Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 74


__ADS_3

"Maaf Pak! Tuan besar sudah lama tinggal di Berlin, Jerman sekitar dua tahun yang lalu dan beliau belum pernah kembali lagi ke Jakarta beberapa bulan terakhir ini," tutur Pak Security.


Raut wajahnya Pak Abi spontan berubah drastis dari penuh harap menjadi pesimis, "Ya Allah… kenapa kami sulit sekali untuk bertemu dengannya ?" Batinnya yang sangat sedih dengan kegagalan mereka yang kedua kalinya.


"Ya Allah… kenapa kami sulit sekali untuk bertemu dengan dokter Frans?" Batinnya Pak Abi yang sangat sedih dengan kegagalan mereka yang kedua kalinya.


Pak Abi seakan-akan ingin meneteskan air matanya,ia tidak menduga bahwa teman sekaligus dokter spesialis jiwa itu tidak ada di rumahnya dan ternyata sudah hampir setahun lebih beliau tinggal di Berlin, Jerman. Raut wajah keputus asaan sangatlah jelas nampak di wajahnya.


Pak Abimanyu berjalan dengan lunglai ke arah mobil tempat istri dan putranya berada," aku tidak tahu harus ngomong apa kepada istriku, pasti ia kembali bersedih dan semakin terpukul dengan kenyataan yang baru lagi," Pak Abi membatin.


Bu Helma secara tersirat sudah mengetahui jawabannya dari membaca dan melihat mimik wajah suaminya tersebut, "Bagaimana Papa, apa dokter Frans Lie ada dan kapan beliau bisa memeriksa kondisi penyakit putra kita?" Cerca Ibu Helma yang sudah menyerang suaminya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Beliau tidak ada di dalam sana, katanya Security yang menjaga keamanan rumahnya, dia sudah pindah dan menetap di luar negeri," jawabnya yang tertunduk lesu.


"Apa!!!! Itu tidak mungkin Mas?" Pekik Ibu Helma yang sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Pak Abi spontan segera memeluk tubuh istrinya yang berusaha menenangkan istrinya tersebut agar tabah dan ikhlas menerima kenyataan ini.


"Ya Allah… kenapa semua bisa seperti ini, susah sekali untuk bertemu dengan dokter Frans Lie Simatupang?" Keluh Bu Helma yang membalas pelukan suaminya.


Pak Abi tersenyum tipis lalu berucap, "Sayang, bagaimana kalau kita menyusul Dokter Frans ke Jerman dan membawa putra kita Syailendra berobat di sana saja?" Tanyanya Pak Abi yang mengusulkan kepada istrinya untuk membawa Endra berobat ke luar negeri tepatnya di Jerman.


Matanya Nyonya Helma berbinar terang, "Itu ide yang bagus Mas, jangan menundanya lagi," jawabnya yang kemudian menghapus sisa air matanya lalu tersenyum menanggapi usulan dan rencana suaminya itu.


"Kalau gitu aku meminta alamatnya terlebih dahulu kepada penjaga rumahnya agar memudahkan kita ke sana," tutur Pak Abi lalu kembali turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pos jaga security.


Setelah berbincang-bincang beberapa menit, Pak Abi sudah mengantongi alamat rumah dan tempat kerjanya Dokter Frans Lie yang ada di Berlin. Security juga dengan senang hati membantu Pak Abi karena kasihan setelah mendengar penjelasan dari Pak Abi sendiri yang berbicara.


"Ayo kita segera pulang untuk mempersiapkan keberangkatan kita besok pagi," ujarnya Pak Abi yang sudah duduk di jok belakang di sampingnya Endra.


Sedangkan Syailendra yang hanya terdiam membeku di tempatnya tanpa ada niat untuk membuka mulutnya tatapan matanya kosong.


"Jalan Pak Supir, oiya tolong ibu-ibu yang dulu biasa datang ke rumahnya Endra mulai besok harus bekerja di sana untuk menjaga rumah dan membersihkannya selama kami berada di Jerman," perintah Ibu Helma ke hadapan Pak Supirnya.

