
"Putranya Papa, maafkanlah Papa yang sudah tidak mengetahui jika kamu lahir ke dunia ini, maafkan Papa yang terlambat menyadari semua ini," Lirihnya Endra yang semakin mengeraskan suaranya dalam dekapan salah satu anak kembarnya.
Angkasa pun terkejut melihat siapa pria yang mengaku jika ia adalah papa biologisnya.
"Uncle Syailendra!" cicit Angkasa yang baru menyadari jika pria itu adalah Papanya Starla Kejora Aysila Syailendra sahabat baiknya.
"Papa!" Lirihnya Angkasa yang membalas memeluk tubuhnya Syailendra dengan erat.
"Iya sayang, ini Papa kamu, Papa kalian," balasnya Endra.
"Apa benar Uncle Endra adalah papa kandungnya Angkasa?" Tanyanya Angkasa yang menginginkan kebenaran berita fakta yang baru Ia dengar secara tidak langsung.
Endra menganggukkan kepalanya, "benar sekali aku adalah papa kalian, aku adalah papanya Angkasa, Samudera dan juga Starla," imbuhnya Endra.
Angkasa kembali dibuat terperangah mendengar perkataan dari mulutnya papanya. Ia segera melepaskan pelukannya dari tubuhnya Endra.
"Papa! Apa benar Ara adalah adikku juga?" Tanyanya lagi.
Endra menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari anaknya," benar sekali apa yang kamu katakan, kalian itu terlahir kedunia tiga orang, tapi Mama Audrey Vanessa sama sekali belum mengetahui jika kamu punya adik cewek yang sangat cantik, tapi untuk sementara rahasiakan hal ini pada mamamu, biarkan papa saja yang mengurus semuanya, tugasmu adalah belajar yang benar, patuh sama Mama dan paling penting sayangi Mama dan papa," pintanya Endra di hadapan anaknya itu.
"Siap Papa!" Jawab Angkasa dengan patuh.
__ADS_1
"Sayang, besok kamu ulang tahun kan, apa Papa boleh tahu kamu akan adakan di mana acaranya?" Tanyanya Endra yang mendudukkan putranya di atas ayunan yang ada di sekitar taman sederhana yang berwarna merah biru itu.
"Iya Papa, kalau tidak salah Nenek mau adakan acaranya di panti asuhan Arrahmah yang ada di jalan XX," jelasnya Angkasa.
Endra tersenyum mendengar jawaban putranya, yang ikut duduk di atas kursi ayunan itu," kebetulan sekali adikmu Ara juga akan diadakan pestanya di sana, apa kamu bisa membantu Papa?" Tanyanya Endra lalu membisikkan kata-kata ke telinganya Angkasa.
Angkasa terdiam mendengarkan dengan seksama perkataan dari papanya itu, ia hanya sesekali menganggukkan kepalanya tanda setuju dan akan menggelengkan kepalanya jika ada omongan dari papanya itu jika salah dan tidak sesuai dengan keinginannya.
Endra menghabiskan malamnya bersama dengan anak sulungnya itu, Endra berjalan ke arah mobilnya untuk mengambil jaket kulit yang sempat ia pakai untuk ia pakaikan ditubuhnya Angkasa.
"Kenapa dipakaikan sama aku? Papa juga kan dingin," sanggahnya Angkasa yang mencoba untuk melepas jaket tersebut.
"Kamu harus pakai jaketnya Papa, tidak boleh menolak tubuh kamu masih kecil dan rentang terkena angin malam, Papa sudah tua dan terbiasa dengan dinginnya angin malam, jadi papa mohon jangan menolak untuk memakainya,okey!" Tampiknya Endra.
"Andai saja Vanesaa, Samudra dan Ara ada di sini lengkap lah sudah kebahagiaan kami, ya Allah… kabulkan permohonanku ini, aku ingin bersama keluargaku menikmati indahnya kebersamaan ini, apa lah artinya semua harta dan kemegahan yang aku dapatkan jika aku tidak bisa bersatu kembali dengan istri dan anak-anakku," Endra membatin.
Berselang beberapa menit kemudian, Angkasa tertidur dalam pangkuannya. Ia baru ingin bangkit dari duduknya kemudian menggendong anaknya itu, tapi baru beberapa langkah kakinya melangkah, Endra berhenti karena kedatangan Bu Laila mantan ibu mertuanya itu.
"Bawa masuk anakmu, kamarnya ada di ujung lorong itu," ujarnya Bu Laila Sari seraya menunjuk ke arah kamar cucunya.
Endra tersenyum ramah," makasih banyak Bu," imbuhnya Endra lalu berjalan ke arah dalam rumahnya Bu Laila.
__ADS_1
Endra langsung berjalan ke arah dalam, tepat di depan kamarnya Vanesaa pintu itu terbuka lebar dan keluarlah Audry Vanesa dari dalam kamarnya. Matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga lebar membentuk huruf O. Dia tidak menyangka jika Angkasa berada di dalam gendongan papanya.
Endra hanya tersenyum melihat Vanesaa dan tidak akan menuntut lagi untuk berbicara tentang anak-anaknya lagi. Ia ingin menjalani kehidupannya seperti layaknya air mengalir. Endra berniat untuk mendekati Vaneesa melalui kedua anaknya.
Endra meninggalkan Vanessa yang berdiri mematung di tempatnya sambil tangannya masih memegang handle pintu.
"Kenapa Mas Endra belum pulang juga? Apa sih yang ia inginkan, lagian hubungan kami sudah lama berakhir juga," kesalnya Vanesaa seraya menghentakkan kakinya lalu berjalan ke arah dapur.
Vanesaa berjalan sambil sesekali diam-diam mengamati apa yang dilakukan oleh Endra ketika membaringkan tubuhnya Angkasa ke atas ranjangnya. Endra menyelimuti tubuh putranya itu lalu mengecup kening Angkasa penuh dengan kasih sayang.
"Tumben anak itu bisa tidur lelap tanpa dibacakan cerita dongeng," cicitnya Vaneesa yang sejak tadi dia sembunyi-sembunyi mengawasi interaksi antara Papa dan anaknya.
Endra tersenyum sumringah bahagia karena menyadari jika Vanesaa ada dibalik pintu yang sengaja tadi ia tidak tutup.
"Apa enggak capek berdiri terus di luar! Kalau aku pasti masuk sini duduk dari pada berdiri seperti patung saja," gurau Endra yang tersenyum penuh maksud.
Vanesaa yang mendengar perkataan dari Endra segera berjalan meninggalkan kamar Angkasa seraya memonyongkan bibirnya karena ketahuan dan kedapatan sedang menguping dan memperhatikan Endra. Dia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari tingkahnya Audrey Vanessa yang menurutnya lucu saja.
"Aku yakin akan mendapatkan segera hatimu, aku berjanji jika kamu bersedia untuk menikah lagi denganku akan aku buktikan padanya jika aku akan memberikan dan menunjukkan padanya kebahagiaan yang selama ini tidak pernah kami rasakan," lirih Endra.
Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.
__ADS_1
Fun starts from being together with the closest people, especially family.
Endra sama sekali tidak mau berputus asa dan tidak akan menyerah dengan keadaan.