
Mereka silih berganti menaburkan berbagai macam jenis bunga ke atas gundukan tanah dengan sesekali disirami air. Pak Rusdianto jongkok di hadapan pusara itu lalu menyentuh batu nisan itu sambil membaca do'a untuk kebaikan dan keselamatan Sakti dengan deraian air matanya. Beliau sudah menganggap Ariel sebagai putranya sendiri. Sehingga kehilangan itu sangat dia rasakan.
"Maafkan Paman yang tidak bisa menjagamu dengan baik dan terlambat mengatakan kejujuran dan kebenaran itu agar kamu selalu senantiasa untuk berjaga dan waspada dari kejahatannya, tapi apa Paman terlambat mengatakannya padamu," lirih Pak Rusdi yang menyeka air matanya yang sedari tadi menetes membasahi pipinya.
Bau obat masih menyeruak di sekitar lorong dan koridor rumah sakit. Hilir mudik pasien, perawat,serta dokter masih meramaikan suasana rumah sakit saat itu. Sedangkan suasana nampak masih seperti sebelumnya dan biasanya yang terjadi di dalam rumah sakit. Lalu lalang dokter, suster dan beberapa perawat membawa beberapa pasien yang membutuhkan bantuan penanganan dan proses tindakan pengobatan.
Aida dan Aimah betapa terkejutnya saat salah satu temannya mengabarkan bahwa jenazah Tuan Muda Ariel sudah dikebumikan di makam di tempat pemakaman umum tanpa menunggu dan meminta tanggapan dari Bu Audrey Vanessa.
"Ini tidak mungkin!! Apa yang terjadi sebenarnya kenapa mereka tidak ada yang menunggu Nyonya Muda sadar terlebih dahulu?" Tanyanya Aida yang sedikit shock sekaligus emosi dengan informasi yang baru didengarnya itu.
Aimah yang menjadi pendengar setia sedari tadi ikut esmosi mendengar hal tersebut. Kenyataan yang barusan terjadi membuat mereka tidak menyangka jika Nyonya Dwi Handayani tega berbuat seperti itu.
Mereka selama ini sudah memiliki bayangan karakter dan watak dari Bu Dwi Handayani tapi, mereka hanya menyimpan dalam hati tidak ada yang berani mengeluarkan pendapat, suaranya dan terlebih harus berkomentar.
"Apa kamu bilang! Jadi ada otak dalang dibalik semua tragedi kecelakaan maut yang menimpa Tuan Muda?" Tanyanya Aida yang sudah berdiri dan berjalan menjauh dari tempatnya Vaneesa tertidur pulas dalam pingsannya.
Aida kaget dan tidak menyangka jika ada seseorang yang sengaja melakukan semua ini. Setelah mendapatkan informasi yang sangat akurat dan bisa ia percaya.
"Oke makasih banyak informasinya," ucap Aida lalu segera mematikan telponnya itu.
__ADS_1
Aimah melihat perubahan dari raut wajahnya Aida. Dan ikut penasaran dengan hal tersebut," apa yang terjadi Mbak Aida? Wajahmu seperti seseorang yang sedang menahan amarahnya yang sudah mulai bergemuruh dalam kepala Mbak," gerutu Aimah.
"Hasan menelponku dan mengatakan padaku jika ternyata ada orang yang sengaja mensabutase kecelakaan maut yang dialami oleh Tuan Muda Ariel dan kecelakaan ini murni disengaja dan sudah terencana dan terorganisir dengan baik," ungkap Aida yang raut wajahnya berubah benci.
"Jadi mulai detik ini kita harus berhati-hati dengan banyak kemungkinan besar yang mungkin akan terjadi kedepannya," terangnya Aida setelah mematikan sambungan teleponnya.
"Apa kamu tahu siapa pelaku kejahatan ini yang tidak punya hati nurani sama sekali?" tanyanya Aimah yang penasaran dengan percakapan Aida lewat telpon yang sudah tidak sabar menunggu Aida selesai menelpon.
"Kecilkan suaramu jangan sampai ada yang mendengar perkataan kita dan dampaknya akan berbahaya tentunya untuk kita juga," ketusnya Aida lalu celingak-celinguk melihat ke sekelilingnya.
"Betul sekali apa yang kamu katakan tembok saja punya telinga, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya Nyonya Muda setelah kematian Tuan Aril?" Tanyanya Aimah.
