Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 88


__ADS_3

Vanessa yang awalnya ingin melihat suaminya yang belum masuk ke dalam kamarnya berjalan ke arah ruangan kerja suaminya dan mendapati dua orang disayanginya tanpa sengaja mendengar perkataan terakhirnya Suami dan putranya itu.


Vanesa sangat bangga pada putranya yang sangat simpatik dan baik kepada siapapun sedangkan Samudera dia lebih bersifat cuek dan pendiam di mana pun berada dan teringat dengan karakter mantan suaminya sekaligus ayah biologisnya di kembar Syailendra Aryasatya Naim Abimanyu.


Tapi sifatnya Samudera menurutnya lebih dewasa, tegas dan tetap perhatian pada keluarga intinya. Sifat anak keduanya sering kali mengingatkannya pada Endra mantan suaminya yang sangat mirip karakter mereka berdua.


Penyesalan itu datangnya selalu di akhir agar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar. Adanya penyesalan adalah untuk menyadarkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat diulang. Ketakutan itu sementara, penyesalan itu hanya selamanya.


"Vanesa!! Istriku!!" Pekiknya yang langsung berlari menuju arah Vanesa.


Ibu Helma yakin jika surat cerai itu bukanlah keinginannya semata dari Vanesa, dia yakin dan sangat tahu karakternya Vaneesa bagaimana yang sangat membenci yang namanya perceraian.


"Ibu yakin ada seseorang yang memanfaatkan keadaan ini, dan bodohnya putra kita tertipu dan terperdaya dengan keburukan dan kebusukan dari istri sirinya sehingga terlalu bego hingga masuk ke dalam perangkap orang itu," ungkap Bu Helma lagi.


Aril tersenyum bahagia melihat anaknya, "Hatinya Angkasa memang sangat baik, Papi bangga padamu Nak, makasih banyak kalian sudah hadir di dalam hidupnya Papi," ujarnya Aril Permana sembari menarik tubuh putra sulungnya itu kedalam pelukannya.


Audrey Vanesaa tanpa sengaja mendengar perkataan terakhirnya suami dan putranya. Dia bangga pada putranya Angkasa yang sangat simpatik dan baik kepada siapa pun sedangkan Samudera dia lebih bersifat cuek dan pendiam di mana pun berada.


Tapi sifatnya Samudera lebih dewasa, tegas dan tetap perhatian pada keluarga intinya. Sifat Samudera sering kali mengingatkannya pada Endra mantan suaminya yang sangat mirip karakter mereka berdua.


"Kenapa sampai sekarang aku belum bisa melupakan rasa sayang ini untuk Mas Syailendra, aku masih sangat mencintainya bahkan rasa sayangku kepada Mas Endra masih lebih besar dibandingkan untuk Mas Ariel," lirihnya lalu menutup rapat pintu ruangan pribadi suaminya itu.


Ariel menyentuh dadanya yang masih terasa nyeri, ngilu dan sakit itu, "Ya Allah… kenapa disaat aku merasakan kebahagiaan yang hakiki, penyakitku mulai kambuh lagi padahal aku baru ingin memberikan kebahagiaan untuk istri dan kedua anak kembar ku yang sudah semakin besar walupun dia bukan anak kandungku," Gumamnya Aril.


Ariel sudah merasa sedikit baikan setelah minum obat, berdiri lalu membungkukkan sedikit tubuhnya agar lebih leluasa berbicara dengan putra sulungnya, "Sayang putranya Papi, apa Papi boleh minta sesuatu gak?" Tanyanya dengan mengelus surau Angkasa.

__ADS_1


Raut wajahnya Angkasa kebingungan dan sekaligus keheranan dalam waktu yang bersamaan yang tidak tahu maksud dari perkataan sekaligus permintaan Papinya keheranan dengan matanya yang berbinar menandakan rasa ingin tahunya yang mencuak tiba-tiba.


Angkasa menatap intens ke arah papinya itu, "Papi mau minta sesuatu sama saya?" Tanyanya yang raut wajah yang kebingungannya seraya menunjuk ke arah tepat ke bagian dadanya.


"Iya Papi ingin meminta tolong kepada kamu Nak tapi, apa kau bisa mengabulkan permintaan dari papi?" Tanyanya lagi Aril yang menunggu respon dari anak pertamanya itu.


