
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah kamar pribadi yang cukup mewah dengan fasilitas penunjangnya. Seorang perempuan yang baru selesai memakai pakaiannya karena baru mandi pagi berteriak.
"Aaaaaahhhh Mas Arieli sakit!! Pekiknya yang berteriak kencang saking sakitnya dibagian perut bawahnya yang buncit itu.
Setelah sarapan menyantap makanan yang sungguh lezat dan menggugah selera makannya, Ariel berjalan ke arah ruangan pribadunya tempat ia selalu bekerja jika berada di rumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar istrinya.
Aril sedang memeriksa beberapa berkas pekerjaannya tanpa sengaja mendengar suara teriakan yang cukup besar dan melengking dari arah kamar pribadinya.
"Apa itu suaranya Vaneesa yah? karena sumber suaranya sepertinya dari arah dalam kamarku!" Gumamnya Aril.
Aril lalu bergegas berdiri dan menyimpan berkasnya dengan serampangan tanpa peduli dengan berkasnya itu lagi saking khawatir dan cemasnya dengan keadaan istrinya itu. Dia segera menghentikan aktivitasnya lalu berlari ke arah atas tepatnya di kamarnya.
"Ya Allah… semoga saja istriku baik-baik saja," cicitnya Ariel.
Ia menaiki undakan tangga dengan langkah kakinya yang cukup panjang dan lebar, kemudian mendorong kuat pintu kayu jati bercat putih itu. Dengan sekuat tenaga, hingga pintu itu berhasil terdorong dan terbuka
Padahal tanpa Aril mendobrak pintu itu, pintunya akan terbuka dengan mudah karena kebetulan tidak terkunci. Aril mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya, tapi tidak melihat keberadaan dari Vanesaa yang tadi berteriak histeris memanggil namanya.
"Sayang!! Vanessa!! Kamu ada di mana? Vanessa!!!" Teriak Aril.
Hingga sudut ekor matanya melihat Vanesaa sudah terbaring di atas lantai keramik. Tubuhnya Vanesaa disekujur tubuhnya dengan kucuran darah menetes membasahi pahanya hingga pakaiannya sudah penuh dengan noda merah.
"Ya Allah apa yang terjadi padamu sayang!!" Pekik Aril lalu segera menggendong tubuh istrinya lalu berjalan tergesa-gesa menuruni tangga.
"Mark!! Matius persiapkan mobil, Nyonya Muda akan melahirkan!!" teriaknya Aril seraya menggendong istrinya.
Mark Thompson dan Matius Smith adalah asisten pribadinya sekaligus anak dari pamannya yang masih ada hubungan kekerabatan walaupun sudah jauh itu.
__ADS_1
Mark dan Matius tanpa banyak pikiran segera melaksanakan perintah dari Ariel. Beberapa maid yang melihat dan mendengar hal tersebut segera berlari ke arah kamar bayi yang sudah dipersiapkan oleh mereka sebelumnya.
"Nyonya Vanesaa akan melahirkan!! ayo cepat persiapkan semua kebutuhannya!" Teriaknya Asti asisten rumah tangganya yang akrab dengan Vanesaa.
Asti dan Maid lainnya mengambil beberapa tas yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, jika Nyonya Muda mereka akan melahirkan, tanpa diperintah terlebih dahulu.
"Tuan Muda,ini perlengkapan bayi kembarnya Nyonya Muda," jerit Asti dan Ayu yang berlari tergopoh-gopoh ke arah mobil yang sudah ada di dalamnya Nafeesa yang terbaring lemah.
Vaneesa menarik lengan bajunya Ariel dengan mengeluh, "Mas!! sakit sekali," keluhnya Vanesaa yang memegang perutnya yang semakin membuncit dari hari ke hari.
"Ayu! tolong telpon Nenek katakan padanya jika, istriku akan melahirkan, cepat!" Teriak lalu mobilnya melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Mobil itu membelah jalan ibu kota Berlin dengan kecepatan yang sangat tinggi. Wajahnya sudah pucat pasi menahan rasa sakitnya akan melahirkan, peluh keringat membasahi pipi dan seluruh tubuhnya.
