
"Itu Audrey Vanessa Mama Istriku, tolong hentikan mobilnya!!" Pekik Endra tiba-tiba saat melihat ada mobil yang melewati mobil mereka dengan kecepatan sedang.
Semua orang terkejut dengan teriakan yang tiba-tiba dari Endra itu dan bersamaan melihat ke arah mobil yang ditunjuk oleh Endra.
"Sayang! Putraku tenanglah mungkin kamu hanya salah lihat saja Nak!!" Tampiknya Bu Helma tapi bersyukur karena Syailendra akhirnya mau membuka suaranya untuk berbicara walaupun sedikit histeris.
"Aku mohon hentikan mobilnya!!" Teriaknya Syailendra yang maju ke depan menarik kerah bajunya Yudistira Tirtayasa Abimanyu adik kembarnya itu.
Pak Abi yang melihatnya segera mencegah tangannya Endra karena sudah menggangu aktifitasnya Yudistira untuk menyetir mobilnya, "Tenanglah Nak, iya kita akan mengejar mobil Vanesaa istrimu segera," Pak Abi yang mencoba merayu untuk menenangkan Andra yang mulai mengamuk, tidak tenang dan berteriak-teriak.
"Syailendra!! Papa mohon diamlah Nak! bagaimana caranya kita mengejar mobilnya Audrey Vanessa, jika kamu tidak diam dan mendengar perkataan dari kami?" Ujarnya Pak Abimanyu yang khawatir melihat kondisi putranya yang tiba-tiba berteriak dan mengira jika dia melihat mantan istrinya yaitu Vanesa.
"Yudistira!! tambah kecepatan mobilnya Nak, kita harus segera melarikan Endra ke rumah sakit tempat praktek Dokter Frans Lie," perintahnya Ibu Helma sambil memeluk tubuh putranya itu.
"Apa mungkin Abang yang dilihatnya tadi adalah Mbak Vanesaa?" gumam Natalie yang memikirkan perkataan dari Abangnya sendiri.
Yudis mendengar sekilas gumaman istrinya, "Itu tidak mungkin Sayang, Mbak Vanesa kan katanya sudah menikah dengan pria lain dan mungkin saja dia ada di negara lain bukan di Jerman," sanggah Yudistir yang tidak sengaja mendengar gumaman dari istrinya itu.
Natalie menatap sekilas ke arah suaminya," itu tidak menutup kemungkinan Mas, karena setahu aku Ariel Pradipta Permana itu pengusaha muda yang sangat sukses dan tentunya tajir melintir yang sangat mudah untuk melakukan perjalanan bulan madu ke berbagai tempat di belahan dunia mana saja yang ia inginkan termasuk di Berlin," tampik Natalia.
"Jadi apa kita harus percaya dengan perkataan dari Endra yang hanya bisa mengkhayal dan terdiam tak tahu harus berbicara apa?" Tanyanya Pak Abi yang tidak ingin mempercayai apa yang dilihat oleh anak sulungnya itu karena mengingat kondisi mental dan jiwanya Syailendra putra pertamanya itu sedang tidak sehat dan tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.
Mereka terdiam sejenak lalu sibuk memikirkan berbagai macam kemungkinan besar yang bisa terjadi. Andra sudah mulai sedikit tenang dan tidak mengamuk berteriak kencang lagi.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit. Betapa bahagianya saat mengetahui, jika dokter Bertrand hari ini masuk kerja.
"Ayo cepat bawa abangmu ke dalam ruangan praktek Dokter Frans lie," perintah Nyonya Helma yang sangat antusias setelah mengetahui kalau dokter yang selama beberapa hari ini mereka cari ada di dalam ruangan prakteknya.
"Syukur Alhamdulillah kalau dokter ada di ruangannya," tuturnya Pak Abi setelah berbicara dengan resepsionis bagian informasi rumah sakit.
__ADS_1
Mereka segera mempercepat langkahnya menuju ruangan yang dimaksud. Untung hari ini, pasien dari dokter Frans Lie terbilang cukup sedikit dan sepi tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu dipadati pasien, sehingga mereka tidak perlu berlama-lama menunggu antrian.
"Pasien bernama Syailendra Bramantyo Luis Abimanyu!" panggil perawat yang berdiri di ambang pintu sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Endra.
Ibu Helma segera menyahut saat namanya Endra disebut oleh Suster, "Kami di sini Sus," sahut Ibu Helma.
Pak Abimanyu dan Ibu Helma menuntun Endra yang seperti seorang bayi besar saja yang kesulitan untuk berjalan. Sedangkan Yudistira Tirtayasa Luis Abimanyu dan Natalie Holsem menunggu mereka di kursi tunggu.
Pintu itu tertutup, sedangkan Dokter Bertrand yang sedang sibuk dengan beberapa berkas laporan rekam medis pasien yang baru beberapa menit yang lalu ditanganinya.
"Silahkan duduk Tuan," ujarnya yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah orang yang sudah duduk di kursi yang ada di depannya.
Betapa terkejutnya saat melihat dan menyadari siapa orang yang duduk di hadapannya. Pria yang selama ini menjadi sahabat baik dan dekatnya saat masih melanjutkan studinya S3 meteka di UK London Inggris.
Frans Lie sangat bahagia dan sumringah melihat Pak Abimanyu kawan lamanya. Dokter Frans langsung berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh sahabat terbaiknya itu yang sangat besar jasanya selama hidupnya itu yaitu Pak Abimanyu.
"Alhamdulillah, kabarku baik-baik saja kok, kalau kamu bagaimana?" Tanya balik Pak Abimanyu yang sangat bahagia karena setelah hampir lima tahun lamanya terpisah karena kesibukan masing-masing dan kembali dia bisa bertemu dengan teman terbaiknya yang dimilikinya itu.
Hidup ini tak akan indah
Tanpa kau ada di hati
Ceria ini tak kan ada
Tanpa kau ada di sisi
Kekasihku, kau bunga mimpiku
Tiada yang lain hanya dirimu
__ADS_1
Yang kusayang dan selalu kukenang
'Kan selalu bersama dalam suka dan duka
Dirimu satu yang kumau
takkan lagi ada selain dirimu
Cinta suci hanyalah untukmu
Dengarlah kasih, kaulah dambaanku
Walau kan datang badai menghadang
Kita kan selalu bersama
Tetap satu dalam cinta
Tiada yang mampu merubah
Wajah manis yang lembut dan ayu
Bagaikan untaian mutiara
Takkan kulepas hingga akhir masa
Kan selalu bersama dalam suka dan duka.
Pertemuan yang tidak pernah terpikirkan oleh Dokter Frans yang menyangka jika Pak Abimanyu ada di Indonesia bukan di Jerman.
__ADS_1