Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 120


__ADS_3

Vanesaa dibuat tersentak kaget mendengar hal itu walaupun dia sudah mengetahui hal itu jauh-jauh hari sebelum kematian Aril Permana Pradipto. Itu sebagai syarat untuk keselamatan dari Angkasa dan Samudra endiri.


"Ya Allah… ternyata Nyonya Dwi melakukan hal itu padahal aku pikir itu hanya gertakan dan ancaman biasa saja, ternyata Nyonya Dwi sungguh kejam dan tidak punya hati nurani," lirihnya Vanesa dengan air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya.


Dua maid yang melihat kehancuran dan kesedihan Vanesaa tersentuh dan ikut sedih dengan peristiwa serta kejadian yang menimpa mereka karena disebabkan oleh Nyonya Dwi Handayani.


Aida menerawang jauh,"Kenapa yah,aku berpikir jika semua ini adalah taktik dan campur tangan Nyonya Dwi lah orangnya yang sengaja melakukan hal ini karena harta," batinnya Aida sambil menyeka air matanya.


"Kenapa ada orang di dunia ini yang sangat jahat rela melakukan apapun demi uang padahal harta dan uang itu tidak dibawa mati," cicitnya Aimah yang menggenggam sendok makannya dengan kuat saking marahnya dengan kejahatan dari Nyonya Dwi.


"Kalau seperti itu kejadiannya, aku hanya bisa bersabar dan banyak berdoa untuk keselamatan putraku Samudera, moga saja Nyonya Dwi Handayania menjaga Samudera setulus hatinya," harapnya Audrey Vanessa yang menundukkan kepalanya dan berusaha untuk menahan tangisnya.


Dia tidak ingin putra sulungnya itu ikut terpengaruh dengan kesedihan, kegalauan dan kegundahan hatinya harus berpisah jauh dari anak keduanya itu. Angkasa berjalan ke arah Maminya lalu memeluk tubuh Vanesaa dengan erat.


"Mami jangan nangis lagi, aku akan cari adikku Samudera kalau nanti aki sudah besar," bujuk Angkasa di depan perempuannya yang telah berjasa melahirkannya kedunia ini.


Vanesa dibuat terharu dengan perkataan dari anaknya, dia pun berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya sangat hancur dan kacau balau. Sedih, kecewa,sakit hati dan kehilangan rasa itu bercampur satu dalam bagian di dalam hatinya.


"Aku harus bisa tegar dan kuat menghadapi semua ini, karena aku yakin Allah SWT selalu bersama orang yang selalu bersabar dan tak pernah putus asa," lirihnya Vanesaa lalu menyeka air matanya yang sesekali membasahi pipinya itu.

__ADS_1


Tidak ada satu pun orang yang hidup di dunia ini yang menginginkan kejelekan di dalam hidupnya. Tapi, semua itu tergantung takdir yang sangat berperang penting. Manusia hanya bisa berencana, berikhtiar, berdoa serta tawakal kepada Allah SWT.


"Aida! Tolong kemas seluruh pakaian dan barang-barangnya Nyonya Muda, kita akan pulang ke rumahku," perintah Pak Rusdianto lalu menatap ke arah Aida.


Aida dan Aimah segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh Pak Ruslan tanpa banyak bicara lagi.


"Maksudnya Paman? Kenapa harus pulang rumahnya Paman? Kan masih ada rumahnya Mas Ariel," ungkap Vanesaa dengan wajah keheranan serta kebingungan dalam waktu yang bersamaan.


Pak Rusdianto melirik sekilas ke arah Vanesa berada seraya menjawab pertanyaan dari Vanesaa,"Nyonya Dwi memasang segel di depan pagar rumah kamu, dia Ingin menjual rumahmu itu dan bahkan semua maid dan security yang bekerja di sana dipecat tidak hormat oleh Nyonya Dwi hingga rumah itu hanya tersisa anak buahnya Bu Dwi ibu mertuamu," terang Pak Ruslan yang sebenarnya tidak ingin mengatakan hal itu.


"Apa! Dipecat!" Aimah membeo yang mulutnya menganga saking terkejutnya dan tidak percaya dengan perbuatan dari Nyonya Dwi yang tega memecat mereka dengan tanpa pemberitahuan dan pesangon.


"Maafkan Paman yang tidak bisa berbuat lebih untuk membantu kalian karena kekuasaan Nyonya Dwi untuk saat ini tidak bisa melawannya karena walaupun paman sudah berusaha pasti akan berakhir dengan kegagalan," jawab Pak Ruslan dengan kecewa.


"Tidak apa-apa Paman, kalau gitu antar saya ke jalan ini Paman, bagaimana dengan kalian apa mau ikut bersamaku dengan keadaan yang seperti ini, aku berikan kalian kebebasan untuk memilih," pintanya Vanesaa dengan wajahnya yang sendu tapi,ia berusaha untuk menyembunyikan perasaan sedihnya itu.


"Kami akan selamanya ikut bersama dengan Nyonya Muda kemanapun pergi kami akan pergi jauh dari hidupnya Nyonya jika Anda yang menginginkan kami untuk membuang pergi," sahut Aida dengan mantap.


"Kalau gitu, kita berangkat ke rumahnya Bu Laila Rimah Sari sekarang juga, Paman sudah urus semuanya jadi tinggal berangkat ke sana saja," tuturnya Pak Ruslan.

__ADS_1


Flashback off…


Vanessa yang duduk di sofa ruang tamunya buru-buru menyeka air matanya yang mewakili perasaannya betapa sedih dan hancur hatinya berkeping-keping jika diharuskan untuk kembali mengingat kejadian beberapa tahun silam. Sejak ia mulai menikah dengan mantan suaminya Syailendra Arkana Aryasatya Abimanyu dan juga almarhum suaminya yang kedua Ariel Permana Pradipto.


"Ya Allah... papa Abimanyu sudah bertemu denganku dan kebetulan beliau adalah salah satu pemegang saham di perusahaan Intex Bintang Internasional Group, bagaimana jika suatu hari nanti ia melihat Angkasa dan mengetahui jika Angkasa adalah cucunya, aku takut mereka akan merebut anakku dari sisiku," gumamnya Vanesa yang mulai khawatir jika bertemu kembali dengan Syailendra.


Dengan berbagai perasaan yang berbeda-beda yang hadir di dalam diri masing-masing.


Setiap yang namanya manusia pasti akan mengalami yang namanya ujian. Allah SWT tidak akan menguji umatnya melebihi dari batas kemampuannya.


Tingkat kesabaran setiap manusia itu berbeda-beda, tapi kesabaranlah yang tidak terbatas.


Saat kita menanam padi, akan selalu ada rumput yang ikut tumbuh apalagi jika yang kita tanam adalah rumput, tidak akan ada padi yang ikut tumbuh.


Begitulah hidup kebaikan yang kita tanam tak selalu tumbuh kebaikan pula, bagaimana jika yang kita tanam adalah keburukan, tak akan ada kebaikan yang tumbuh.


Tapi dunia ini di penuhi orang-orang baik, jika kita tak bisa menemukannya maka jadilah salah satunya.


Kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan hanya sebagai pendamping hidup, melainkan kita harus belajar banyak hal darinya.

__ADS_1


"Aku serahkan semua ini padamu ya Allah... aku hanya berharap agar aku bahagia dengan istriku," bathin sambil nyeka keringat dan air mata.


__ADS_2