Sakti sangat berharap kepada anaknya untuk memenuhi permintaannya tersebut.


"Angkasa bisa kabulkan semua keinginan dan permintaannya papi tapi ada syaratnya papiku sayang," ujarnya dengan menangkup ke dua pipi Aril dengan tangan kecilnya.


"Syarat!" Ariel Permana membeo.


"Iya Papi ada syaratnya, dan itu sangat mudah saja kok dan sangat gampang," ucap Angkasa yang tersenyum penuh arti ke arah Papinya.


"Kalau gitu katakan pada Papi apa syartnya?" Tanyanya lagi yang bisa semakin dibuat penasaran oleh pria kecil yang berdiri tegak di depannya itu.


Aril tanpa pikir panjang langsung mengecup pipi tembem anaknya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Angkasa sangat bahagia karena dicium oleh Papinya.


Padahal setiap hari bahkan setiap mereka bertemu pasti, Aril selalu akan menyempatkan waktunya untuk mencium kening atau anggota tubuhnya yang lain yang ada di wajahnya itu.


"Bagaimana apa kamu sudah bisa memenuhi permintaan dari papi?" Tanyanya lagi yang mengulang pertanyaannya.


Angkasa hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan tersenyum sambil menunggu permintaan dari Papinya.


"Papi hanya minta sama kamu tolong jangan katakan kepada siapa pun, apa saja yang kamu dengar dan lihat tadi sewaktu masuk ke dalam ruangan kerjanya Papi, apa kamu bisa janji?"

__ADS_1


Tanyanya.


Dia mengarahkan jari kelingkingnya ke arah depan wajah papinya, Aril yang melihat hal tersebut segera menautkan jari kelingkingnya sebagai tanda mereka sudah sama-sama berjanji untuk saling menjaga rahasia besar tersebut.


"Janji dua pria, papi tidak perlu takut saya akan tutup mulut," tuturnya lalu mengarahkan jarinya ke depan mulutnya.


Ariel yang melihat tingkahnya putra sulungnya itu segera memeluk tubuh kecil Angkasa ke dalam pelukannya, "Papi sangat bahagia dan bersyukur bisa memiliki putra yang sangat baik hati dan pengertian," terangnya disertai dengan tetesan air matanya.


"Syukur Alhamdulillah makasih banyak ya Allah… atas segala nikmat dan karunia yang Engkau berikan pada kami selama ini," batinnya Aril Permana.


Keesokan harinya, mereka sudah bertolak ke Indonesia tepatnya ke Ibu Kota Jakarta. Duos kembar Samudera dan Angkasa sangat antusias dan senang karena selama ini mereka hanya mendengar kata Jakarta dan Indonesia dari mulut Maminya saja.


"Mami apa hari ini, kita akan ke Indonesia?" tanyanya Angkasa yang paling eksaitik untuk pulang ke Indonesia tanah air tercinta.


"Iya Mi, apa kita serius akan pulang?" Timpalnya Samudera yang ikut bergabung dalam percakapan mereka berdua.


"Iya sayang, mami serius kita akan balik ke Indonesia tepatnya di rumahnya Oma Dwi Handayani, apa kalian bahagia?" Tanyanya Audrey Vaneesa di depan kedua anak kembarnya itu.


"Hore kita akan pulang ke Indonesia, aku cinta Indonesia," ucapnya Angkasa yang sudah melompat-lompat kegirangan saking bahagianya karena akan menginjakkan kakinya ke tanah air negara kelahiran ke dua orang tuanya.


Begitu banyak kata andai untuk mengawali setiap penyesalan. Begitu kamu mulai menyesal itu sudah terlambat. Akan selalu ada penyesalan setelah kehilangan sesuatu, yang selama ini kamu sia-siakan.


Rezeki merupakan anugerah artinya segala sesuatu yang kita miliki baik itu rezeki sehat, rejeki harta, rezeki kebahagiaan, rejeki kecerdasan, itu semua merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita.


Sebagai umat yang taat kepada Tuhannya, kita harus pandai-pandai bersyukur terkait dengan semua rejeki yang kita dapat.

__ADS_1


 


__ADS_2