
.Tapi, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan cukup tajam dan penuh tanda tanya. Dia awalnya tidak mengetahui kedatangan kembali Maminya karena sibuk dan fokus dengan tugas yang diberikan oleh Ibu Nayla.
"Kok Mami pulang lagi ke sini, terus apa hubungannya dia dengan anak berkuncir dua itu," gumam Angkasa.
Vanessa segera berjalan meninggalkan ruangan kelasnya Ara setelah melihat Ara sudah duduk kembali ke tempat duduknya semula.
"Semoga saja aku tidak terlambat sampai di perusahaan," lirihnya Vanesa sambil memakai helmnya.
Vanesa melajukan motornya ke arah jalan raya dengan kecepatan sedang karena kondisi jalan yang cukup padat dan ramai. Dia sesekali melirik ke arah jam di tangannya yang terpasang dengan pas di pergelangan tangan kanannya.
"Masih ada setengah jam, aku harus menambah kecepatan motorku kalau seperti ini," cicitnya Audry Vaneesa.
Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai tepat di depan jalan masuk Perusahaan Golden Globe. Vaneesa melihat tulisan yang terpampang jelas di depan matanya. Dia menepikan motornya setelah ada mobil yang melewati di sekitar jalan yang dilaluinya dengan membunyikan klakson mobil yang cukup nyaring dan bising.
Vanesa sedikit tersentak terkejut saat mendengar suara klakson dari mobil tersebut. Ia refleks mengelus dadanya saking kagetnya dan tidak menyangka jika ada mobil yang membunyikan klakson seperti itu.
"Astaghfirullahaladzim," gumamnya sembari mengelus dadanya yang sempat terkejut itu.
Penumpang mobil tersebut menatap tajam ke arah supirnya karena tidak menyukai suara klakson mobilnya. Supir yang ditatap dengan tatapan tajam segera meminta maaf," maafkan saya Tuan, ada orang yang naik motor memarkirkan motornya di tengah jalan," kilahnya Supir tersebut.
Orang yang duduk di kursi jok belakang kembali menatap fokus ke arah laptopnya yang sempat teralihkan beberapa saat.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya Vanesa setelah menetralkan perasannya itu, sebelum melangkahkan kakinya masuk ke lobby Perusahaan.
Vanesa terlebih dahulu bertanya kepada bagian resepsionis untuk bertanya di mana tempat ruangan untuk menyetor berkas lamarannya.
"Mbak jalan lurus dan terus saja hingga melihat ada belokan, ujung belokan ada tangga silahkan naik ke tangga itu kalau sudah melewati tangga insyaallah akan melihat tulisan ruangan pendaftaran," jelas pegawai tersebut dengan panjang lebar.
"Makasih banyak Mbak atas informasinya," balasnya Vaneesa dengan tulus.
Vanesa segera melangkahkan kakinya menuju tempat sesuai petunjuk dari pegawai itu. Semakin lama semakin bertambah banyak orang yang berdatangan dan berlalu lalang di perusahaan tersebut.
Vaneesa mendaftar dan sudah mendapatkan nomor antrian untuk melakukan berbagai tes. Beberapa orang yang berada di dalam ruangan yang sama dengannya memperhatikan penampilan Vanesa.
__ADS_1
Ada yang sudah berbisik-bisik tetangga ada juga sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang ada di sana. Vaneesa melihat ke sekeliling untuk mencari tempat duduk yang kosong. Karena sudah hampir satu jam dia berdiri.
"Semoga saja tesnya selesai sebelum Daffa pulang," gumam Vanesa yang menyentuhkan pantatnya ke atas kursi.
Satu persatu dari mereka dipanggil oleh panitia penerimaan karyawan baru. Vanesa sedikit menghembuskan napasnya dengan cukup kasar. Ada rasa lelah yang dia rasakan saat itu juga.
"Audrey Vanessa Afreen!" Teriak panitia tersebut sambil memandangi orang yang tersisa di sekitar ruangan tersebut.
Ia langsung berdiri dan mempercepat langkahnya ke arah ruangan itu.
"Maaf! Saya Mbak," jawab Vanesa yang sudah berdiri tegak di depan perempuan itu.
Panitia perempuan itu menatap menelisik ke arahnya Vaesa,"kalau dilihat dari wajahnya dengan usianya yang tercatat di dalam cvnya tidak sama, umurnya sudah 31 tahun tapi wajahnya kok masih sangat muda dari usianya yah? Dia seperti baru berumur 25 gitu,"
"Maaf Mbak, saya Vanesa," ucap Van yang mencoba menyadarkan perempuan yang ada di depannya itu dengan perkataannya.
Karena tidak mendapatkan tanggapan dan respon dari wanita itu, Vanesa segera menyentuh lengannya mbak karyawati itu. Karyawati itu terdiam membisu seribu bahasa dan mendiam membeku di tempatnya.
"Eeehhh maaf, silahkan masuk," tuturnya dengan sedikit tersenyum malu karena sudah melamun dan menghambat proses pekerjaan mereka.
Vanesa mengikut arahan dari Mbak Mayang sesuai dengan name tag nya yang terpasang di dadanya. Berselang beberapa saat kemudian, ia telah melakukan dan melewati beberapa tahapan proses tes tersebut.
Mereka mengeluarkan pengumuman kelulusan seleksi tes tersebut hingga dua hari kedepan. Vanesa telah mendengar penjelasan dari panitia segera undur diri dari perusahaan tersebut.
"Angkasaa sudah pulang, semoga dia bisa sabar menunggu kedatanganku," gumamnya Vanesa yang sudah duduk di kursi jok motor matic kesayangannya.
Jalan yang dilaluinya berbeda dengan jalan saat pertama kali datang ke perusahaan. Dia tidak melewati jalan tersebut karena pasti dia akan terkena macet yang pastinya panjang padat merayap bagaikan ular raksasa saja. Jadi, dia memutuskan untuk mencari jalan alternatif lain sesuai dengan petunjuk Security yang sempat berbincang dengannya.
Ketika anda membuat pengorbanan dalam pernikahan, anda tidak hanya mengorbankan satu sama lain, tetapi satu kesatuan dalam suatu hubungan. Pernikahan yang sukses selalu segitiga seorang pria, seorang wanita dan Allah.
...****************...
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
__ADS_1
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kau Hanya Milikku
Kekuatan Cinta
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Hikayat Cinta Syailendra dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya.
Makasih banyak all readers…
I love you all..
__ADS_1