
Ibu Helma merasa sedih melihat cucu kesayangannya itu yang sakit gara-gara kemarin bermimpi melihat mamanya dan sangat merindukan kehadiran seorang sosok ibu di sampingnya.
"Ya Allah… kenapa semakin hari semakin aku melihat wajahnya perpaduan antara Syailendra putraku dengan Vanesaa ada di dalam wajahnya cucuku Starla yang seakan-akan ara adalah putri kandungnya Endra sendiri bukan anak angkatnya," batin Bu Helma.
Sendok yang berisi makanan itu terpaksa Bu Helma letakkan ke atas piringnya yang masih penuh dengan berbagai lauk pauk makanan yang sedikit pun belum tersentuh oleh mulutnya dan dimakan oleh yang punya makanan.
Bu Helma melihat ke arah pintu masuk rumahnya, "Kenapa Endra lama sekali? Padahal tadi katanya sudah ada di jalan mau pulang," keluh Bu Helma sembari memeriksa keningnya Ara yang suhu panasnya semakin meningkat saja.
Pak Abimanyu yang melihat istrinya yang sedang kebingungan dan khawatir segera berusaha untuk menenangkan istrinya.
Pak Abi mengelus punggungnya istrinya, "Ibu tenanglah, mungkin Endra sudah hampir sampai di rumah, Starla kan sudah minum obat insha Allah panasnya akan segera turun dan kondisinya akan segera membaik, jadi Mas minta kamu jangan terlalu banyak pikiran dan Mas minta sama kamu bersabarlah," terangnya yang berusaha membujuk Istrinya agar lebih sabar lagi.
Bu Helma melirik sekilas ke arah suaminya beradap sambil berucap, "Mas! bagaimana kalau coba telpon lagi nomornya untuk tanya dia sudah sampai atau belum," pinta Bu Helma yang menyodorkan hpnya ke tangan suaminya.
"Baiklah Mas akan hubungi lagi nomor hpnya Endra sekali lagi semoga ia sudah pulang dan di jalan," timpalnya Pak Abi yang menuruti permintaan dari istrinya itu.
__ADS_1
Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan segera tinggalkan pesan setelah nada suara bit berikut. Hanya ini yang selalu ia dengar jika, menghubungi nomor putra sulungnya itu.
Pak Abi menghela nafasnya dengan kasar,. "Hpnya Endra tidak aktif dan susah untuk dihubungi Bu," tuturnya Pak Abi.
Sedangkan di tempat lain…
"Ya Allah… apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Mama tega sekali melakukan semua ini hanya karena harta semata!" Lirihnya Ariel yang masih kebingungan, tidak percaya, dan juga tidak menyangka dengan kenyataan yang ada di hadapan matanya.
Ariel yang sangat tidak habis pikir jika Mamanya yang selama ini dianggap malaikat ternyata, dia adalah penyebab dari kehancuran keluarganya sendiri hingga kematian berencana kepada mama dan papa angkatnya.
"Aku sangat berterimakasih kasih kepada Papa Permana yang telah sudi dan berbaik hati mengulurkan tangannya untuk mengadopsiku dan mengangkat aku sebagai cucunya sendiri bahkan sama sekali tidak ada orang yang berbicara sedikit pun jika aku hanya anak dan cucu pungutnya," Cicitnya Aril.
"Aaahh!! Sakit!!" Pekiknya Aril saat tiba-tiba dadanya sangat sakit.
Ariel refleks memegang bagian dadanya itu dengan meremas pakaiannya.
__ADS_1
"Kenapa penyakitku tiba-tiba kambuh padahal aku selalu rutin meminum obat yang diberikan oleh dokter rekomendasi Mama?" Keluhnya yang tidak menyangka jika penyakitnya harus kambuh disaat dia mengendarai mobilnya.
Mobilnya semakin melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia tidak tahu ada apa dengan mobilnya, remnya tiba-tiba blong dan dadanya juga semakin sakit saja.
"Obatku ada di mana? Apa mungkin ada di dalam laci dashboard mobilku?" Gumamnya yang kebingungan mencari obatnya di dalam dasboard mobilnya.
Dia membungkukkan sedikit badannya untuk memudahkan tangannya meraih laci mobil. Tangannya yang satu masih setia menyetir dan memegang kemudi mobilnya. Ariel sudah membongkar seluruh isi lacinya hingga tak tersisa satupun benda yang ada di dalam sana.
"Seingat aku tadi masukkan satu botol obatku, tapi kok sudah tidak ada? Padahal aku sangat jelas mengingatnya, apa anak-anak yang mainin, tapi itu tidak mungkin," cicitnya yang keheranan dengan obatnya yang tiba-tiba menghilang di tempat penyimpanan seperti biasanya.
Vanessa menolehkan wajahnya ke arah Ibu mertuanya, "Mas Ariel sepertinya ada di depan Nek, kalau tidak salah dengar katanya sih sudah banyak tamu yang datang relasi bisnisnya yang ada di Amerika Serikat," terang Vanesa yang menyusui putra pertamanya.
"Ingat jaga baik-baik mereka berdua, Mama tidak ingin dengar dan tahu jika cucuku kekurangan apa pun atau ada yang terjadi padanya," tutur Bu Dwi yang bernada ancaman di hadapan Vanesa.
Ia masih mengacak-acak isi dasboard mobil baru yang ia beli beberapa hari yang lalu. Dia masih kebingungan mencarinya tapi, tanpa tidak terduga ada mobil yang berlawanan arah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi pula.
__ADS_1
Aril melihat hal tersebut berusaha mencoba untuk menghindari mobil sedan Corolla Altis itu dengan membanting setirnya ke kanan, tapi naas ternyata mobil dengan ukuran yang lebih besar menabraknya dengan kecepatan sangat kencang hingga tabrakan pun tak terelakkan lagi.
Ariel melototkan matanya melihat ada mobil yang berjalan dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju ke arahnya, "Aaaahhhh Vanesaa!!" Pekiknya sebelum mobilnya terbalik beberapa kali.