
Tingkat kesabaran setiap manusia itu berbeda-beda, tapi kesabaranlah yang tidak terbatas.
Saat kita menanam padi, akan selalu ada rumput yang ikut tumbuh apalagi jika yang kita tanam adalah rumput, tidak akan ada padi yang ikut tumbuh.
Begitulah hidup kebaikan yang kita tanam tak selalu tumbuh kebaikan pula, bagaimana jika yang kita tanam adalah keburukan, tak akan ada kebaikan yang tumbuh.
Tapi dunia ini di penuhi orang-orang baik, jika kita tak bisa menemukannya maka jadilah salah satunya.
Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan hanya sebagai pendamping hidup, melainkan kita harus belajar banyak hal darinya.
Setelah pertemuannya yang tanpa sengaja dengan mantan Papa mertuanya Pak Abimanyu. Audrey Vanessa memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia tidak sempat menjemput putra sulungnya dikarenakan Angkasa sudah pulang duluan ke rumah bersama dengan Starla Kejora Syailendra.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, Mami akan segera pulang, Mami minta maaf karena tidak datang menjemputmu karena tesnya cukup banyak," jelas Vanesaa yang belum juga memasang helmnya.
"Tidak apa-apa kok Mi, tidak usah terlalu cemas denganku, aku sudah besar loh Mi, bukan anak kecil lagi jadi Mami cukup konsentrasi dengan pekerjaan Mami saja," tuturnya Angkasa yang sudah seperti orang besar saja.
"Alhamdulillah Mami sangat senang mendengar penjelasanmu nak, kalau gitu Mami tutup dulu telponnya, Mami sudah bersiap untuk pulang kok Nak, Assalamualaikum," imbuhnya Vanesa lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Waalaikum salam," jawabnya Angkasa yang hanya tersenyum menanggapi sikap Maminya itu.
Vanesa segera menyalakan mesin motornya lalu menjalankan motornya untuk segera pulang ke rumahnya. Ia bersyukur karena diterima di perusahaan tempat dia melamar.
Vanesa menganggap bahwa keberadaan Pak Abi mantan mertuanya itu hanya kebetulan saja. Ia mengira jika Pak Abimanyu adalah rekan bisnisnya pemilik perusahaan itu dan sekedar menanamkan sahamnya saja.
"Cepat buntuti dan ikuti kemanapun perginya perempuan yang memakai motor matic merah dengan plat nomor xx itu dan apa yang dia lakukan segera laporkan padaku tanpa terkecuali," perintahnya Pak Abi kepada anak buahnya.
"Baik Tuan Besar, perintah Tuan segera kami laksanakan," jawab anak buah kepercayaannya.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain tepatnya di jalan raya, seorang perempuan mengendarai kendaraannya. Wajahnya sedari tadi mengisyaratkan bahwa ia sangat bahagia karena telah mendapatkan pekerjaan yang layak untuknya.
"Syukur Alhamdulillah.. makasih banyak ya Allah… aku bisa bekerja dan membiayai hidup aku dan anakku, aku tidak mungkin bergantung terus kepada Laila apa lagi ibu sudah memiliki dua panti asuhan yang beliau biayai," gumamnya.
Beberapa saat kemudian ia sudah sampai di depan rumahnya Bu Wahdah Laila Hasyim. Wajahnya sumringah melihat putranya yang tersenyum bahagia menunggu kepulangannya yang sedang berlari ke arahnya yang baru mematikan mesin mobilnya.
Orang yang mengikuti sedari tadi Vanesaa segera mengambil gambar saat Angkasa berlari ke arah Vanesaa, saat mereka juga berpelukan. Walaupun keadaan sudah masuk magrib tapi, kamera digital yang dipakai oleh orang tersebut cukup bagus kualitasnya.
Sehingga hasil jepretan gambar yang diambil dengan kualitas yang cukup bagus dan jelas. Pria itu tersenyum penuh arti.
"Aku yakin bos Rendra akan berikan aku bonus yang banyak jika dia lihat hasil yang aku dapatkan ini," lirihnya yang masih terus mengambil beberapa gambar lagi hingga rumah Bu Wardha pun tak luput dia ambil gambarnya.
Pria itu tersenyum bahagia karena telah berhasil mendapatkan informasi yang sangat akurat dan menjalankan tugasnya dengan baik dan hasilnya cukup memuaskan.
"Sebaiknya aku segera menghubungi nomor hpnya Bos Rendra agar dia dapat pujian dan pastinya akan naik jabatan dan gaji yang tinggi dari Tuan Besar Abimanyu," gumamnya lagi lalu meraih hpnya dan tidak menunggu waktu lama ia mengirimkan pesan chat ke nomor hpnya Nendra apa pun yang dia dapatkan di tempat itu.
