
"Ya Allah… aku tidak boleh terus larut dalam kesedihan, pasti Mas Aril juga akan sedih melihatku seperti ini, aku harus kuat dan sabar menghadapi semua ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku," gumam Vanesa sembari menyeka air matanya yang mewakili perasaannya saat itu.
Audrey Vanessa sudah bertekad untuk lebih kuat, strong dan ikhlas menjalani kehidupan dan takdirnya. Waktu terus berlalu dan waktu tidak akan menunggu kita sampai berubah.
Keesokan paginya.. Pak Rusdianto Hendri Ruslan kembali ke rumah sakit karena kemarin hanya datang untuk mengantar Angkasa. Pak Ruslan tidak lupa membawa beberapa makanan dan cemilan untuk mereka berempat.
Tetapi, tadi pagi sebelum kedatangannya di rumah sakit beliau menyempatkan dirinya untuk singgah ke rumahnya Vanessa Tapi, apa yang terjadi di sana matanya melihat terpasang sebuah segel yang bertuliskan rumah itu dijual.
Betapa terkejutnya Pak Ruslan setalah melihat dan mengetahui hal tersebut. Dia tidak menyangka jika, rumah pribadi yang dibeli oleh Ariel Permana Pradipto menggunakan gajinya sendiri pun diakuisisi oleh Nyonya Dwi Handayani.
"Ya Allah.. apa yang harus aku katakan pada Nafeesa dan anak-anaknya, walaupun aku menuntut dan membawa ke jalur hukum pasti kami tetap akan kalah tapi aku harus bertanya pada Nafeesa mungkin saja dia yang sudah pegang sertifikat dari rumah mereka," cicitnya Pak Rusdianto.
Dia segera masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena tidak sabar ingin bertemu dengan Vanesaa kemudian membicarakan hal itu.
"Ya Allah… bukakanlah pintu hatinya Dwi Handayani untuk segera menyadari semua kesalahannya, ya Allah… walau bagaimanapun juga masih tetap adik sepupuku," batinnya Pak Rusdianto Hendri Ruslan.
Beberapa saat kemudian, Pak Ruslan sudah sampai di dalam kamar ruangan perawatan Vanesa. Dia melihat Vanesa yang sedang duduk berdampingan dengan Angkasa putra sulungnya. Seorang anak kecil yang karena keadaan harus terpisah dari adik kembarnya.
__ADS_1
Audrey Vanessa yang menyadari kedatangan Pak Rusdi segera tersenyum menyambut kedatangan pria yang sudah seperti bapak kandungnya sendiri.
Vanessa tersenyum simpul walaupun hatinya sedang berduka tapi, ia berusaha untuk tersenyum, "Pak Ruslan,makasih banyak atas bantuannya, saya dan Mas Aril sangat bersyukur karena bapak selalu ada disaat kami butuh bantuan," ucap Vanesa yang berterima kasih dan bersyukur karena masih dikelilingi oleh orang-orang baik.
Aida dan Aimah yang sejak kemarin bersamanya ikut tersentuh hatinya. Air matanya mereka menetes melihat kondisi dari Vanesaa dan Putranya.
"Sama-sama Nak, ini sudah menjadi tanggung jawabnya Paman, kamu sudah Paman anggap anakku sendiri jadi jangan lagi sekali-kali berkata seperti itu karena Ayah dan anaknya tidak pernah ada kata terima kasih," tutur Pak Rusdian.
Pintu terbuka lebar dan masuklah dokter serta beberapa perawat bersamanya. Mereka memeriksa kondisi dari Nafeesa dengan teliti.
"Bagaimana dokter, kapan saya bisa keluar dari sini?" Tanyanya Vanesa setelah selesai diperiksa karena sudah tidak sabar ingin meninggalkan rumah sakit.
"Alhamdulillah, kalau seperti itu Dok, berarti sekarang juga saya sudah bisa pulang," timpalnya Vanesa yang sumringah karena akan segera keluar dari RS setelah dua hari di rawat.