Perkataan yang barusan meluncur dari mulutnya Aimah yang tanpa sengaja di dengar langsung oleh pendengarannya Vanesaa membuat Vanesaa kembali berteriak histeris, "Itu tidak mungkin!!! Pasti kalian telah keliru dan salah dengar!!" Teriak histeris Vaneesa.
Aida dan Aimah segera berjalan tergesa-gesa ke arah Nafeesa untuk mencoba menenangkan Nafeesa.
"Nyonya kami mohon sabarlah, ini semua sudah takdir dari Tuhan Yang Maha Pencipta, aku yakin ini yang terbaik untuk Tuan Muda Ariel," bujuk Aida yang berusaha menenangkan Vanesaa dengan bujukannya air matanya menetes membasahi pipinya.
Aida sesekali menyeka air matanya, "Iya Nyonya,kami mohon jangan seperti ini kami sangat sedih dan juga terpukul atas musibah yang merenggut nyawa Tuan Muda Ariel," sahut Aida yang memegang tangannya Vanesa yang ingin melukai dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aida kamu pergi panggil dokter kalau seperti ini terus kasihan dengan Nyonya Muda," ucap Aimah yang meminta tolong kepada Aida untuk memanggil perawat agar segera memeriksa kondisi kesehatan jiwa dan psikisnya Vanesaa yang terguncang.
Masih di sekitar area tempat pemakaman umum, Angkasa dan Samudera histeris meraung-raung menangisi kepergian Papinya itu. Mereka anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang ambisi seseorang perempuan yang harus menjadi korban dari kejamnya keegoisan seseorang.
"Papi jangan tinggalin aku, siapa lagi yang akan membacakan buku cerita untukku sebelum tidur?" Ucapannya Angkasa yang memelas dengan lelehan air matanya yang mengalir deras.
"Papi! Samudra juga tidak punya teman main PS lagi, kenapa Papi tega sekali meninggalkanku tanpa pamit, apa papi tidak sayang kami lagi," rengeknya Samudera yang menciumi nisan Papinya dengan air matanya yang tidak pernah berhenti sedikit pun untuk menetes membasahi pipinya.
Pak Rusdianto semakin terenyuh hatinya dan tersentuh melihat kondisi kedua anak sambungnya Sakti.
"Angkasa!! Samudra kalian harus sabar dan banyak berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan Papi Sakti di alam kubur, jangan menangis seperti ini nak kasihan Papi kalau kalian terus menerus meratapi kepergian papi kalian," terang Pak Rusdi yang berusaha memberikan nasehat kepada dua bocah itu.
Nyonya Dwi yang jadi saksi dan melihat langsung apa yang terjadi di Pemakamanhal itu segera bertindak. Dia tidak menyukai saat Samudera memaksa mereka untuk ikut serta ke tempat pemakaman.
Bu Dwi Handayani menyeret tangan kecilnya Samudera, "Ayo kita pulang kamu tidak boleh terus-menerus berada di sini, kamu seharusnya berada di rumahku," sarkas Nyonya Dwi lalu menarik tangan kecilnya Samudera dengan paksa.
Angkasa yang melihat hal tersebut segera menarik tangan adiknya, "Nenek!! Lepaskan tangannya adikku kalau seperti ini Nenek sama saja menyakiti adikku," geramnya Angkasa kecil.
Nyonya Dwi menatap jengah ke arah Angkasa," kamu masih kecil kamu tidak tahu apa-apa dan diamlah karena kamu tidak ada hubungan apapun lagi dengan Samudera dan kami, karena kamu bukanlah cucuku, karena hanya Samudera seorang cucuku di dunia ini" hardik Nyonya Dwi dengan tega berkata seperti itu.
__ADS_1
Beberapa orang yang masih kebetulan ada di sana terkejut setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Nyonya Dwi. Mereka saling berbisik dan bertatapan dengan keheranan. Tanpa ada niat untuk menimpali perkataannya Bu Dwi mereka terlalu takut untuk bertindak.
terdorong kebelakang mendengar penjelasan dan amarahnya Bu Dwi wanita yang sudah sejak dulu ia sayangi dan cintai karena baginya Bu Dwi adalah neneknya sendiri yang mendengar perkataan dari Nyonya Dwi langsung terdiam dan semakin mengeraskan suara tangisannya.