
"Mas Endra!! Aku mohon dengan sangat pergilah dari sini, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, hubungan kita sedari dulu sudah berakhir!" Tegasnya Vanesa yang kemudian berhasil menutup rapat jendelanya kemudian menguncinya.
"Vanesa, aku mohon dengan sangat buka aku hanya ingin bertanya satu pertanyaan saja, aku mohon dengarkan penjelasan aku dulu, aku tidak akan memaksamu untuk hal lain," ratapnya Endra yang sedari tadi mengetuk jendela itu.
Syailendra tidak menyerah sedikitpun, ia terus menggedor pintu jendela kamarnya Vaneesa.
"Vanesaa! Aku mohon buka pintunya, satu menit saja Vanesa, Mas ingin bicara denganmu," bujuknya Syailendra.
"Waalaikum salam Pak, maaf mau tanya, pemilik rumah ini Dokter Frans kan?" Tanyanya yang melihat kedalam rumah bak istana itu.
"Maaf anda siapa dan kenapa mencari Tuan Besar?" Tanyanya yang bertanya balik ke hadapan Pak Abimanyu.
Pak Abi tersenyum ramah, "Saya teman kuliahnya dulu di Inggris dan kebetulan saya sangat butuh bantuannya Tuan Besar sekarang juga kalau beliau ada di dalam," jelas Pak Abi.
"Maaf Pak! Tuan besar sudah lama tinggal di Berlin, Jerman sekitar dua tahun yang lalu dan beliau belum pernah kembali lagi ke Jakarta beberapa bulan terakhir ini," tutur Pak Security.
"Istriku ada di mana kok dia tidak ada yang yah?" Tanyanya yang mulai kebingungan juga takut jika Vanesaa kenapa-kenapa.
"Sayang!!! Kamu ada di mana?" Teriaknya yang belum menemukan Vanesaa.
Dia pun berjalan ke arah kamar mandi dan memegang handle pintu, tapi betapa terkejutnya saat melihat Vanesa yang terbaring di dalam bathtub nya. Ia dalam keadaan tanpa pakaian sehelai benangpun yang menutupi seluruh tubuhnya.
Vanessa mengunci rapat jendelanya, tubuhnya luruh di balik jendela itu. Ia menangis tersedu-sedu sambil menutup mulutnya karena ia tidak ingin membuat semua orang mendengar sisi lemahnya.
__ADS_1
"Ya Allah… kenapa aku sampai detik ini belum bisa melupakan Mas Endra dari dalam hatiku, kenapa ya Allah… aku tidak ingin kembali terluka dan mengingat saat-saat aku diusir dan dihina oleh Mas Endra tapi, hati ini sangat bahagia melihat wajahnya Mas Endra," batinnya Vanesaa.
Angkasa yang terbangun dari tidurnya, awalnya ia keluar dari kamarnya karena ingin membuat membuang air kecil,tapi telinganya menangkap suara ketukan pintu yang sama sekali tidak berhenti dan juga suara tangisan seseorang.
"Siapa yah menangis tersedu-sedu, terus yang menggedor jendela itu siapa, apa maling yang mau masuk ke dalam kamarnya Mama karena sepertinya suara itu berasal dari kamarnya Mama," ujarnya Angkasa yang terus melangkahkan kakinya menuju kamar mamanya.
Angkasa memutar handle pintu kamar mamanya, untungnya pintunya saat itu tidak terkunci sehingga memudahkannya untuk masuk ke dalam. Angkasa melihat mamanya yang terduduk berselonjor kakinya di atas lantai. Ia tidak ingin langsung mendekati mamanya,ia cukup dibuat penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi dengan terpaksa ia bersembunyi dan menguping apa yang mereka bicarakan.
"Vanesaa, aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar saja, please Vanesaa… aku hanya ingin bertanya padamu apa benar Angkasa adalah anakku darah dagingku, hanya itu yang aku ingin dengar dari mulutmu langsung bukan dari mulut orang lain," tuturnya Endra yang sedikit berteriak dibalik jendela.
