Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 104


__ADS_3

"Semoga saja anak buahku secepatnya menemukan keberadaan dari anaknya Tuan Besar Permana," batinnya Pak Rusdianto yang sangat menaruh harapan besar kepada pencariannya kali ini.


Sejak Tuan Permana mengetahui jika dirinya ternyata tidak mandul dan memiliki anak dari istri pertamanya yaitu ada di kampung dia segera memerintahkan untuk mencarinya, tapi apa daya usaha yang dilakukannya terlambat karena rahasia tersebut bocor hingga ke telinga Nyonya Dwi yang langsung bergerak cepat untuk berencana membunuh istri pertamanya serta anak tunggalnya Pak Permana.


Tapi info yang beliau dapatkan rencana itu gagal tapi hingga sampai sekarang sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan dari Nayla istrinya dan juga putri tunggalnya Pak Permana. Nyonya Dwi sangat lihai dan pintar memanipulasi data dan keadaan yang ada.


Pernikahan Arili pun baru beberapa bulan terakhir terendus dan ketahuan olehnya saking pintarnya Nyonya Dwi mengatur semuanya. Dengan menggunakan kekuasaan Permana untuk melakukan apapun bagaikan hanya menjentikkan jarinya saja semuanya sudah beres.


Pak Rusdianto mendapatkan informasi itu sebelum istri pertamanya Pak Permana sebelum meninggal dunia karena akibat penyakit yang sudah sekian lama dia derita dan menggerogoti tubuhnya yang lemah itu.


"Ya Allah bantulah aku menemukannya keberadaan Nayla dan keluarganya," doa dan harapannya sambil memandangi sebuah foto yang ada di dalamnya Nyonya Nayla yang sedang duduk bersama dengan putrinya yang baru berusia satu tahun waktu itu sekaligus saat terakhir mereka bersama dan berkumpul lagi.


Hingga hpnya berdering yang membuyarkan lamunannya dan pikirannya yang fokus tertuju pada pencariannya terhadap Nayla.


"Apa!!! Itu tidak mungkin,kalian pasti salah mengenali orang!!" Jelasnya Pak Rusdianto dengan shock dan terkejut dengan mendengar berita tersebut matanya membelalakkan tak percaya dengan berita yang barusan ia dengar.


Pak Ariel terduduk di kursi kebesarannya dengan wajahnya yang pucat pasi sedangkan air matanya menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


"Allahu Akbar… astaghfirullahaladzim… innalilahi wa innailaihi rojiun, ini pasti aku salah dengar saja," lirih Pak Rusdianto


Prang!!!!!


Sebuah gelas kaca yang berisi jus buah alpukat yang baru saja dibuatkan oleh maidnya, itu langsung terlepas dari dalam genggaman tangannya tanpa sengaja hingga menimbulkan kegaduhan suara dari arah dapur.


Beberapa maid yang mendengar hal tersebut segera berlari ke arah sumber suara. Mereka terkejut dan tersentak kaget karena melihat Nyonya Muda mereka dalam kondisi yang tidak baik saja.


Ariel tersenyum menanggapi perkataan dari istrinya itu tanpa ingin menyanggah ataupun membantah sedikitpun perkataan dari istrinya.


Vanesa merayu suaminya berkilah bahwa, "nanti benar-benar dia kerepotan dan tidak mampu lagi merawat keduanya barulah dia menginginkan bantuan, lagian ada Priska, Mbak Melati, Mawar dan maid lainnya yang silih berganti menjaga baby twins kita sayang."


"Dimana suami kamu Van?" Tanyanya yang memeriksa kondisi Baby Angkasa dan Baby Samudera.


Vanessa menolehkan wajahnya ke arah Ibu mertuanya, "Mas Ariel sepertinya ada di depan Nek, kalau tidak salah dengar katanya sih sudah banyak tamu yang datang relasi bisnisnya yang ada di Amerika Serikat," terang Vanesa yang menyusui putra pertamanya.


"Ingat jaga baik-baik mereka berdua, Mama tidak ingin dengar dan tahu jika cucuku kekurangan apa pun atau ada yang terjadi padanya," tutur Bu Dwi yang bernada ancaman di hadapan Vanesa.

__ADS_1


Vanesa hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Mama mertuanya. Ia sering khawatir sendiri dan ketakutan jika mengingat kembali perkataan Nyonya Dwi saat ia hamil lima bulan.


"Kenapa aku perhatiin Mama hanya menyayangi Samudera sedangkan dengan Angkasa hanya sekedar apa adanya saja," batinnya Vanesaa yang merasa heran dengan perlakuan dan sikapnya Nyonya Dwi terhadap ke dua


"Nyonya Audrey Vanessa!" Pekik mereka yang sudah menyadari apa yang terjadi di dalam ruangan dapur tersebut.


Mereka melihat ada tetesan darah di lantai dan Vanesa yang sedang membersihkan lantai yang sudah berceceran dimana-mana pecahan beling.


"Adeli!! tolong bawa kotak p3k ke sini" teriak Aida yang sudah memegang jarinya Nafeesa yang terluka itu akibat goresan halus dari pecahan gelas yang dipungutnya dari atas lantai.


"Nyonya seharusnya memanggil kami saja, kenapa harus repot-repot mengambilnya," ucap Aida yang sangat kasihan melihat Vanesaa yang tampak seperti orang linglung kebingungan terdiam saja tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya.


Aida menatap ke arah salah satu rekan kerjanya yang ada di sana, "Amel tolong bersihkan pecahan kaca ini hingga tidak tersisa aku akan membawa Nyonya ke dalam kamarnya," perintahnya Aida yang sedih melihat keadaan Vanesa.


"Ya Allah… apa yang terjadi padaku kenapa perasaanku sangat tidak tenang, gelisah dan ada perasaan was-was, firasatku ini pertanda apa ya Allah... aku sangat takut," gumaman Vanesa yang mulai ada keanehan lagi yang dia rasakan.


Aida dan Maid lainnya sangat khawatir melihat Vanesa yang sudah seperti orang yang kerasukan dan kesurupan sesuatu.

__ADS_1


"Ya Allah… apa yang terjadi dengan Nyonya, kenapa ia bersikap aneh seperti ini," gumamnya Aida.


__ADS_2