Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 29


__ADS_3

Lisna kemudian menarik baju kimono mandinya yang tergantung di samping kirinya. Dia untuk segera keluar dari kamar mandi tersebut dan bergegas berjalan ke arah pintu. Tapi, langkahnya kembali terhenti ketika dia memegang gagang pintu. Dia berusaha untuk memutar knop pintu,tapi pintu itu tidak bisa berputar.


Lisna dibuat kembali kebingungan dengan pintu kamar mandi, "Ini juga kenapa tiba-tiba macet? Apa ikutan dengan mesin shower yang tidak bisa mengeluarkan air?" Tanyanya yang keheranan dengan berbagai hal yang menimpanya selama dua hari ini.


Lisna kemudian menarik baju kimono mandinya yang tergantung di samping kirinya. Dia untuk segera keluar dari kamar mandi tersebut dan bergegas berjalan ke arah pintu. Tapi, langkahnya kembali terhenti ketika dia memegang gagang pintu. Dia berusaha untuk memutar knop pintu,tapi pintu itu tidak bisa berputar.


Lisna dibuat kembali kebingungan dengan pintu kamar mandi, "Ini juga kenapa tiba-tiba macet? Apa ikutan dengan mesin shower yang tidak bisa mengeluarkan air?" Tanyanya yang keheranan dengan berbagai hal yang menimpanya selama dua hari ini.


"Sial!!! Aku harus gimana lagi? pintunya tidak mau terbuka, airnya juga gak keluar, tidak mungkin aku terus terjebak dalam keadaan yang menjenkelkan dan mengesalkan ini!!" Umpatnya Lisna dengan raut wajahnya yang sudah memerah menahan kejengkelannya.


Lisna memukul pintu itu agar orang lain yang berada di dalam rumah itu menyadari jika dirinya terjebak dalam kamar seorang diri.


"Tolong!!!!!! Tolong!!!" Jerit Lisna.


Lisna berteriak meminta tolong yang berharap ada orang yang mendengar teriakannya. Bagaimana caranya ada orang lain yang mengajarnya sedangkan hanya dia yang tersisa seorang diri di dalam kamarnya.


"Jangan-jangan ada yang sengaja melakukan hal ini padaku? Tapi, kalau ada siapa orangnya sedangkan yang tersisa adalah aku, Mama Elma dan Papa Abi," pikirnya Lisna.


Dia mencoba menghubungkan berbagai alasan dan kemungkinan yang bisa terjadi, dan mampu membuat Lisna memutar otaknya untuk memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.


"Tapi yang tersisa di rumah ini sisa mereka berdua yang patut aku curigai, apa mereka sudah mengetahui tentang perihal pernikahanku dengan putranya?" Cerca Lisna, dia kembali terdiam mengingat beberapa hal kemungkinan besar yang bisa terjadi.


Sudah berulang kali Lisnia mencoba untuk meminta tolong kepada siapa pun yang berada di sekitar kamarnya Endra. Hingga suaranya sudah serak dan sulit untuk berteriak kencang seperti sebelumnya.


"Apa aku telpon Rian saja yah, kalau seperti ini terus bisa-bisa tubuhku kotor dan bau setelah mereka kembali dan mereka akan menjadikan aku bahan tertawa untuk mereka," sarkasnya Lisna yang menyadari bahwa penampilannya sudah berantakan.


Lisna merangkak ke arah atas ranjangnya, dan meraih hpnya untuk menelpon kekasih gelapnya itu. Ia berencana untuk segera menelpon Rian agar segera datang ke rumahnya untuk menyelesaikan permasalahannya tersebut.

__ADS_1


"Semoga Rian secepatnya mengangkat telponku," Lisna membasuhnya sedikit air ke dalam matanya tapi sedikit pun tidak mendapatkan air.


Dia mencoba meraba-raba tapi tetap hasilnya kering kerontang.


"Ahhh!!!! Perih!!" Pekik Lisna.


Dia berusaha meraih kain baju kimono mandinya untuk melap perlahan ujung matanya yang perih itu.


"Aku akan balas semua ini kepada orang yang telah melakukan padaku!!" Murkanya Lisna.


Setelah merasa baikan Lisna kemudian mengambil hpnya untuk segera menelpon Rian. Tetapi nomor hp yang dia tuju belum diangkat sama sekali oleh sang pemilik nomor telepon. Lisna kemudian duduk di tepi ranjangnya dan kembali mencoba untuk menghubungi nomor hp Rian kekasihnya tersebut.


Sedangkan di tempat lain, seseorang yang awalnya berusaha untuk menahan godaan yang muncul dari dalam dirinya ternyata runtuh dan goyah juga. Syailendra berdiri dari ranjang dan hanya melilitkan bedcover kedalam pinggangnya. Dia segera berjalan ke arah istrinya yang sedang memperbaiki riasan di wajahnya.


Syailendra berdiri di belakang tubuhnya Vanesa lalu berbisik di telinganya, " Aku menginginkan dirimu saat ini sayang."


Vanesa yang diperlakukan seperti itu sedikit geli dan merinding saat nafas suaminya mengenai tengkuk lehernya. Vanesa hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari suaminya tercinta. Endra mencebikkan seringai liciknya.


Dengan perlahan tapi pasti mereka akhirnya melakukan untuk yang kedua kalinya, tetapi dalam keadaan suka sama suka. endra yang sudah berkabut gairah sedangkan Vanesa yang ingin menjalankan ibadah sebagai bentuk kepatuhannya memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Mencintai diam-diam, berjuang sendirian dan menyakitkan.


...----------------...


 


Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:

__ADS_1



Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kau Hanya Milikku


Kekuatan Cinta



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Hikayat Cinta Syailendra dengan caranya:


Like Setiap babnya


Rate bintang lima


Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi


Bagi gift poin atau koinnya.

__ADS_1


Makasih banyak all readers…


I love you all..


__ADS_2