Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 95


__ADS_3

"Betul sekali apa yang dikatakan olehmu Susi, tapi menurut aku yah Nyonya Vanesaa itu sangat baik iya kan?" Tanyanya yang ikut menimpali pembicaraan mereka di belakang Tuan rumah.


"Hus.. hus sudah hentikan gosipnya lanjutkan untuk mengangkat barang-barang Nyonya dan Tuan nanti kita kena marah dan yang lebih parah dipecat dari sini," sahut Ibu Darma selaku kepala pembantu di rumah itu.


"Sama-sama sayang," balasnya dengan senyuman tulus dipersembahkan oleh Ariel ke depan istrinya.


"Enak yah sore-sore gini bukannya kerja malah asyiknya bersantai sambil bergosip sambil duduk enteng di sini, apa kalian mau dipecat haaa!!" Pekik Bu Nila selaku kepala pelayan yang ada di rumah barunya Aril.


Mereka semua segera bubar dan meninggalkan lokasi tempat santai mereka. Dengan raut wajahnya yang berbeda-beda, semua pelayan itu meninggalkan tempat tersebut.


"Pantesan jadi perawan tua, sukanya marah-marah dan ngomel-ngomel gak jelas gitu," umpat Ibu Lia Istrinya bapak yang bekerja di bagian kebun.


"Betul apa yang dikatakan Bu Lira,saya sangat setuju kalau anak gadis sering marah-marah, terlalu sensitif ujungnya bisa gak laku dan masanya bisa kadaluarsa," timpal Bu Siti yang membenarkan perkataan rekannya yang sudah mulai menenteng sapunya.


Mereka semua tertawa sambil berjalan ke tempat kerja masing-masing ada yang mengurus pakaian bersih, pakaian kotor, tukang kebun dan juga bagian dapur.


Mereka baru tiga minggu bekerja di sana sesuai arahan dan perintah dari Nyonya Dwi. Tapi, ada juga yang bekerja sesuai dengan arahan dan petunjuk dari Vanessa sebagai pemilik rumah sendiri.

__ADS_1


Vanesa sama sekali tidak menggubris perkataan dari Bu Dwi ataupun mengambil hati karena jika dia seperti itu, bisa saja Bu Dwi akan semakin menindasnya. Ia ia kemudian masuk kedalam kamar anak kembarnya. Dia ingin melihat apa mereka masih tertidur pulas atau sudah bangun.


"Kalian masih tertidur nak, mami kira sudah bangun," gumamnya.


Vanesa perlahan berjalan ke arah kamarnya Angkasa dan Samudera. Dia baru Ingin memutar knop pintu kamarnya, tapi, tangannya hanya menggantung di depan pintu, karena tiba-tiba terhenti gara-gara seruan dari Nyonya Dwi Handayani.


"Audrey Vanessa!!" Panggilnya dengan sedikit mengeraskan suaranya sehingga seperti seseorang yang sedang berteriak.


Vanesa mengalihkan pandangannya ke kedatangan Bu Dwi, "Iya Mama, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya dengan seulas senyuman di wajahnya.


"Kamu harus ikut saya, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," perintah Nyonya Dwi dengan tampangnya yang tidak bersahabat sama sekali.


Vanesa berjalan di belakang mama sambung suami keduanya itu. Dengan perasaan yang was-was dan sedikit ketakutan serta rasa cemas yang melanda perasaan dan pikirannya, tapi Vanesa tetap berjalan ke arah ke mana pun langkah kakinya Bu Dwi melangkah.


"Ya Allah… kenapa perasaanku tidak enak, sepertinya ada sesuatu yang besar akan terjadi, tapi aku berharap semua perasaanku ini hanya sekedar isapan jempol saja ya Allah..." batinnya Vanesaa yang sudah memiliki feeling yang tidak karuan.


Nyonya Dwi diam-diam menatap ke arah Priska tanpa sepengetahuan Vanesa sedikitpun, sedangkan Priska sang asisten pribadinya yang ditatap seperti itu langsung cepat tanggap dan mengerti maksud dari kode yang diberikan oleh Nyonya Dwi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun suaranya.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam suatu ruangan khusus yang nantinya akan dipakai oleh Aril Permana sebagai tempat kerjanya selama ada di rumah itu.


"Duduklah," perintahnya pada Vanesaa anak menantunya itu yang berdiri tegak di depan Nyonya Dwi seperti orang yang mau upacara 17an saja.


"Makasih banyak Ma," balasnya Vanesaa yang masih bisa tersenyum tipis.


Sedangkan di rumahnya Bu Helma pun mengalami hal yang serupa dan mirip dengan apa yang terjadi dan dialami oleh suaminya. Kedatangan sahabat barunya Ara ke rumahnya tadi siang membuatnya bahagia.


Beliau tidak menyangka jika ada anak kecil yang seumuran dengan cucunya mirip sekali dengan putra tunggalnya saat masih kecil dulu.


"Tersenyum lah selama kamu bisa tersenyum karena mungkin dan aku bisa pastikan hari ini adalah hari terakhir kamu tersenyum," Batinnya Bu Dwi Handayani dengan mimik wajahnya yang penuh dengan kelicikan.


Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."

__ADS_1


 


__ADS_2