
"Kenapa hatiku tiba-tiba gelisah dan seolah-olah ada hal besar yang akan terjadi," batin Endra lalu memutar stok kontak mobilnya.
Tiga bulan lebih di rawat dan diterapi di salah satu Rumah Sakit Swasta termahal yang ada di Kota Berlin Jerman.
"Aku yakin dengan sangat, kalau istriku Vanesaa ada di Jerman, aku akan mencarinya hingga ketemu," cicitnya Endra.
"Ya Allah… berilah aku kesempatan untuk bertemu dengan istriku karena aku ingin meminta maaf," Gumamnya Syailendra.
Endra segera kemudian menyalakan mesin mobilnya tanpa membawa dompet dan hpnya bersamanya karena ia keluar tadi terburu-buru sehingga hanya mengambil kunci saja terkecuali dompet dan hp.
Syailendra mengemudikan mobilnya tak tentu arah hanya membawa mobilnya dengan arah yang sesuai feelingnya saja sehingga seolah hanya mengikuti jalur jalan raya saja.
Tatapan matanya tajam dan sesekali menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat keadaan jalan raya yang menurutnya kemungkinannya Audrey Vanessa berada di jalan tersebut.
Sedangkan masih di dalam area negara yang sama, tepatnya di dalam ruangan operasi, Vanesa sedang berjuang melahirkan anak kembarnya. Priska tanpa disadari oleh Ariel maupun yang lainnya sudah berada di dalam ruangan operasi tersebut sesuai perintah yang diberikan oleh Nyonya Dwi Handayani kepadanya.
Prita hanya menaikkan jempolnya diam-diam ke hadapannya Bu Dwi tanpa sepengetahuan dari orang lain, ia lalu segera masuk ke dalam ruangan operasi dengan celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya.
"Maafkan aku terpaksa melakukan hal ini, tapi aku jamin salah satunya bayimu akan tetap selamat walaupun Nyonya Dwi menginginkan anak kalian mati, tapi hatiku tidak mungkin Setega itu membunuh bayi yang tidak mempunyai dosa sedikit pun walaupun aku bukan orang suci, bukanlah orang yang baik tapi aku manusia yang punya banyak kesalahan dan khilaf," Priska membatin.
Aril sesekali mengusap wajahnya dengan gusar, "Ya Allah…. selamatkanlah anak-anakku, aku sadari aku bukanlah Ayah biologi mereka tapi, aku sangat menyayanginya dan menunggu kelahirannya mereka," lirih Ariel yang duduk di samping Mama sambungnya Bu Dwi.
Sedangkan Ibu Dwi, hanya duduk manis dan menunggu hasil sesuai yang dia inginkan selama ini. Dari raut wajahnya yang menyiratkan akan ada kejadian besar yang telah disusun dan direncanakannya dengan sangat baik, terorganisir,terencana dengan sangat baik.
"Priska tidak boleh gagal, dia harus bisa menjalankan tugas yang aku berikan padanya dengan sebaik-baiknya, aku ingin melihat kehancuran mereka sedari dulu dan semoga hal itu segera terealisasi," batin Nyonya Dwi Handayani.
Ariel mondar-mandir di hadapan maid, pengawal body guard serta mamanya. Hingga mereka dibuat jengah dan sedikit jengkel karena Aril tidak bisa diam di tempatnya.
"Ya Allah… kenapa operasinya cukup lama begini, apa sih yang dikerjakan oleh dokter?" Umpat Aril yang gelisah sedari tadi sekaligus takut dan cemas juga.
Beberapa jam kemudian, tangis seorang bayi laki-laki terdengar dengan nyaring dan melengking dipagi hari itu. Aril segera berjalan ke arah pintu setelah mendengar suara tangisan tersebut. Aril berjalan masuk ketika suster sudah mengijinkan dia masuk melihat kondisi istri dan kedua anaknya yang baru saja lahir ke dunia ini.
"Syukur alhamdulillah, anak-anakku sudah lahir dengan selamat, semoga keadaannya istriku juga selamat dan sehat," tuturnya Aril dengan wajahnya yang sumringah dan tersenyum penuh bahagia.
__ADS_1
Bu Dwi berdiri dan berjalan ke arah Aril dengan menepuk pundaknya anaknya dengan pelan, "Secepatnya kamu masuk adzani putramu jangan menunda-nundanya lagi," tutur mamanya Bu Dwi Handayani.
Aril gerakannya terhenti sesaat lalu menatap bingung ke arah Mamanya,"kenapa nenek bisa mengetahui kalau anakku adalah laki-laki, apa yang terjadi sebenarnya di sini sedangkan aku saja tidak mengetahui jenis kelamin mereka karena jika diusg dokter Brenetta selalu mengatakan jenis kelaminnya tersembunyi, " batinnya Aril yang menatap penuh keheranan ke arah Nyonya Besar Dwi Handayani.
Kamu mau sembunyi dimana
Aku bisa mengendus baumu
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Biar matahari bohong pada siang
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Untuk mengungkap aku cinta kamu
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise
Seribu wajah menggoda aku
Yang ku ingat hanya wajah kamu
janjiku tak pernah main-main
Sekali kamu tetap kamu
__ADS_1
Where do you want to hide?
I can smell your smell
Never run from me
Because we promised
Let the sun lie at noon
Pretending not to be hot
No need to torture yourself
Hide existing love
I don't need any language
To reveal I love you
I never rest
To love you according to my promise, promise
A thousand faces tease me
All I remember is your face
I promise never play
Once you're still you
Bu Dwi menatap jengah ke arah Aril yang tiba-tiba langkahnya terhenti lalu berdiri mematung dan tak bergeming ditempatnya.
__ADS_1
"Aril!! apa lagi yang kamu tunggu dan pikirkan, apa kamu ingin mendengar anak-anakmu terus-menerus menangis!" ketusnya Bu Dwi.
Aril segera mengakhiri lamunannya tanpa pikir panjang ia sedikit berlari ke arah dalam kamar ruang operasi.