Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 89


__ADS_3

"Iya sayang, mami serius kita akan balik ke Indonesia tepatnya di rumahnya Oma Dwi Handayani, apa kalian bahagia?" Tanyanya Audrey Vaneesa di depan kedua anak kembarnya itu.


"Hore kita akan pulang ke Indonesia, aku cinta Indonesia," ucapnya Angkasa yang sudah melompat-lompat kegirangan saking bahagianya karena akan menginjakkan kakinya ke tanah air negara kelahiran ke dua orang tuanya.


Begitu banyak kata andai untuk mengawali setiap penyesalan. Begitu kamu mulai menyesal itu sudah terlambat. Akan selalu ada penyesalan setelah kehilangan sesuatu, yang selama ini kamu sia-siakan.


"Iya Mi apa Kita serius akan pulang?" Sahut Samudera yang ikut bergabung dalam percakapan mereka berdua.


"Iya sayang, mami serius kita akan balik ke Indonesia tepatnya di rumahnya Oma Dwi Handayani apa kalian bahagia?" Tanyanya Vanesa yang menularkan virus kebahagiaan pada anaknyai depan kedua anak kembarnya itu.


Angkasa jungkat-jungkit, "Hore kita akan pulang ke Indonesia, aku cinta Indonesia," ucapnya Angkasa yang sudah melompat-lompat kegirangan saking bahagianya karena akan menginjakkan kakinya ke tanah air negara kelahiran kedua orang tuanya.


"Alhamdulillah setelah hampir dua tahun lebih aku di Jerman terus pindah ke Washington DC sekitar tujuh tahun, hari ini akhirnya bisa kembali lagi ke tanah air, kira-kira bagaimana kabarnya Mas Endra yah, jujur ya Allah aku sangat merindukan mantan suamiku Hingg detik ini," batinnya yang melihat ke arah jendela pesawat.


Aril menatap intens ke Audrey Vanessa yang tidak sengaja melihat istrinya sedang melamun, ia pun berjalan ke arah istrinya berada yang kebetulan duduk di sofa sambil menyalakan tv tapi penglihatannya tertuju pada TV tapi pikirannya berada dan terpusat di tempat lain yang jauh dari tempat duduknya sekarang.


Televisi tersebut sedang menayangkan siaran langsung dari salah stasiun televisi swasta yang bertema Qoriah cilik. Di TV itu sedang menayangkan seorang anak kecil yang sekitar 8 tahun atau 7 tahun lebih sedang membaca ayat suci Al-Qur'an surah an-nisa.


Saking merdu dan indahnya suara anak kecil itu mampu menghipnotisnya, pandangannya teralihkan. Vaneesa yang mendengar sekilas suara merdu anak ity spontan melihat ke arah tv, dia terkagum sampai-sampai menetes air matanya.


Vanesa tersenyum bahagia melihat bocah itu, "Anak itu sangat pintar dan cantik, pasti kedua orang tuanya sangat bangga dan bahagia, andai aku juga punya anak cewek pasti aku sangat bahagia tapi, itu tidak mungkin dimana Mas Ariel tidak mampu untuk melakukannya," gumamnya sambil menyeka air matanya yang mengalir.

__ADS_1


Aril Permana memeluk tubuh istrinya dengan erat dari belakang, tapi dia menyapa istrinya sebelumnya agar tidak terkejut seperti yang telah lalu.


Aril mengelus punggungnya Vanesaa, "Sayang apa yang terjadi padamu?" Tanya Ariel yang jari tangannya menghapus air mata Istrinya dengan sangat hati-hati.


Vanesaa refleks menolehkan kepalanya ke arah Aril yang sudah duduki di sebelah kanannya," aku hanya terharu dan bangga melihat anak kecil itu Mas." Tunjuknya Vaneesa ke arah televisi.


Jawabnya Vanesaa lalu menunjuk ke arah layar televisi yang menampilkan seorang gadis kecil. Ariel refleks melihat ke arah yang ditunjuk oleh Vaneesa.


Sakti pun ikut terharu saat mendengar penjelasan dari MC artis kondang terkenal di negara kita yaitu Irfan Hakim. Dia berbincang-bincang santai dan bertanya kepada anak tersebut.


"Assalamualaikum adek," sapa Irfan Hakim dengan seulas senyuman khasnya Irfan Hakim.


"Waalaikum salam,* jawabnya dengan senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya yang nampak malu-malu.


"Starla Aysila Airen Abimanyu Om," jawabnya Ara dengan mantap.


Vanessa segera menajamkan pendengarannya saat anak itu menyebut namanya," Starla Aysila Airen Abimanyu sungguh nama yang cocok dan sangat cantik," puji Irfan Hakim..


"Abimanyu nama ayahnya," cicitnya Vanesaa.


"Jadi Om panggil apa nih sama kamu nak?" Tanyanya lagi Irfan Hakim.

__ADS_1


"Panggil Ara saja Om," jawabnya yang sedikit menggoyangkan tubuhnya yang berdiri di atas panggung.


"Ara kesini sama siapa apa diantar sama Papa atau Mamanya Nak?" Tanyanya lagi Irfan.


"Aku diantar sama Papa dan Nenek Om kalau Ma-ma…, ma-ma… aku tidak…" ucapannya Ara terpotong karena dia tidak tahu harus menjawab apa dan seketika air matanya lolos tanpa aba-aba langsung membasahi pipinya itu.


Hanya air mata yang mampu mewakili perasaan dan jawaban dari pertanyaan mc Irfan Hakim. Ara sesegukan hingga tetesan air matanya jatuh membasahi pipinya dan mikrofon.


Irfan Hakim dan yang lainnya penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Ara.


"Ma-ma pergi belum pulang katanya Papa Om," jawabnya dengan suara yang lirih sangat kecil sambil menundukkan wajahnya karena sedih jika mengingat mamanya yang belum pulang.


Semua orang ikut sedih dan menangis,tak ada satupun di dalam sana yang tidak ikut bersedih. Begitu pula halnya dengan Sakti dan Nafeesa yang menonton langsung acara tersebut.


"Emang mamanya ada di mana kok belum pulang yah Nak?" Tanyanya lagi Pak Irfan Hakim yang ingin mengetahui apa yang terjadi dengan mamanya Starla.


Ara menatap ke arah penonton dimana papa dan kedua kakek neneknya berada," Aku tidak tahu Om, mama ada di mana sekarang tapi papa bilang sama Ara suatu saat nanti Mama akan pulang menemui Ara," jelasnya Ara sesekali terisak dalam tangisannya.


"Ara bantu doa agar Mama nya Starla segera pulang ke rumah nya jadi bisa ngumpul dengan Ara dan keluarga yang lain," timpalnya Irfan Hakim.


Bu Helma dan Pak Abi semakin terisak dalam tangisannya karena tidak kuasa menahan rasa sedihnya melihat cucu tunggalnya itu menangis merindukan mamanya.

__ADS_1


"Ya Allah... segeralah pertemukan cucuku dengan Mamanya," batinnya Bu Helma.


 


__ADS_2