Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 129


__ADS_3

Sedangkan Syailendra dalam kamarnya sudah hampir satu jam ia berada di dalam kamar mandi. Ia membasahi sekujur tubuhnya dengan air hangat dari shower.


"Ya Allah… aku sudah bertemu dan menemukan istriku Vanesaa, aku harus segera menjelaskan padanya jika kami memiliki seorang putri yang sangat cantik, aku juga harus meminta maaf padanya," cicitnya Endra.


Endra meneteskan air matanya saat ia menghina, menuduh istrinya jika Vanesaa sudah tidak perawan lagi akibat dari tuduhan dan hasutan Lisna mantan istri keduanya yang hanya ia nikahi secara siri.


Setelah mandi, Syailendra bergegas untuk melaksanakan shalat magrib. Dengan khusyuk ia menjalankan ibadah shalat lima waktu kala itu. Selama ia sembuh dari penyakit yang dideritanya, Syailendra sama sekali tidak pernah meninggalkan shalat wajib maupun shalat sunnahnya.


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku, tapi kalau boleh aku meminta padaMu lagi, tapi mungkin aku manusia yang terlalu hina dan tidak pantas untuk meminta padaMu, ijinkan hamba ini memohon untuk satukan aku kembali dengan Audrey Vanessa ya Allah…" doa yang selalu Endra panjatkan kehadirat Allah SWT disaat ia sedang bersimpuh di hadapan sang khalik.


Baju koko yang dipakainya membuatnya semakin gagah dan bijaksana kelihatannya. Auranya sudah berubah menjadi semakin bijaksana dalam bersikap maupun bertindak.


Air matanya menetes tak henti-hentinya bahkan ia bersujud selama ia bisa. Air matanya sudah menetes membasahi sejadah yang dipakainya. Syailendra penuh khidmat bersujud kepada Sang Maha Pencipta.


"Aku serahkan hidupku ditanganMu ya Allah… aku tidak mungkin seperti ini jika bukan karena kesalahanku sendiri tapi, ijinkan aku untuk memperbaiki semuanya ya Allah…" lirih Endra.


Syailendra masih seperti sebelumnya, ia seakan-akan tidak lelah duduk di atas sejadahnya. Air matanya sesekali masih menetes membasahi pipinya ia pun menyeka air matanya itu. Suara ketukan pintu membuyarkan apa yang dilakukannya itu.

__ADS_1


Endra segera merapikan perlengkapan shalatnya, ia berdiri lalu berjalan ke arah lemari untuk menyimpan semua barang-barangnya yang sudah ia pakai.


"Tunggu!" Serunya Endra dari dalam kamarnya.


Langkahnya sedikit cepat berjalan ke arah pintu,ia tidak ingin membuat orang yang berada di balik pintu menunggunya terlalu lama. Pintu itu terbuka lebar dan muncullah sosok mamanya Bu Helma yang tersenyum melihat putranya yang sangat jelas terlihat jika putra sulungnya itu baru saja menangis.


Bu Helma menatap intens anaknya itu dari atas hingga bawah, lalu ia tersenyum bahagia melihat anaknya yang sudah ketahuan kalau Endra baru saja melaksanakan shalat magrib.


"Kamu sudah selesai shalat Nak! Kalau sudah selesai kami tunggu kamu di meja makan," imbuhnya Bu Helma.


Bu Helma memukul pelan pundak anaknya itu," kamu butuh bersabar sedikit lagi, mama yakin kamu akan segera bahagia bersama dengan keluarga kecilmu, tapi Mama mohon berjuanglah untuk meraih kebahagiaan itu," tuturnya Bu Helma di hadapan anaknya itu.


"Kalau masalah ini setelah kita makan, kita akan bahas semuanya dengan papamu, kita sebaiknya makan saja dulu sebelum Ara marah-marah lagi karena nungguin papanya lama banget datangnya," guraunya Nyonya Besar Helma.


Endra tersenyum sumringah di depan mamanya," Mama jalan duluan, saya mau ganti pakaian dulu sebentar Ma," balasnya Bu Helma.


"Oke, baiklah kami akan menunggu kamu, tapi jangan lama, lapar sudah soalnya," candanya Bu Helma yang membuat anaknya tersenyum tipis.

__ADS_1


Endra hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mamanya itu. Bu Helma segera meninggalkan kamar pribadinya anak kembarnya itu. Bu Helma tadi siang jika anak dan menantunya akan datang besok sore bersama cucu mereka.


Sedangkan di dalam dapur tepatnya di meja makan ada seorang anak kecil saja perempuan yang sudah ngomel-ngomel saking laparnya.


"Ihh!! Papa kenapa lama banget yah,apa papa ketiduran di dalam kamarnya!" Gerutunya Starla Kejora Aysila Syailendra yang sudah bermuka kesal dan masam.


Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.


"Ya Allah... aku berharap semoga anak dan menantuku bisa bersatu kembali," Batinnya.


Sedangkan di kediaman utama keluarga Permana segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Nyonya Dwi Handayani untuk melakukan prosesi pemakaman jenazah dari Ariel. Jenazahnya Ariel disemayamkan di rumah duka milik Papa angkatnya.


Mulai dari sewaktu dimandikan, proses kremasi hingga dishalatkan di salah satu Masjid terdekat dari tempat tinggal mereka berada. Awalnya terjadi perdebatan kecil antara Nyonya Dwi dengan Pak Ruslan.


Nyonya Dwi menginginkan segera dan secepatnya jenazah Aril dengan maksud yang terekubuny untuk memutuskan Jenazah Aril disemayamkan tanpa harus terlebih dahulu menunggu Vanesa hingga is sadar dan sembuh dari pingsannya.


"Kenapa seolah-olah Nyonya Dwi yang menghalangi kedatangan Vanesaa untuk mendampingi Aril di sisinya untuk terakhir kalinya? Sepertinya ada yang aneh dan ganjal di sini dan semoga feelingku salah jika kematian Aril ada campur tangannya dari Nyonya Besar Dwi Handayani," batinnya Pak Rusdianto.

__ADS_1


Nyonya Dwi berkilah dengan berbagai macam alasan dan sedikit pun tidak ingin mendengar masukan dan pendapat dari Pak Rusdi sedikit pun.


__ADS_2