"Ibu bisa pulang karena kondisi ibu yang sudah sehat tapi tolong dijaga baik-baik kondisi psikologisnya jangan biarkan terlalu berlarut larut dalam kesedihan, wajar jika ibu sedih dan kecewa, tapi pesanku jangan sampai itu berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya Ibu yang akan berakibat fatal," terangnya Dokter Arysadi Fadli Prayoga dengan penuh pesan dan mewanti-wanti Vanesa.
"Insya Allah dokter saya akan melakukan semua yang dokter katakan, makasih banyak atas bantuannya," imbuhnya Vanesa yang bahagia karena kesehatannya sudah membaik.
__ADS_1
Angkasa dan maid dua orang itu hanya melihat interaksi mereka secara bergantian sembari menyantap makanan yang dibawa oleh Pak Ruslan sebagai sarapan paginya.
Audrey Vanessa tersenyum bahagia,"Insya Allah dokter, makasih banyak atas bantuannya," pungkasnya Vanesa yang bahagia karena kesehatannya sudah membaik.
Angkasa dan maid dua orang itu memperhatikan interaksi mereka secara bergantian sembari menyantap makanan yang dibawa oleh Pak Ruslan sebagai sarapan paginya dengan sesekali bercanda agar Angkasa tidak trauma dengan kejadian yang menimpanya beberapa hari belakangan ini.
"Hore mami bisa pulang ke rumah lagi, aku sudah merindukan masakannya mami Vanesaa!" teriak Angkasa dengan kegirangan sambil lompat-lompat di tempatnya.
Dokter dan perawat yang belum meninggalkan tempat tersebut ikut tersenyum bahagia melihat tingkahnya Daffa.
Pak Rusdianto menatap ke arah Vanesaa,"sebenarnya ada yang ingin Paman sampaikan tapi, saya mohon kamu harus bersabar," tutur Pak Rusdianto yang ragu untuk menyampaikan kepada Vanesaa tentang rumah pemberian Sakti untuknya yang sudah mau dijual oleh Nyonya Dwi Handayani secara sepihak.
Vanesa menatap ke arah Pak Ruslan sembari tersenyum dan sudah ada sedikit bayangan tentang apa yang terjadi, "Katakan saja Paman, tidak perlu sungkan seperti itu terhadapku, katanya tadi sudah anggap Vanesa putrinya sendiri, kalau sama anak sendiri tidak ada kata sungkan," gurau Vanesa yang masih duduk di atas ranjang RS.
Pak Rusdianto Hendri Ruslan yang duduk di salah satu sofa sebenarnya ia agak ragu untuk berbicara tapi, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga. Sedangkan tiga orang lainnya kembali menikmati makanan yang dibawa Pak Rusdi tanpa ingin ikut menimpali percakapan dari keduanya.
"Paman meminta maaf kepada kamu yang sebenarnya karena tidak mampu mencegah Nyonya Dwi untuk membawa pergi anakmu Samudera, dan Paman sudah mengerahkan anak buah Paman untuk mengikuti, mencari jejak mereka tapi, sampai detik ini keberadaan mereka belum kami ketahui," terangnya Pak Ruslan dengan sedikit ragu dan cemas dengan kondisi psikologis dari Vanesa yang masih terguncang hebat.
__ADS_1
Vanesaa dibuat tersentak kaget mendengar hal itu walaupun dia sudah mengetahui hal itu jauh-jauh hari sebelum kematian Aril Permana Pradipto. Itu sebagai syarat untuk keselamatan dari Angkasa dan Samudra endiri.
"Ya Allah… ternyata Nyonya Dwi melakukan hal itu padahal aku pikir itu hanya gertakan dan ancaman biasa saja, ternyata Nyonya Dwi sungguh kejam dan tidak punya hati nurani," lirihnya Vanesa dengan air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya.