Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 97


__ADS_3

"Ya Allah… apa yang terjadi sebenarnya di sini? apa yang harus aku sekarang Yah Allah…," Vanesa membatin memikirkan bagaimana nasib suami dan anaknya dan semakin dibuat kacau oleh suasana yang tak terduga itu.


"Tidak lama lagi, aku akan mendepak kamu dari sini dan nantinya aku lah yang menjadi pewaris tunggal dari harta yang tak habis ini hingga berapa turunan pun, karena pewaris asli keturunan dari anak kandung Tuan Satya Permana hingga detik ini tidak di temukan makanya aku akan manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya," gumam Bu Dwi Handayani.


Sedih, hancur, kecewa, tidak percaya, tak menyangka jika kehidupannya yang selama ini sudah ia anggap sempurna dan bahagia ternyata menyimpan misteri yang sangat berbahaya untuk keselamatan kedua anak kembarnya Angkasa dan Samudera.


Air matanya yang berusaha sekuat tenaga dia tahan akhirnya luluh juga membasahi pipinya. Dia menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak keluar. Tubuhnya bergetar menahan tangisnya yang semakin berusaha ia tahan semakin menetes membasahi pipinya tanpa aba-aba.


"Ya Allah… ini tidak mungkin, aku pasti hanya sedang bermimpi, aku yakin dan percaya jika semua yang aku dengar saat ini hanya lah sekedar candaan dan gurauan semata," gumam Vanesaa.


Nyonya Dwi Handayani yang melihat langsung kondisi dari Vanesaatertawa penuh kemenangan dalam batinnya andai saja ia bisa pasti Bu Dwi sudah tertawa terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal di hadapan Audrey Vanessa tapi, Bu Dwi masih berusaha untuk menahannya.

__ADS_1


Nyonya Dwi tersenyum licik seraya berucap, "Makanya jangan terlalu besar kepala dan jangan terlalu naif jika kamu bermimpi akan selamanya bahagia bersama dengan suami kamu yang impoten itu dan dengan seenaknya kamu menikmati semua kekayaan dari anak sambungku," batin Nyonya Dwi.


Priska yang baru saja selesai dan sudah menyelesaikan perintah dari Nyonya Dwi sebagai bosnya itu masuk ke dalam ruangan. Dia prihatin, iba dan simpati melihat keadaan dan keterpurukan dari perempuan yang sama sekali tidak ada salah dan dosanya pada Nyonya Dwi.


"Dasar Nenek lampir sudah ditolong malah menghancurkan nasib orang yang sudah iklhas menolongnya, tapi aku yakin dengan sangat hukuman dari Tuhan lebih pedih dari apa yang ia bayangkan, aku tidak sabar menunggu saat itu," umpat Priska yang masih berjalan ke arah mereka yang sudah tahu apa yang sudah terjadi dengan keduanya.


Nyonya Dwi Handayania memandangi langkah Priska sang asisten pribadinya itu yang sudah bekerja dan mengabdi kepada-nya sudah hampir 11 tahun.


Sedangkan Priska menganggukkan kepalanya tanda dia sudah selesai menyelesaikan tugas yang diembannya dengan baik dan sempurna sesuai arahan dan petunjuk kecuali tugas sekitar 10 tahun lalu itu yang menjadi rahasia terbesar dalam sejarah kehidupannya.


"Silahkan keluar dari sini, dan ingat jangan sekali-kali kamu katakan kepada orang lain semua yang aku katakan padamu hari ini, terutama pada Aril dan terkhusus penyakitnya itu," pinta Nyonya Dwi Handayani dengan menatap intens ke arah Audrey Vanessa.

__ADS_1


Nyonya Besar Dwi mengancam Vanesaa untuk bungkam dan diam tanpa harus membeberkan rahasia besar tersebut kepada siapapun itu. Jika Audrey Vanessa membuka dan membeberkan kepada orang lain maka keselamatan dari nyawa kedua anak kembarnya yaitu Angkasa dan Samudera yang menjadi taruhannya.


"Semoga saja kebahagiaan Tuan menular sampai ke kami bawahannya sehingga akhir bulan mendapatkan bonus dan gaji tambahan," Pak supir penuh harap.


Vanessa tidak tahu harus berbuat apa dan tidak mungkin mampu untuk melawannya karena anak-anaknya yang selalu ia pikirkan. Dia hanya menganggukkan kepalanya lalu mengusap dan menyeka dengan lembut lelehan air matanya yang menetes sedari tadi.


"Bagus,kamu memang anak yang penurut dan satu hal yang kamu perlu ketahui kamu tidak perlu khawatir ataupun takut jatuh miskin, karena aku akan memberikan uang tunjangan setelah kamu pergi dari sini," jelas Nyonya Dwi sebelum melangkah jauh dari dalam ruangan itu.


"Nyonya Muda harus sabar aku sangat yakin Nyonya akan lebih bisa bahagia jika Nyonya pergi dari sini," cicitnya Priska yang saat berpapasan dengan Vanesa.


Vanesa menolehkan kepalanya ke arah Priska dan berusaha untuk tersenyum walaupun sangat tipis dan sedikit dipaksakan. Lalu ia terus melangkahkan kakinya menuju taman yang ada di bagian belakang rumahnya.

__ADS_1


Langkahnya pasti dan setiap orang yang berpapasan dengannya menaruh iba dan prihatin dan sangat mengetahui dengan jelas karakter Bu Dwi. Mereka hanya bisa membantu Vanesaa dalam diam melalui doa yang mereka panjatkan. Dia menengadahkan wajahnya ke arah atas langit. Hal itu dia lakukan agar air matanya berhenti untuk mengalir.


"Aku harus bagaimana, pasti ini semua hanya mimpi di siang bolong, kenapa Mas Aril tega menutupi kenyataan jika dirinya sakit, apa maksudnya!! ya Allah serasa ini lebih sakit dibandingkan saat Mas Endra menceraikan aku," lirihnya Vanesa yang terduduk di kursi di bawah paparan sinar matahari langsung sore itu.


__ADS_2