Sesekali ia meringis kesakitan saat ada kontraksi yang terjadi dari dalam rahimnya. Sedangkan Aril sangat ketakutan dan khawatir melihat kondisi dari istrinya yang sudah tidak baik-baik saja.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan pintu masuk rumah sakit. Beberapa perawat yang melihat kedatangannya yang sudah mempersiapkan bangkar dan ruangan khusus untuk bersalin, sesuai dengan yang diperintahkan oleh dokter Bernetta yang ditugaskan oleh Nyonya Dwi menangani kesehatan dari kandungannya Vanesaa.
"Tolong dokter selamatkan istri dan anak-anakku," cercanya Ariel dengan wajahnya yang sudah memucat ketakutan karena hal ini yang pertama kalinya melihat seseorang wanita akan melahirkan.
Aril sebenarnya dalam kondisi yang tidak sehat gara-gara terkejut dengan kondisi istrinya, tapi ia menutupi dan menyembunyikan kenyataan jika penyakitnya kambuh disaat istrinya akan melahirkan.
"Bawa segera ke dalam ruangan operasi, ayo cepat, Nyonya Vanesaa tidak mungkin bisa lagi untuk melahirkan dengan normal sesuai dengan keinginan awalnya," terang dokter yang ikut berlari mendorong bangkar yang sudah ada di atasnya Vanesaa.
Sakti tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan buah hatinya dan istrinya tersayang. Baru sekitar dua hari yang lalu, Aril menjelaskan kepada istrinya tentang penyakitnya yang dirinya tidak normal jika berhubungan suami istri dengan masalah ranjang. Dia tidak bisa memuaskan istrinya dikarenakan ukuran size dari bagian intimnya yang tidak normal sesuai ukuran pria dewasa lainnya.
Awalnya Aril sangat ketakutan dan khawatir tapi setelah berterus terang, Vanesaa sangat mengerti dengan kekurangan suaminya itu. Aril sangat bahagia dan bersyukur karena Vanesa bisa mengerti dan menerima segala keganjilan yang dimilikinya tanpa protes atau pun marah.
__ADS_1
"Ya Allah… selamatkan lah anak-anak dan Istriku," gumamnya yang ingin masuk ke dalam ruangan operasi tapi, segera dihentikan langkahnya oleh perawat.
"Stop Pak!! Anda tidak bisa masuk ke dalam ruangan, itu sama saja dengan mengganggu pekerjaan kami," tutur Suster yang melarang Aril buntuk masuk ke dalam.
Nyonya Dwi Handayani dan Priska pun sudah datang di rumah sakit, "Priska! Apa semua yang aku katakan padamu sudah kamu laksanakan dengan baik dan aman?" Tanyanya yang berjalan tergesa-gesa karena tidak ingin terlambat.
"Semuanya sudah aku laksanakan sesuai dengan apa yang Nyonya arahkan dan perintahkan kepadaku," jawab Priska dengan seulas senyum tipisnya.
"Oke, kerjakan secepatnya dan jangan biarkan ada kesalahan sedikit pun, karena keadaan Nafeesa bisa membantu kita menjalankan dan memudahkan rencana kita kedepannya," terangnya Nyonya Dea yang semakin menambah kecepatan langkahnya.
"Maafkan aku Nyonya untuk kali ini aku tidak bisa menjalankan rencana dan tugas yang Nyonya berikan padaku untuk melakukannya sesuai rencana awal, aku tidak tega melakukannya," Priska membatin.
Priska segera meninggalkan Nyonya Dwi tepat di depan belokan lobby rumah sakit, " Tuhan lindungilah mereka dan semoga mereka baik-baik saja dan selamat," lirihnya Priska.
Sedangkan di tempat lain yang masih dalam area wilayah negara Jerman, Syailendra tanpa izin dari kedua orang tuanya dan keluarganya, dia mengambil kunci mobilnya untuk meninggalkan rumah itu setelah dinyatakan sembuh dari sakitnya.
"Kenapa hatiku tiba-tiba gelisah dan seolah-olah ada hal besar yang akan terjadi," batin Endra lalu memutar stok kontak mobilnya.
Tiga bulan lebih di rawat dan diterapi di salah satu Rumah Sakit Swasta termahal yang ada di Kota Berlin Jerman.
"Aku yakin dengan sangat, kalau istriku Vanesaa ada di Jerman, aku akan mencarinya hingga ketemu," cicitnya Endra.
"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun karena yang menyukaimu Tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu."
Keikhlasan mengantarkan kamu ke pintu yang dinamakan kesuksesan.
Bukan karena dia kuat, tapi karena Tuhan yang maha kuat bersama dengan langkahnya.
__ADS_1