Tring….
Dia menghentikan pekerjaannya beberapa saat untuk memeriksa siapa yang mengirim chat tersebut. Tapi,raut wajahnya langsung berubah menjadi kegirangan saking bahagianya melihat beberapa foto dan video yang dikirim oleh mata-matanya.
Orang yang ia diperintahkan olehnya, khusus untuk mengikuti Vanesaa hingga pulang ke rumahnya. Rendra segera melipat kembali berkas tersebut lalu segera bangkit dari duduknya.
Rendra membuka semua file bukti yang dikirimkan oleh Rasyid Amrullah ke hpnya," Ya Allah… kenapa wajahnya anak kecil ini mirip sekali dengan Tuan Muda Syailendra, apa jangan-jangan dia adalah anaknya yang sama sekali tidak diketahui oleh Tuan Endra yah?" Batinnya Rendra.
Rendra kemudian berjalan cepat ke arah ruangan pribadi Pak Abi. Dia ingin secepatnya memberitahukan kepada beliau informasi apa yang dia dapatkan baru saja.
"Pak Abimanyu harus tahu jika Vanesaa memiliki seorang putra dan dia sangat mirip dengan Tuan Muda Andra karena aku yakin kalau anak kecil itu adalah anaknya Vanesaa," lirihnya Rendra Kresna Hariadi.
__ADS_1
Dia sudah tidak menggubris sapaan dari beberapa bawahannya yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan yang dilaluinya. Rendra tersenyum lega saat melihat Pak Abimanyu yang berjalan ke arah luar ruangannya.
"Tuan Besar!" Teriaknya Rendra sambil berlari agar dia tidak ketinggalan dan terlambat memberitahukan hal yang sangat penting itu.
Pak Abimanyu yang mendengar namanya disebut oleh seseorang segera menoleh dan melihat Rendra yang berlarian ke arahnya. Dia segera menghentikan langkahnya. Tapi, senyumannya langsung pudar dari wajahnya seketika ketika melihat Rendra berada bersama dengan papanya.
"Tuan Besar, apa kita bisa bicara sebentar?" Tanyanya Rendra dengan nada dan volume suara yang dia rendahkan dan menatap penuh maksud tertentu ke arahnya Pak Abimanyu lalu melirik ke arah putranya yang kebutalan berada di samping kanannya Syailendra.
Pak Abimanyu mengerti maksud dari tatapannya Rendra lalu ia segera meminta kepada Syailendra untuk segera meninggalkan mereka berdua.
Pak Abi m melirik sekilas ke arah Syailendra, "Endra kamu jalan duluan Nak, ada yang harus aku bahas dengan Nendra dahulu sebelum pulang," pintanya yang berharap agar Endra tidak banyak bertanya lagi.
"Oke Papa, kalau gitu Papa ikut dengan Nendra biarkan dia yang antar Papa pulang ke rumah," tutur Endra tanpa banyak tanya dan protes sedikit pun itu apa lagi untuk curiga karena baginya itu hal yang biasa terjadi.
"Hati-hati dijalan,kalau Mama bertanya katakan saja kalau Papa masih ada urusan pekerjaan yang sangat penting," jelasnya Pak Abimanyu.
Endra berjalan meninggalkan mereka berdua, sedangkan Pak Abimanyu dan Rendra masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang terjadi Nendra? Sepertinya penting sekali?" Tanyanya Pak Abimanyu yang sudah duduk di kursi kebesarannya itu dengan menatap tajam ke arah Rendra yang menuntut jawaban dari maksud dia ingin bertemu dengannya.
Rendra segera membuka aplikasi galeri foto di hpnya. Dia lalu langsung mengarahkan ke hadapan Pak Abimanyu dengan jelas.
Pak Abimanyu menatap intens ke Rendra, "Apa ini?" Tanya Pak Abi penuh selidik yang tidak paham kenapa dia diberikan hp milik Rendra yang jelas-jelas anak buahnya.
Rendra tersenyum penuh maksud, "Bukalah Tuan! jawaban segala pertanyaan dari Tuan ada di dalam sana," terangnya Rendra.
Tanpa banyak tanya lagi Pak Abimanyu segera membuka galeri foto tersebut dan saking terkejutnya saat melihat siapa pemilik foto tersebut.
__ADS_1
Kedua bola matanya melotot saking tidak percayanya melihat foto yang lumaywn banyak di dalam hpnya Rendra," Ini tidak mungkin!!" Cicitnya Pak Abimanyu yang tanpa ia sadari air matanya menetes membasahi wajahnya.