Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 87


__ADS_3

"Ya Allah… aku merasa perempuan yang paling bahagia di dunia ini, aku sudah jadi perempuan seutuhnya bisa melahirkan dan memiliki suami yang sangat baik dan perhatian," batin Vanesaa yang mengumbar senyumannya.


Hahahaha,"istriku memang pintar, tanpa harus repot-repot bekerja dan banting tulang aku sudah menikmati segala kemewahan yang diberikan oleh Dwi istriku, keputusanku waktu itu untuk mengijinkan menikah dengan si tua bangka itu berhasil." Umpatnya seseorang yang berdiri di depan cermin besar sambil memperhatikan wajahnya dengan gelas yang berisi minuman berwarna di dalam genggaman tangan kanannya.


Tawanya membahana mengisi seluruh pojok ruangan mewah tersebut sembari menikmati minuman berwarna yang beralkohol di dalam gelasnya. Ia lalu memutar gelasnya itu yang sudah tandas isinya.


Orang itu mulai menikmati keberhasilan dari rencananya yang sudah bertahun-tahun ini ia rencanakan. Sehingga ia merayakan dengan berpesta minuman dengan ditemani ladys yang tentunya sangat seksi tanpa sepengetahuan istrinya Bu Dwi Handayani.


Acara aqiqah yang dilaksanakan oleh Aril khusus untuk Angkasa dan Samudera beserta keluarganya di Washington DC berjalan sukses dan lancar. Banyak tamu yang berdatangan memenuhi undangannya Aril dengan Nyonya Besar Dwi.


Tatapannya tajam ke arah tempat Audrey Vanessa Hudgens dan Aril Permana berdiri, "Nikmatilah detik-detik terakhir kebahagiaan dan hidupmu di dunia ini setelah ini kamu harus bersiap untuk menerima segala takdir yang sudah aku gariskan hanya untuk kalian berlima, rencanaku memisahkan kalian dengan salah satu anak kembarmu yang kalian kira hanya memiliki dua orang anak saja," Senyumannya yang penuh dengan kelicikan dan kemunafikan tersungging di sudut bibirnya itu.


Mulai dari kalangan keluarga besar mereka sendiri, rekan bisnisnya, pejabat setempat bahkan ada beberapa artis yang menyempatkan waktunya untuk datang memenuhi undangan mereka. Ada yang rela datang dari dalam negeri hanya untuk melihat kemegahan acara tersebut.


Sedangkan di dalam tanah air tepatnya di ibu kota Jakarta, Syailrndra juga melaksanakan aqiqahan khusus dan istimewa untuk putri semata wayangnya dengan cukup sederhana berbanding terbalik dengan yang dilakukan oleh Nyonya Dwi yang sangat meriah tapi dengan segala sandiwara kejahatannya.


Endra dan ke-dua orang tuanya memilih acara sederhana dan kecil-kecilan saja bukannya tidak mampu tapi, ini semua pilihan dari Endra sendiri padahal Pak Abi dan Bu Helma sangat menginginkan sesuatu yang besar dan mewah pula yang akhir memilih hanya melakukan syukuran.


Acara syukuran tersebut dimulai dengan pengajian lalu mengundang beberapa ibu-ibu pengajian dan anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan.

__ADS_1


Waktu terus berlalu, detik menit jam hari minggu bulan dan tahun telah berlalu. Sudah sembilan tahun berlalu. Kondisi kesehatan Angkasa pun juga sudah semakin membaik.


Tetapi, mereka masih menetap di Negeri Paman Sam sambil menunggu kesehatan Angkasa pulih total. Sehingga Aril meminta ijin kepada Mama sambungnya untuk kembali ke tanah air tercinta Indonesia.


Malam sebelum kepulangannya, Aril tiba-tiba merasakan ada keanehan pada tubuhnya. Tapi, dia tidak memberitahukan kepada istrinya.


"Aaahhhh!!!" Pekiknya saat baru bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan pekerjaannya sebelum kembali ke Jakarta.


