini esok ataupun lusa pasti akan kembali pada diri kita sendiri. Apa yang kita tanam dan itu lah yang akan kita tuai.
Hahahaha,"rencana kita berhasil dan aku sangat tidak menyangka jika semuanya berjalan sukses dan semudah itu," terangnya sambil menyesap minuman berwarnanya dengan kandungan alkohol yang cukup tinggi itu.
"Kamu sangat pintar sayang, kita akhirnya jadi konglomerat hingga tujuh turunan," sahutnya dengan sesekali mengelus punggung polos dari Istrinya itu.
Malam itu mereka merayakan kemenangan sekaligus keberhasilan untuk merebut semua harta yang sudah lama mereka impikan. Tawa bahagia kegirangan mereka menggema di seluruh penjuru dan pojok ruangan yang berukuran 6x8 meter itu.
Kedua orang itu melupakan jika di dunia ini tidak ada yang abadi. Suatu saat nanti akan pergi meninggalkan kita semua. Ada saatnya harta itu yang akan meninggalkan kita dan kadang kala kita lah yang akan meninggalkan harta kekayaan itu.
Nyonya Besar Dwi Handayani merayakan keberhasilan rencananya yang sudah ia susun dan laksanakan sejak beberapa tahun yang lalu. Ia menikmati kekayaan dari almarhum suaminya Permana Pradipto yang jelas-jelas bukan haknya.
Pak Rusdianto Hendri Ruslan segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Pelita Harapan bersama dengan Daffa yang duduk di sampingnya. Sesekali Pak Rusdi melirik sekilas ke arah Angkasa yang mulai masuk kedalam mobil lebih banyak terdiam tidak seperti biasanya yang selalu aktif dan heboh.
Seakan-akan ada perang batin di dalam diri dan kepalanya. Hal itu terlihat disaat dia menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Kilatan cahaya matanya seolah mengisyaratkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
Pak Rusdianto sudah mulai khawatir dengan sikapnya Angkasa dan ia menyentuh punggung tangannya Angkasa. Ia melakukan hal itu bertujuan, agar merasa lebih tenang dan tidak memikirkan banyak hal yang nantinya akan berdampak negatif untuk jiwa dan psikisnya nanti.
__ADS_1
Pak Rusdi melirik sekilas ke arah Angkasa sedangkan tangannya masih setia mengemudikan mobilnya,"Angkasa," sapanya Pak Rusdianto.
Sapaan dari Pak Ruslan mampu membuat buyar lamunannya. Hingga tubuhnya tersentak kaget saat itu juga.
Pak Rusdi sedikit cemas melihat raut wajah dan ekspresinya Angkasa, "Apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya Pak Rusdi sambil mengelus puncak surau miliknya Angkasa.
Angkasa yang ditanya seperti itu menolehkan kepalanya ke arah Pak Rusdian," entah kenapa hatiku mengatakan ada sesuatu yang membuatku sangat sedih dan kepikiran kakek, aku juga sangat ketakutan tapi, tidak tahu karena apa aku ketakutan Kek," jawabnya dengan sendu lalu menundukkan kepalanya.
"Sepertinya Angkasa cucuku merasakan firasat tentang adik kembarnya, ya Allah.. jaga dan lindungilah Samudera dimanapun dia berada dan jangan Engkau biarkan sesuatu yang tidak baik itu terjadi, cukuplah cobaan yang mereka hadapi dua hari ini," batinnya Pak Rusdianto yang kembali fokus mengendarai mobilnya itu.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di Rumah Sakit tempat Audrey Vanessa dirawat. Setelah mobil berhenti, Daffa bergegas berjalan ke arah dalam lobi RS mendahului Pak Rusdianto.
"Kakek cepatan jalannya, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dan melihat Mami!"" teriaknya bocah 11 tahunan itu sambil terus berlari ke arah ruangan perawatan maminya setelah mendengar petunjuk dari Pak Ruslan nama dan nomor ruangan kamar perawatannya Vanesaa.
Angkasa tidak sabaran lalu membuka lebar pintu itu dengan sekuat tenaganya. Lalu bergegas masuk ke dalam dan melihat maminya sedang duduk di atas bangkar ranjang rumah sakit.
Wajahnya Angkasa berseri-seri seraya membuka kenop pintu, "Mami!!" Pekiknya Angkasa lalu berlarian ke arah pangkuan maminya.
Vanesa yang melihat putranya menuju ke arahnya, segera merentangkan tangannya dengan seulas senyuman yang diperlihatkan oleh Audrey Vanessa untuk menyambut kedatangan anak sulungnya, sedangkan adik kembarnya Angkasa diambil oleh Bu Dwi Handayani dengan paksa.
Mereka kemudian berpelukan satu sama lainnya. Angkasa spontan meneteskan air matanya begitu pun halnya dengan Nafeesa yang baru sehari tidak melihat anaknya rasa rindunya sudah sangat besar.
__ADS_1
"Mami! Jangan tinggalin Angkasa, kalau Mami juga pergi pasti aku tidak akan tahu bagaimana nasibnya Angkasa lagi, cukup adikku Samudera yang pergi meninggalkan Angkasa mami!" ujarnya Angkasa dengan berlinang air matanya.
Vanesaa memeluk erat tubuh putra pertamanya itu dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih. Air matanya pun sudah menetes tanpa aba-aba. Ia tidak tahu harus berbicara apa menyambut kedatangan anaknya itu.
Hanya air mata kesedihan dan kegundahan hatinya mampu mewakili apa yang saat itu dia rasakan. Bersedih, berputus asa terus menerus tidak akan merubah keadaan. Bahkan akan hidup dalam penyesalan yang tidak bertepi.
"Angkasa tidak mau sendirian tanpa Mami," Angkasa sesegukan dalam pelukan wanita yang paling berjasa dalam hidupnya.
"Ya Allah… aku tidak boleh terus larut dalam kesedihan, pasti Mas Aril juga akan sedih melihatku seperti ini, aku harus kuat dan sabar menghadapi semua ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku," gumam Vanesa sembari menyeka air matanya yang mewakili perasaannya saat itu.
Audrey Vanessa sudah bertekad untuk lebih kuat, strong dan ikhlas menjalani kehidupan dan takdirnya. Waktu terus berlalu dan waktu tidak akan menunggu kita sampai berubah.
Keesokan paginya.. Pak Rusdianto Hendri Ruslan kembali ke rumah sakit karena kemarin hanya datang untuk mengantar Angkasa. Pak Ruslan tidak lupa membawa beberapa makanan dan cemilan untuk mereka berempat.
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Vanesa hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Mama mertuanya. Ia sering khawatir sendiri dan ketakutan jika mengingat kembali perkataan Nyonya Dwi saat ia hamil lima bulan.
"Kenapa aku perhatiin Mama hanya menyayangi Samudera sedangkan dengan Angkasa hanya sekedar apa adanya saja," batinnya Vanesaa yang merasa heran dengan perlakuan dan sikapnya Nyonya Dwi terhadap ke dua putra kembarnya.
Ariel yang baru masuk kedalam kamarnya dan mendapati istrinya sedang melamun sambil menatap ke arah bayinya yang tertidur pulas. Aril berinisiatif segera memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Apa yang dilakukan oleh Aril hal itu membuat Vanesaa tersentak terkejut.
__ADS_1