Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 113


__ADS_3

Angkasa yang melihat hal tersebut segera menarik tangan adiknya, "Nenek!! Lepaskan tangannya adikku kalau seperti ini Nenek sama saja menyakiti adikku," geramnya Angkasa kecil.


Nyonya Dwi menatap jengah ke arah Angkasa," kamu masih kecil kamu tidak tahu apa-apa dan diamlah karena kamu tidak ada hubungan apapun lagi dengan Samudera dan kami, karena kamu bukanlah cucuku, karena hanya Samudera seorang cucuku di dunia ini" hardik Nyonya Dwi dengan tega berkata seperti itu.


Beberapa orang yang masih kebetulan ada di sana terkejut setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Nyonya Dwi. Mereka saling berbisik dan bertatapan dengan keheranan. Tanpa ada niat untuk menimpali perkataannya Bu Dwi mereka terlalu takut untuk bertindak.


Beberapa orang yang masih kebetulan ada di sana terkejut setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Nyonya Dwi Handayani. Mereka saling berbisik dan bertatapan dengan keheranan. Banyak keheranan dan tidak percaya fakta yang baru saja mereka dengar.


"Astaghfirullah, Bu Dwi kejam sekali, dimana hati nuraninya ia simpan, anak kecil seperti itu dikasari di depan orang lain lagi dan disaat anaknya meninggal dunia,tega nian hatimu Bu Dwi," makinya beberapa orang yang kebetulan masih ada di dalam sana.


Priska cukup dibuat terkejut,"Apa seperti ini sifat aslinya Nyonya Dwi yang tidak punya perasaan dan rasa iba sedikit pun? Tapi hal itu wajar saja ia lakukan, aku masih ingat dengan jelas saat Nyonya memerintahkan kepada saya untuk membunuh salah anak kembarnya Nyonya Muda Audrey Vanessa," Priska membatin dan tidak menyangka jika ternyata Nyonya Dwi adalah ular berkepala dua.

__ADS_1


Bu menatap ke arah satu persatu ke kerumunan pelayak, "Kalian yang ada di sini tolong secepatnya bubar dan tinggalkan kami di sini!!" geram Nyonya Dwi yang sangat tidak menyukai disaat ia diperguncingkan oleh beberapa orang yang hadir di pemakaman umum.


Semua orang tanpa menunggu lama-lama langsung bubar dan meninggalkan tempat pemakaman umum setempat. Hanya raut wajah yang geram,kesal, kecewa dan mulai emosi melihat perangainya Bu Dwi langsung menggunakan kedua pasang mata mereka.


Semua orang yang mendengar suaranya nyonya Dwi yang cukup terbilang besar, melengking, menggema dan kasar itu membuat mereka harus segera berjalan meninggalkan area lokasi tempat pemakaman umum itu dengan berbagai pikiran yang berbeda-beda.


"Pak Rusdianto! saya mohon jaga Angkasa dengan baik karena, mulai detik ini Angkasa dan mamanya tidak boleh datang lagi menginjakkan kakinya di rumah keluarga besar Permana!!" Hardik Bu Dwi.


"Aku hanya meminta kepada kalian untuk mengingat baik-baik jika, tidak dipenuhi permintaannku maka kalian yang harus menanggung akibatnya," ancam Bu Dwi sambil menarik tangannya Samudera yang sudah ingin berlari ke arahnya Angkasa kakaknya.


Pak Rusdianto tersentak kaget mendengar penjelasan dari mulutnya Nyonya Dwi. Angkasa segera berlari kembali ke arah Nyonya Dwi untuk memegang tangannya Samudera yang kebetulan ditarik paksa oleh Nyonya Dwi dengan penuh kekuatannya untuk meninggalkan Angkasa dan Pak Ruslan di depan pusara makam Ariel yang sudah dipenuhi oleh bunga-bunga.

__ADS_1


"Hey!! jangan sentuh tangannya cucuku lagi! aku tidak suka jika kamu menyentuhnya dengan tanganmu yang kotor itu," geramnya Nyonya Dwi dengan menyingkirkan segera tangannya Angkasa dan mengambil tissue untuk melap bekas pegangan Samudra diatas punggung tangannya Angkasa adik kembarnya.


keluargaku lebih-lebih sebagai cucuku, jadi mulai detik ini pergi jauhlah dan enyhlah dari hidupku jangan sekali-kali muncul di depan kami lagi!! Camkan baik-baik semua perkataanku ini," geramnya Bu Dwi secara jelas dengan senyuman licik yang selalu menghiasi wajahnya itu yang masih sedikit muda diusianya yang sudah kepala lima.


Nyonya Dwi dengan menarik dagunya Angkasa dengan cukup kuat hingga Angkasa meringis menahan perihnya kukunya Bu Dwi yang mengenai permukaan kulitnya itu. Dia lalu segera menghempaskan tubuh kecilnya Angkasa hingga terjatuh tepat di atas pusaranya


"Kenapa Nenek tega memisahkan kami, apa salahku pada nenek?" Rengeknya Angkasa yang memelas dan menghibah dengan sangat di hadapan perempuan yang sudah dianggap nenek kandungnya sendiri dengan tangisannya yang sudah semakin besar saja.


Hahahaha," kenapa? Aahh apa kamu ingin mengetahui alasanku haaa!!" Bentaknya Bu Dwi dengan tawanya yang membahana.


Angkasa tanpa pikir panjang ia spontan menganggukkan kepalanya ke arah Nyonya Dwi dengan sesekali melap air matanya yang terus membasahi pipinya.

__ADS_1


"Jawabnya dan alasannya, adalah karena kamu anak pembawa sial dan juga penyakitan dan hanya Samudera lah cucuku seorang tidak ada yang lain lagi," sarkas Nyonya Dwi dengan suara yang cukup lantang di depannya Angkasa.


__ADS_2