
"Ya Allah… apa yang terjadi padaku kenapa perasaanku sangat tidak tenang, gelisah dan ada perasaan was-was, firasatku ini pertanda apa ya Allah... aku sangat takut," gumaman Vanesa yang mulai ada keanehan lagi yang dia rasakan.
Aida dan Maid lainnya sangat khawatir melihat Vanesa yang sudah seperti orang yang kerasukan dan kesurupan sesuatu.
"Ya Allah… apa yang terjadi dengan Nyonya, kenapa ia bersikap aneh seperti ini," gumamnya Aida.
Maaf novel ini alurnya maju mundur cantik.. sekarang masih berputar kisah sebelum Audrey Vanessa dan Syailendra berpisah atau cerai.
"Nyonya seharusnya memanggil kami saja, kenapa harus repot-repot mengambilnya," Pintanya Aida.
Aida yang melihat langsung kondisinya Vanesa terharu dan sangat kasihan melihat Audrey Vanesa yang tampak seperti orang linglung yang kebingungan terdiam saja tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya.
"Erna!! tolong bersihkan pecahan kaca ini hingga tidak tersisa aku akan membawa Nyonya ke dalam kamarnya," perintahnya Aida yang sedih melihat keadaan Nyonya Muda Vanesa.
"Ya Allah… apa yang terjadi padaku kenapa perasaanku sangat tidak tenang, gelisah dan ada perasaan was-was yang menyelimuti seluruh hati dan perasaanku saat ini," batinnya Vanesa yang mulai ada keanehan lagi yang dia rasakan.
__ADS_1
Perasaannya gelisah, tidak tenang berjalan dengan mata yang gamang dengan tatapan yang kosong. Dia berjalan lunglai ke dalam kamarnya.
"Kalau Nyonya perlu sesuatu seharusnya Nyonya panggil kami saja, kami selalu ada 24 jam untuk membantu dan melayani Nyonya," tuturnya Aida.
"Makasih banyak, Aida," ucapnya Vanesaa yang naik ke atas ranjangnya lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tatapan matanya yang menyiratkan kegundahan, ketakutan dan kecemasan yang berlebih.
Baru sepersekian detik saja Vanesaa mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar. Orang itu berlari cepat ke dalam kamarnya, tanpa permisi dan meminta ijin sedikit pun. Dari raut wajah orang itu sudah jelas jika ada yang sesuatu yang tidak beres telah terjadi.
Melati yang melihat rekan kerjanya itu segera menegurnya," Aimah!! Apa yang terjadi padamu? Kalau masuk kamar orang itu harus pakai ijin caranya ketuk pintu dulu gitu," sarkas Melati sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.
Aida segera berdiri dari duduknya di samping Nyonya Vanesa. Dia segera mengulurkan segelas air putih untuk diminum oleh Aimah. Tanpa banyak pikir dan bicara, Aimah langsung meraih gelas itu lalu meneguk air itu dengan tergesa-gesa.
Aimah menatap sendu ke arahnya Vanesaa peluh keringat bercucuran membasahi pipinya, "Nyo-nya Au-drey Va-ne-sa!" ucapnya yang masih kesulitan untuk berbicara hingga tergagap.
Vanessa menolehkan wajahnya ke arah Ibu mertuanya, "Mas Ariel sepertinya ada di depan Nek, kalau tidak salah dengar katanya sih sudah banyak tamu yang datang relasi bisnisnya yang ada di Amerika Serikat," terang Vanesa yang menyusui putra pertamanya.
__ADS_1
"Ingat jaga baik-baik mereka berdua, Mama tidak ingin dengar dan tahu jika cucuku kekurangan apa pun atau ada yang terjadi padanya," tutur Bu Dwi yang bernada ancaman di hadapan Vanesa.
Vanesa hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Mama mertuanya. Ia sering khawatir sendiri dan ketakutan jika mengingat kembali perkataan Nyonya Dwi saat ia hamil lima bulan.
"Aimah! Tolong bicara yang jujur dan jelas jangan seperti ini," gerutu Aida.
Sedang Vanesaa sudah merasakan hal aneh disaat kedatangannya hanya menjadi pendengar setianya saja tanpa ada niatan untuk ikut menimpali pembicaraan mereka.
"Ya Allah… bagaimana caraku menyampaikan berita duka ini di depan Nyonya Vanesa, pasti ia akan sangat sedih mendengar informasi jika suaminya mengalami kecelakaan," batinnya Aimah yang melihat ke arah Vanesaa yang bimbang harus berbicara atau tidak.
Pikirannya masih tertuju pada sosok suaminya seorang hanya Ariel Permana yang menjadi topik dalam pikirannya saat itu juga bukan yang lain.
"Tuan Muda Ariel kecelakaan!!" Ujarnya Aimah dengan suara yang lantang.
Bagaikan petir di siang bolong, Vanesa tersentak kaget dan shock seketika itu juga. Tanpa pikir panjang ia langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Aimah. Mimik wajahnya Vanesa tak bisa digambarkan dengan kata-kata dan semua yang ada di dalam ruangan kamar pribadinya Vanesaa ikut turut terkejut dengan ucapannya Aimah.
__ADS_1