
Hahahaha," kenapa? Aahh apa kamu ingin mengetahui alasanku haaa!!" Bentaknya Bu Dwi dengan tawanya yang membahana.
Angkasa tanpa pikir panjang ia spontan menganggukkan kepalanya ke arah Nyonya Dwi dengan sesekali melap air matanya yang terus membasahi pipinya.
"Jawabnya dan alasannya, adalah karena kamu anak pembawa sial dan juga penyakitan dan hanya Samudera lah cucuku seorang tidak ada yang lain lagi," sarkas Nyonya Dwi dengan suara yang cukup lantang di depannya Angkasa.
Angkasa tersentak terkejut dan tubuhnya terhuyung dan terdorong kebelakang mendengar penjelasan dan amarahnya Bu Dwi wanita yang sudah sejak dulu ia sayangi dan cintai karena baginya Bu Dwi adalah neneknya sendiri yang mendengar perkataan dari Nyonya Dwi langsung terdiam dan semakin mengeraskan suara tangisannya.
"Kami kan anak kembar kenapa aku bukan cucunya Nenek sedangkan Samudera adalah masih menjadi cucunya nenek?" Tanya lagi dengan lugu.
"Benar sekali apa yang kamu katakan, Iya kalian kembar memang tapi, aku sama sekali dari dahulu tidak pernah menganggapmu sebagai anggota keluargaku lebih-lebih sebagai cucuku, jadi mulai detik ini pergi jauhlah dan enyhlah dari hidupku jangan sekali-kali muncul di depan kami lagi!! Camkan baik-baik semua perkataanku ini," geramnya Bu Dwi secara jelas dengan senyuman licik yang selalu menghiasi wajahnya itu yang masih sedikit muda diusianya yang sudah kepala lima.
__ADS_1
Nyonya Dwi dengan menarik dagunya Angkasa dengan cukup kuat hingga Angkasa meringis menahan perihnya kukunya Bu Dwi yang mengenai permukaan kulitnya itu. Dia lalu segera menghempaskan tubuh kecilnya Angkasa hingga terjatuh tepat di atas pusaranya Ariel yang dipenuhi oleh taburan bunga.
Angkasa tidak putus asa dan menyerah dia kemudian bangkit lalu kembali berlari ke arah mereka berdua dan menarik tangannya Samudera dengan sekuat tenaganya.
"Apa salahku padamu Nenek, kenapa Nenek tidak menyayangiku dan sangat membenciku?" Tanyanya Angkasa yang sangat ingin mengetahui alasan dibalik keputusan Nyonya Dwi Handayani.
Nyonya Dwi semakin murka dengan ulahnya Angkasa, andai saja Pak Ruslan ada di tempat mungkin hal ini tidak akan terjadi dan segera dicegah oleh pengacara keluarga besar Permana. Pak Rusdianto mendatangi rumahnya pengurus pemakaman umum itu untuk meminta bantuan kepada pihaknya agar menjaga dan merawat makamnya Aril sehingga peristiwa ini terjadi
Nyonya Dea menatap jengah ke arah Daffa," kamu masih kecil kamu tidak tahu apa-apa dan diamlah karena kamu tidak ada hubungannya dengan Daffin dan aku lagi, kamu bukanlah cucuku tapi hanya Daffin seorang!" Bentak Nyonya Dea dengan tega berkata seperti itu.
Beberapa orang yang masih kebetulan ada di sana terkejut setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Nyonya Dea. Mereka saling berbisik dan bertatapan dengan keheranan.
__ADS_1
"Apa seperti ini sifat aslinya Nyonya Dea yang tidak punya perasaan dan rasa iba sedikit pun?" Prita membatin dan tidak menyangka jika ternyata Nyonya dea adalah ular berkepala dua.
"Kalian yang ada di sini tolong secepatnya bubar dan tinggalkan kami di sini," geram Nyonya Dea.
Semua orang yang mendengar suaranya nyonya Dea yang cukup terbilang kasar itu membuat mereka harus segera berjalan meninggalkan area lokasi tempat pemakaman umum itu dengan berbagai pikiran yang berbeda-beda.
Tubuh Angkasa spontan langsung tergerak mundur kebelakang saat mendengar hinaan dan cacian yang dilayangkan oleh Nyonya Dwi hanya untuknya seorang. Tangannya mencengkram erat genggaman tangannya. Anak sekecil itu dipaksa untuk mengetahui hal seharusnya mereka tidak perlu ketahui secara dini dan begitu cepatnya.
"Mami Au-drey Va-ne-sa!!" Pekiknya Angkasa lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tanah pusara yang masih basah kemudian terduduk di atas pusara papinya saat Nyonya Dwi sudah meninggalkan area pemakaman umum tersebut beserta rombongan antek-anteknya itu.
Sedang Pak Rusdianto tadi meminta ijin untuk bertemu dengan pengurus makam tersebut. Sehingga semua yang terjadi kala itu lupuk dari pengamatan, penglihatan serta pendengarannya.
__ADS_1
Ternyata apa yang terjadi di pemakaman umum tersebut masih bisa dilihat dengan jelas oleh beberapa pelayak yang memenuhi sekitar pemakaman umum itu, walaupun mereka hanya mampu dan sanggup untuk terdiam membisu menjadi penonton saja tanpa ada yang berniat untuk berani menolong Angkasa dan Samudera.