__ADS_1


"Baik Nyonya, perintah Nyonya besar akan saya laksanakan secepatnya," sahut Pak Supir mang Dirman yang melirik sepintas lalu ke arah majikannya.


"Saya berharap semua tanggung jawab untuk menjaga dan mengurus rumahnya puteraku ke tangannya mamang Dirman," imbuhnya Pak Abi.


Mobil mereka melaju dengan kecepatan yang sedang, yang membelah jalan ibu kota Jakarta. Mereka sudah memutuskan untuk membawa Endra berobat ke luar negeri yaitu Jerman negara yang mereka pilih.


Endra baru beberapa detik menyentuhkan kepalanya ke atas bantal, dia langsung terlelap. Ibu Helma pun meninggalkan putranya di dalam kamar pribadinya sendiri.


"Putraku seperti seorang bayi besar saja yang harus dinina bobo dulu baru bisa terlelap dan tertidur pulas," gumam Bu Helma.


"Awas!! Jangan!!! Ti-dak!!" Jeritnya Syailendra.


Endra berteriak kencang di tengah malam buta. Nafasnya ngos-ngosan, peluh keringat bercucuran membasahi pipinya, raut wajahnya tampak tegang seakan ada hal besar yang telah terjadi padanya dalam mimpinya.


Dia bermimpi melihat ada bayi kembar yang ingin ditabrak sebuah mobil sedan Corolla Altis yang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi di atas jalan aspal.


Ia pun berteriak kencang saking takutnya melihat anak kembar yang berada di dalam masing-masing kereta dorongnya yang berwarna cerah.


"Tidak!!!!" teriaknya kemudian terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit terlelap itu.


Semua orang yang mendengar suaranya nyonya Dea yang cukup terbilang kasar itu membuat mereka harus segera berjalan meninggalkan area lokasi tempat pemakaman umum itu dengan berbagai pikiran yang berbeda-beda.


"Pak Ruslan saya mohon jaga Daffa dengan baik karena mulai detik ini Daffa dan ibunya tidak boleh datang lagi menginjakkan kakinya di rumah keluarga besar Permana, ingat baik-baik jika tidak dipenuhi permintaanku maka kalian yang harus menanggung akibatnya," ucap Bu Dea sambil menarik tangannya Daffin yang sudah ingin berlari ke arahnya Daffa kakaknya.


Kedua orang tuanya yaitu ibu Helma Pradopo Abimanyu dan Pak Abimanyu sama sekali tidak mengetahui dengan kejadian tersebut. Endra kembali berusaha untuk memejamkan matanya karena rasa ngantuk yang kembali menderanya tapi, mimpinya itu tidak terulang kembali.


Keesokan paginya, Pak Abi, Ibu Helma dan juga Endra sudah berada di pesawat menuju ke Jerman. Mereka berharap agar usahanya kali ini berhasil dan membuahkan hasil yang maksimal sehingga Andra bisa segera bisa disembuhkan penyakitnya.


Akhirnya ku menemukanmu


Saat hati ini mulai merapuh


Akhirnya ku menemukanmu

__ADS_1


Saat raga ini ingin berlabuh


Ku berharap engkau lah


Jawaban segala risau hatiku


Dan biarkan diriku


Mencintaimu hingga ujung usiaku


Jika nanti ku sanding dirimu


Miliki aku dengan segala kelemahan ku


Dan bila nanti engkau di sampingku


Jangan pernah letih tuk mencintaiku


Akhirnya ku menemukanmu


Saat hati ini mulai merapuh


Ku berharap engkau lah


Jawaban segala risau hatiku


Dan biarkan diriku


Mencintaimu hingga ujung usiaku


Jika nanti ku sanding dirimu


miliki aku dengan segala kelemahan ku

__ADS_1


Dan bila nanti engkau di di sampingku


Jangan pernah letih untuk mencintaiku


__ADS_2