Angkasa dibuat tersentak kaget mendengar penuturan dari Endra, ia tidak menyangka jika pria yang berada di luar yang membuat keributan mengatakan bahwa ia adalah ayah kandungnya Angkasa.
"Apa benar yang dikatakan oleh pria yang ada di luar sana jika ia adalah papaku, jadi papa Ariel bukanlah papaku?" Batinnya Angkasa
"Sebaiknya aku diam-diam keluar menemui pria itu, karena aku bertanya kepada Mama akan sia-sia saja dan aku yakin mama akan diam seribu bahasa," gumamnya Angkasa lalu diam-diam berjalan ke arah luar tanpa sepengetahuan dari Vaneesa.
Angkasa berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar sambil celingak-celinguk melihat dan memperhatikan sekelilingnya. Apa yang dilakukan oleh Angkasa dilihat langsung oleh neneknya Bu Laila Sari tapi, beliau sama sekali tidak ingin menggangu apa yang dilakukan oleh cucunya.
"Nenek, hanya berharap kalian bisa bahagia karena sudah cukup kalian menderita selama ini, ya Allah… berikanlah kebahagiaan kepada anak dan cucuku," cicitnya Bu Laila.
Pak Abimanyu menatap intens ke arah istrinya berada, "Kalau bukan Nafeesa terus siapa Bu, apa ini perbuatan dari Lisna yah?" Tanyanya yang menduga jika semua hal itu Lisna lah yang bertanggung jawab dan merencanakan semua ini dengan matang.
Pak Abi kembali merogoh sakunya untuk mengambil hpnya. Dia berniat untuk menghubungi nomor hp mantan menantu sirinya itu. Karena Pak Abi ingin meminta penjelasan dari Lisna langsung. Tapi, langkahnya segera dihentikan oleh Bu Helma.
__ADS_1
"Mas, stop tidak usah menelponnya lagi, Ibu tidak ingin berhubungan dengannya lagi sampai kapan pun dan apa pun yang terjadi, kalau perlu blokir nomor hpnya Lisna dari hpnya Mas dan Endra, tidak ada gunanya berhubungan lagi dengan wanita iblis itu," geramnya Ibu Helma.
"Betul yang kamu katakan, semua kemalangan, kesedihan dan kehancuran hidupnya Endra dan pernikahannya dengan Audry Vanesa semuanya gara-gara Lisna si ular betina itu," timpal Pak Abi yang memaki dan menghujat Lisna.
Angkasa terus berjalan ke arah samping kamar mamanya dan sudut ekor matanya melihat seseorng orang pria dewasa berlutut di atas lantai dengan kepalanya menunduk, air matanya menetes membasahi pipinya itu.
Angkasa terus berjalan ke arahnya Endra, tapi Angkasa sama sekali belum mengetahui dan mengenali siapa pria itu yang rela berlutut hanya untuk diberikan kesempatan berbicara dengan mamanya.
"Papa!" Sapanya Angkasa.
Seruan Angkasa membuat Sysilendra menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Ia tersenyum bahagia melihat seorang anak kecil yang memakai piyama tidur dengan motif Naruto itu.
Endra segera berjalan tergesa-gesa menuju putra sulungnya itu lalu tanpa banyak pikir ia memeluk tubuh kecil itu yang tingginya hampir mencapai dadanya Endra.
"Putranya Papa, maafkanlah Papa yang sudah tidak mengetahui jika kamu lahir ke dunia ini, maafkan Papa yang terlambat menyadari semua ini," Lirihnya Endra yang semakin mengeraskan suaranya dalam dekapan salah satu anak kembarnya.
Angkasa pun terkejut melihat siapa pria yang mengaku jika ia adalah papa biologisnya.
"Uncle Syailendra!" cicit Angkasa yang baru menyadari jika pria itu adalah Papanya Starla Kejora Aysila Syailendra sahabat baiknya.
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
"Ya Allah... kenapa aku harus bertemu kembali dengan Mas Endra, hati ini masih sangat sedih dan kecewa," Batinnya Audrey Vanessa Hudgens Permainan Perkasa.
__ADS_1