Sakti memegang bagian dadanya yang terasa sesak, "Ya Allah… setelah sekian lama kenapa baru kali setelah lima tahun lebih muncul lagi, aku pikir penyakitku sudah sembuh total," cicitnya yang kembali terduduk di kursi kebesarannya.


Ariel segera mencari botol obatnya yang selalu disimpan di dalam laci meja kerjanya selama ini. Sebagai persiapan dan untuk jaga-jaga saja. Tapi ia kesulitan untuk meraihnya botol obatnya itu.


Jika Aril sedang dalam bepergian maka dia akan segera menelpon nomor hpnya Vanesa. Seperti itu kebiasaan mereka setiap harinya. Ariel sama sekali tidak keberatan melakukan hal itu, walaupun Nyonya Dwia sering komplain dan marah kalau beliau mengetahui hal tersebut. Tapi, berulang kali juga Aril, menentang dan melawan keputusan dan perkataan dari mamanya.


Ariel hanya satu yang dikatakan oleh Ariel biasanya,"aku akan melakukan apa pun itu yang penting anak-anakku bahagia dan aku siap sedia akan melakukan dan memenuhi permintaan mereka walaupun itu sangat sulit aku lakukan."


Angkasa segera berlari ke arah dalam ruangan Papinya bersamaan dengan Ariel ingin meraih gelas yang berisi air putih. Ia kebetulan melihat hal tersebut, dia segera mengambil gelas tersebut lalu mengarahkan ke tangan Papinya.


"Papi, pelan-pelan minumnya nanti keselek air," ucapnya yang polos itu.

__ADS_1


Angkasa segera bertindak untuk mengelus punggung papinya itu dengan pelan dan lembut. Dia melakukan hal itu seperti yang biasa dilakukan oleh Vanesa jika, dia terbatuk dan setelah minum obatnya.


"Bagaimana! apa Papi sudah baikan?" Tanyanya Angkasa yang mulai kepo dan berdiri di depan Papinya.


"Alhamdulillah Papi sudah baikwn Nak berkat kamu yang mengelus punggungnya Papi dan juga dengan segala perhatian dan bentuk kasih sayangnya Angkasa khusus untuk papi seorang," jawabnya yang berusaha menutupi rasa sakitnya di depan anak sambungnya itu tapi raut wajahnya menyiratkan ada kesakitan yang berusaha ia sembunyikan di hadapan orang lain.


Angkasa spontan mengecup pipinya Ariei bagian kiri," saya sangat sayang Papi sampai kapan pun hingga akhir waktunya Angkasa, papi ia number one di dalam hatiku tak akan terganti," ujarnya Angkasa sembari menunjuk ke arah dadanya sendiri dengan penuh keyakinan.


Aril terharu dan bangga mendapatkan diperlakukan seperti itu sangat bahagia dan refleks meneteskan air matanya. Ia sungguh terharu karena mereka berdua tidak ada hubungan darah sekali yang mengikatnya tetapi, sangatlah dekat dan tidak terbantahkan.


Angkasa refleks menghapus jejak air mata Papinya dengan menggunakan jari mungilnya.


"Hatinya kamu memang sangat baik, Papi bangga padamu Nak, makasih banyak kalian sudah hadir di dalam hidupnya Papi," ujarnya Ariel sembari menarik tubuh putra sulungnya itu kedalam pelukannya.


Vanessa yang awalnya ingin melihat suaminya yang belum masuk ke dalam kamarnya berjalan ke arah ruangan kerja suaminya dan mendapati dua orang disayanginya tanpa sengaja mendengar perkataan terakhirnya Suami dan putranya itu.


Vanesa sangat bangga pada putranya yang sangat simpatik dan baik kepada siapapun sedangkan Samudera dia lebih bersifat cuek dan pendiam di mana pun berada dan teringat dengan karakter mantan suaminya sekaligus ayah biologisnya di kembar Syailendra Aryasatya Naim Abimanyu.


Tapi sifatnya Samudera menurutnya lebih dewasa, tegas dan tetap perhatian pada keluarga intinya. Sifat anak keduanya sering kali mengingatkannya pada Endra mantan suaminya yang sangat mirip karakter mereka berdua.

__ADS_1


 


__ADS_2