
"Aku mungkin tidak apa-apa jika bertanya masalah ini, karena entah kenapa aku merasakan ada keanehan yang terjadi di dalam hatiku saat membaca identitasnya Ara, apa benar Ara anaknya Mas Syailendra dengan Lidya?" Vanesa membatin.
"Mama! Ara sangat ingin memelukmu dan memanggilmu dengan sebutan mama dan mengatakan jika aku juga anakmu adik kembarnya Abang Angkasa, tapi demi rencananya papa untuk kembali bersatu seperti dulu lagi, Ara harus lebih tenang data sabar menunggu waktu itu, gumamnya Ara.
Starla Kejora Aysila Syailendra ingin mengutarakan semua yang ia rasakan dan ketahui, tapi janjinya pada Papa dan kedua kakek neneknya untuk menyembunyikan fakta jika Audrey Vanessa adalah mama kandungnya.
Ara memeluk erat tubuhnya Vanesaa tanpa aba-aba, "Mama! Aku ingin seperti ini terus dalam dekapan hangatmu hingga aku terlelap tidur bersama Mama dalam satu ranjang," batinnya Ara.
Vanesaa membalas memeluk tubuhnya Ara dengan penuh kasih sayang," ya Allah… perasaan apa ini yang tiba-tiba muncul dalam lubuk hatiku, perasaan ini seperti yang aku rasakan bersama dengan Angkasa maupun Samudra," Vanesaa membatin tanpa ia sadari air matanya menetes membasahi pipinya teringat dengan anak keduanya itu.
"Aunty Vanesa harus datang nanti sore yah diacara syukuran ultahnya Ara,kan Aunty sudah dapat undangannya jadi harus datang tidak boleh pakai banyak alasan! Tegasnya Ara yang tidak ingin terbantahkan.
Vanees nyengir lebar melihat tingkahnya Ara yang hampir mirip dengan sikapnya Samudra jika ia menginginkan sesuatu hal yang tidak boleh menolak keinginannya.
Vanessa tersenyum ramah," insya Allah… Aunty akan datang karena kebetulan hari ini juga ultahnya putraku Angkasa sayang, jadi pasti Aunty pasti akan datang," ujarnya Vanesaa sambil menangkupkan kedua tangannya di pipinya Ara.
Kedua bola matanya Ara sudah berkaca-kaca saat mendengar perkataan dari mulutnya Vaneesa barusan membuat mengatakan Angkasa adalah putranya.
__ADS_1
"Mama Vanesa, aku adalah anakmu juga, aku putri cantikmu mama," Ara membatin.
Vanessa yang melihat matanya Ara sudah berkaca-kaca, ia segera menarik tubuhnya Ara dengan lembut.
"Insya Allah… Aunty akan datang meramaikan acara ulang tahunnya Ara dan berjanji akan pulang dari tempat acara setelah acaranya selesai hingga Ara memotong kuenya, gimana apa kamu sudah bahagia Princesnya, Aunty?" Ujarnya Vaneesa sambil mengecup sekilas keningnya Ara.
Apa yang dilakukan oleh Vaneesa semakin membuat Ara jadi menangis saking bahagianya diperlakukan seperti itu untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupannya.
"Ya Allah… syukur Alhamdulillah aku sangat bahagia ya Allah dipeluk dan dicium oleh Mamaku sendiri, kapan aku merasakan setiap hari dan setiap saat perlakuan seperti ini?" Lirihnya Ara.
"Sepertinya aku mengurungkan niatku saja untuk berbicara empat mata dengan Vanesa, Ara cukup pintar untuk mengambil perhatian dan kasih sayang mamanya, apa yang kami rencanakan untuk menyembunyikan kebenaran yang kami ketahui adalah langkah dan jalan yang benar dan terbaik," cicitnya Bu Helma yang menatap intens ke arah ke-dua anak dan mama itu.
Syailendra sudah sampai di tempat tujuan. Ia segera mengerahkan seluruh tenaga dan anak buahnya untuk menemukan Bu Dwi Handayani yang selama ini sangat sulit untuk dia temui.
Endra berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam markas besar mereka, beberapa anak buahnya yang menyadari dan melihat kedatangannya segera menghampiri Endra Rayanza Aiden Abimanyu.
Salah satu anak buahnya segera berjalan menghampirinya," Bos ini beberapa bukti yang Bos minta dan semua jawaban yang bos inginkan akan terjawab setelah Bos membuka dan membacanya," pintanya Danu Cahyono.
__ADS_1
Endra menatap ke arah Danu, ia lalu mengambil map itu tanpa sepatah katapun. Matanya membulat sempurna melihat apa yang tertulis jelas di dalam berkas itu.
"Ini tidak mungkin!! Pantesan Bu Dwi Handayani mengatur semua perceraian kami dan segera merencanakan untuk menikahkan Ariel dengan Vanesaa istriku, aku bercerai dengan Vanesaa ternyata Nyonya Dwi bekerja sama dengan wanita jadi-jadian itu! Lidya aku akan membalas semua ini karena kamulah aku tidak mengetahui jika aku memiliki anak kembar dan menceraikan istriku bukan keinginanku," geramnya Syailendra seraya mencengkeram kuat berkas tersebut.
Beberapa anak buahnya yang kebetulan berada di dalam ruangan tersebut bergidik ngeri karena untuk pertama kalinya mereka melihat amarahnya Endra yang membuncah dan menggebu-gebu hingga membuat wajahnya memerah menahan kebencian terhadap Lidya dengan Bu Dwi.
"Danu! Persiapkan anak buah terbaikmu kita akan segera bertamu di rumahnya Bu Dwi Handayani!" Kesalnya Endra lalu segera menelpon nomor papanya pak Abi.
Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.
Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.
Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zhalim.
Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji
Syailendra berharap dan tak hentinya berdoa kepada Allah SWT agar mereka bisa berkumpul seperti layaknya keluarga bahagia lainnya.
__ADS_1