Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 116


__ADS_3

"Kami sangat tahu Anda itu siapa tapi,kami tidak mungkin menentang perkataan dari Nyonya Besar lagian Nyonya Dwi sudah pergi dari sini," ungkapnya.


"Kakek, Samudera ada di mana?" Rengeknya dengan menarik lengan bajunya Pak Rusdianto.


Pak Rusdianto tidak tahu harus berbuat apa dan cara menjawab pertanyaan dari Daffa. Ia banyak memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi dari kejadian ini.


Pak Rusdianto dibuat terkejut dan menatap tidak percaya ke arahnya Security tersebut."Apa kalian tidak mengenal saya?" Tanyanya dengan sedikit ketegasan.


"Kami sangat tahu Anda itu siapa tapi,kami tidak mungkin menentang perkataan dari Nyonya Besar lagian Nyonya Dwi juga sudah pergi dari sini sekitar beberapa menit yang lalu," ungkapnya.


"Kakek, dimana Angkasa?" Rengeknya dengan menarik lengan bajunya Pak Rusdianto.


Pak Rusdianto kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana cara menjawab pertanyaan dari Angkasa tersebut. Ia banyak memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi dari kejadian ini.


"Aku tidak percaya jika Nyonya Dwi Handayania tidak ada di dalam, kecuali kalian membolehkan aku masuk ke dalam untuk melihat langsung," sarkasnya Pak Rusdi dengan menaikkan sebelah alisnya yang sangat tidak percaya dengan perkataan mereka.


Pak Rusdian beranggapan ini hanya alibi dan alasannya mereka semata untuk menyembunyikan keberadaan Samudera dan Nyonya Dwia. Security itu saling berpandangan lalu segera menghubungi kepala pelayan untuk menginformasikan apa yang telah terjadi di depan pagar.

__ADS_1


"Kalau bapak tidak percaya, aku akan segera menelpon nomor kepala pelayan kami, agar Bapak bisa yakin dan percaya jika kami tidak berbohong atau pun mengada-ada saja," ungkapnya Security itu.


Setelah beberapa saat kemudian, Security itu mengijinkan Pak Rusdi dan Angkasa untuk masuk memeriksa langsung keadaannya. Pagar menjulang tinggi itu terbuka lebar, Angkasa segera langsung berlari kencang masuk ke area rumah yang bagaikan istana itu.


Dia kemudian mencari keberadaan adik kembarnya hingga ke seluruh penjuru rumah. Angkasa tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


"Angkasa… adikku kamu ada dimana? Kakak datang menjemputmu!!" Teriaknya Angkasa dengan suaranya yang cukup tinggi dan melengking membahana di dalam rumah besar itu yang membuat bising ruangan tersebut.


Beberapa maid maupun pelayan yang mendengar teriakannya dan melihat langsung kedatangannya tidak ada yang berani berkomentar atau pun mendekatinya seperti biasanya jika dia datang berkunjung ke rumah itu.


Mata mereka hanya memandang penuh kasihan, rasa iba kearahnya Angkasa. Mereka semua yang tahu apa yang telah terjadi dengan anak kembar itu tapi, satupun dari mereka tidak ada yang berani untuk membuka mulutnya lalu berbicara.


Mereka terlalu takut dengan ancaman dari Nyonya Dwi Handayani junjungannya yang menjadi atasan mereka.


"Ya Allah… maafkan kami tidak sanggup untuk membantu mereka," batinnya Pak Joko asisten tukang kebun.


"Apa yang terjadi di sini? Kenapa ada anak kecil yang berlarian di dalam rumah lalu berteriak-teriak seakan-akan rumah ini adalah hutan belantara yang dipenuhi dengan pohon dan hewan," sarkas kepala Pelayan Pak Jong dengan tatapan merendah ke arah Angkasa dan Pak Rusdianto berada.

__ADS_1


Pak Jong Aziz dengan wajahnya yang jumawa dan penuh kesombongan berdiri di depan Pak Rusdian seakan-akan dia lebih hebat dari segala-galanya yang dimiliki oleh Pak Rusdi sendiri. Keangkuhan yang dimiliki Pak Jong membuat Angkasa merugi.


Pak Rusdianto terperangah melihat betapa besar perubahan yang terjadi di sana setelah kepergian Ariel. Baru dalam hitungan jam, Ariel Permana meninggal dunia dan disemayamkan di TPU setempat, sudah nampak jelas mencuat kepermukaan semua antek-anteknya Nyonya Dwi yang jahat dan sifatnya tidak berbeda dengan Nyonya Dwi.


"Makasih banyak atas sambutannya Pak Kepala Pelayan," ketusnya Pak Rusdian dengan menekan perkataannya yang paling ujung.


Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.


Vanesa hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Mama mertuanya. Ia sering khawatir sendiri dan ketakutan jika mengingat kembali perkataan Nyonya Dwi saat ia hamil lima bulan.


"Kenapa aku perhatiin Mama hanya menyayangi Samudera sedangkan dengan Angkasa hanya sekedar apa adanya saja," batinnya Vanesaa yang merasa heran dengan perlakuan dan sikapnya Nyonya Dwi terhadap ke dua putra kembarnya.


Ariel yang baru masuk kedalam kamarnya dan mendapati istrinya sedang melamun sambil menatap ke arah bayinya yang tertidur pulas. Aril berinisiatif segera memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Apa yang dilakukan oleh Aril hal itu membuat Vanesaa tersentak terkejut.


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."

__ADS_1


__ADS_2