Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 115


__ADS_3

"Mami Au-drey Va-ne-sa!!" Pekiknya Angkasa lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tanah pusara yang masih basah kemudian terduduk di atas pusara papinya saat Nyonya Dwi sudah meninggalkan area pemakaman umum tersebut beserta rombongan antek-anteknya itu.


Sedang Pak Rusdianto tadi meminta ijin untuk bertemu dengan pengurus makam tersebut. Sehingga semua yang terjadi kala itu lupuk dari pengamatan, penglihatan serta pendengarannya.


Ternyata apa yang terjadi di pemakaman umum tersebut masih bisa dilihat dengan jelas oleh beberapa pelayak yang memenuhi sekitar pemakaman umum itu, walaupun mereka hanya mampu dan sanggup untuk terdiam membisu menjadi penonton saja tanpa ada yang berniat untuk berani menolong Angkasa dan Samudera.


"Kamu itu anak sial yang terlahir penyakitan dan karena kamu adalah cucu asli dari Tuan Besar Permana makanya aku sangat membencimu dan mamimu juga hingga sampai kapanpun, malah aku berharap kalian mati saja," lirihnya Nyonya Dwi Handayania di telinganya Angkasa dengan suara yang sangat lirih dan pelan.


Tubuhnya Angkasa langsung tergerak mundur kebelakang saat mendengar hinaan dan cacian yang dilayangkan oleh Nyonya Dwi khusus untuknya.


"Mami Vanesa!!" Pekiknya Angkasa.


Angkasa terduduk di atas pusara papinya saat Nyonya Dwi sudah meninggalkan area pemakaman umum tersebut beserta rombongan antek-anteknya itu. Taws bahagia dan senyuman kemenangan selalu menghiasi wajahnya Bu Dwi.


Deraian air matanya membasahi pipinya. Dia sangat sedih dan tidak menyangka jika neneknya yang selama ini dia hormati dan sayangi ternyata bukanlah Nenek kandungnya.


Hatinya sedih dan hancur berkeping-keping, karena Papinya sudah meninggal dan meninggalkanbya untuk selamanya, sekarang semakin diperparah lagi oleh perkataan dari mulutnya Nyonya Dwi yang sangat menusuk tajam hingga ke dalam hatinya yang paling terdalam yang sama sekali tidak berperasaan.


"Mami Audrey Vanessa!! Mami ada dimana, tolong Angkasa," jeritnya yang meratapi nasibnya dan terduduk di atas pusara makam Papinya.


Pak Rusdianto Ferdy Salim yang baru saja bertemu dengan orang yang bertugas menjaga dan merawat seluruh makam segera mempercepat langkahnya ketika melihat Angkasa terduduk dan menangis histeris.


"Papi!! Kenapa papi tega banget meninggalkanku seorang diri, Mami juga tidak tahu pergi kemana dan baru saja adikku Samudera diambil pergi sama Nenek," ratap Angkasa yang semakin menangis histeris saja.


Tubuhnya sebagian sudah dipenuhi dengan debu dan lumpur, pakaiannya pun sudah kotor terkena tanah yang ada di gundukan tanah pusara papinya.


Pak Rusdi segera berlari ke arah Angkasa berada. Dia melihat hanya Angkasa seorang diri saja yang tersisa di pemakaman, sedangkan yang lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing tanpa ada yang memberitakan kepadanya terlebih dahulu.


"Angkasa! apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya sambil mengangkat tubuhnya Angkasa membantunya untuk berdiri yang terduduk sedari tadi di atas tanah.

__ADS_1


"Kakek, huhuhuhu Samudera kakek dibawa pergi jauh oleh Nenek," ucapnya Angkasa dalam tangisnya.


"Kamu harus tenang dan sabar, kita akan segera menyusul adikmu jadi Kakek mohon kamu harus kuat agar kita bisa bertemu kembali dengan Samudera," bujuknya Pak Ruslan.


"Tapi, kakek harus janji yah kalau kita akan bawa pulang Samudera, lalu pergi jauh dari Nenek jahat," pintanya Angkasa dengan polos.


"Iya Nak, kamu harus yakin bahwa kita akan segera bertemu dan berkumpul lagi dengan adikmu," dengan memegang puncak pundaknya Angkasa untuk meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya adalah benar adanya.


"Aku bukan anak sial kan Kakek?" Tanyanya sambil memeluk tubuh Pak Rusdi.


"Emangnya siapa yang ngomong gitu Nak? Karena kamu bukanlah anak sial tapi anak yang penuh keberuntungan dan kebahagiaan dalam hidupnya," tampiknya Pak Rusdianto.


Angkasa mulai menghentikan tangisannya saat mendengar perkataan dan penjelasan dari Pak Rusdi.


"Ya Allah.. kenapa Nyonya Dwi begitu kejamnya berkata kasar seperti itu di depan anak kecil yang sama sekali tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa," gumamnya yang menyayangkan sikap Nyonya Dwia yang sudah kelewat batas.


"Aku harus segera datang ke rumahnya Sakti kemungkinan besarnya mereka ke sana," batinnya Pak Rusdianto.


Sesekali masih terdengar sesegukan dari bibir mungilnya Angkasa. Ia sedih karena kehilangan sosok yang paling disayangi dan dihormati olehnya selama ini secara tiba-tiba. Bahkan barusan dia harus melihat kepergian adik kembarnya dengan paksa oleh Nyonya Dwi Handayania.


Maminya yang dia tidak tahu kemana perginya. Serasa lengkap sudah penderitaan saat itu juga. Dalam sehari semua yang paling berharga dalam hidupnya terenggut darinya.


Pak Rusdi segera mematikan mesin mobilnya setelah sampai di depan pintu pagar besi yang menjulang tinggi di depan matanya. Dia mulai ingin membuka pintu itu tapi usahanya langsung dicegah dan digagalkan oleh dua orang Security.


"Maaf Pak Rusdianto! Anda tidak boleh masuk dan ini sesuai dengan perintah dari Nyonya Besar Dwi sendiri," pungkasnya Security itu.


"Maaf Pak Rusdi, Anda tidak boleh masuk dan ini sesuai dengan perintah dari Nyonya Besar Dwi kami tidak mungkin membantah perintah Nyonya," pungkasnya Security itu dengan menghalangi langkahnya Pak Rusdianto.


Pak Rusdi menatap tidak percaya ke arahnya Security tersebut.

__ADS_1


"Apa kalian tidak mengenal saya?" Tanyanya dengan sedikit ketegasan.


"Kami sangat tahu Anda itu siapa tapi,kami tidak mungkin menentang perkataan dari Nyonya Besar lagian Nyonya Dwi sudah pergi dari sini," ungkapnya.


Vanesa hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Mama mertuanya. Ia sering khawatir sendiri dan ketakutan jika mengingat kembali perkataan Nyonya Dwi saat ia hamil lima bulan.


"Kenapa aku perhatiin Mama hanya menyayangi Samudera sedangkan dengan Angkasa hanya sekedar apa adanya saja," batinnya Vanesaa yang merasa heran dengan perlakuan dan sikapnya Nyonya Dwi terhadap ke dua putra kembarnya.


Ariel yang baru masuk kedalam kamarnya dan mendapati istrinya sedang melamun sambil menatap ke arah bayinya yang tertidur pulas. Aril berinisiatif segera memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Apa yang dilakukan oleh Aril hal itu membuat Vanesaa tersentak terkejut.


"Aaahh!!!" Jeritnya Vanesaa yang berteriak karena ketakutan saat ada tangannya yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya.


"Maafkan Mas sayang, aku sengaja melakukannya dan tidak berniat untuk membuat kamu terkejut.


Vanesaa segera membalik tubuhnya dan melihat ke arah Aril. Ia hanya menatap tajam suaminya itu.


"Kakek, Samudera ada di mana?" Rengeknya dengan menarik lengan bajunya Pak Rusdianto.


Pak Rusdianto tidak tahu harus berbuat apa dan cara menjawab pertanyaan dari Daffa. Ia banyak memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi dari kejadian ini.


Sedangkan di kediaman utama keluarga Permana segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Nyonya Dwi Handayani untuk melakukan prosesi pemakaman jenazah dari Ariel. Jenazahnya Ariel disemayamkan di rumah duka milik Papa angkatnya.


Mulai dari sewaktu dimandikan, proses kremasi hingga dishalatkan di salah satu Masjid terdekat dari tempat tinggal mereka berada. Awalnya terjadi perdebatan kecil antara Nyonya Dwi dengan Pak Ruslan.


Nyonya Dwi menginginkan segera dan secepatnya jenazah Aril dengan maksud yang terekubuny untuk memutuskan Jenazah Aril disemayamkan tanpa harus terlebih dahulu menunggu Vanesa hingga is sadar dan sembuh dari pingsannya.


"Kenapa seolah-olah Nyonya Dwi yang menghalangi kedatangan Vanesaa untuk mendampingi Aril di sisinya untuk terakhir kalinya? Sepertinya ada yang aneh dan ganjal di sini dan semoga feelingku salah jika kematian Aril ada campur tangannya dari Nyonya Besar Dwi Handayani," batinnya Pak Rusdianto.


Nyonya Dwi berkilah dengan berbagai macam alasan dan sedikit pun tidak ingin mendengar masukan dan pendapat dari Pak Rusdi sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2